9 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Ritel Kripto Asia Mundur, Institusi Masuk — Laba Bursa Korsel Turun 78%
Forex & Crypto

Ritel Kripto Asia Mundur, Institusi Masuk — Laba Bursa Korsel Turun 78%

Tim Redaksi Feedberry ·8 Oktober 2026 pukul 22.35 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
5.7 Skor

Pergeseran struktur pasar kripto Asia dari ritel ke institusi terkonfirmasi data, tetapi dampak langsung ke ekonomi riil Indonesia bersifat tidak langsung dan bergantung pada arah regulasi OJK.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Volume transfer stablecoin peer-to-peer di China menambah US$4,9 miliar pada Maret 2026 — kenaikan bulanan terbesar yang tercatat, dengan jumlah dompet melonjak 43 kali lipat.

Di sisi lain, Chainalysis menempatkan Korea Selatan sebagai ekonomi kripto terbesar di Asia Timur dengan nilai US$449,1 miliar, tumbuh 12,3% dalam setahun hingga Juni 2026. Preferensi ritel Korea terlihat kuat pada token yang terkait kecerdasan artifisial (AI), bukan pada aset kripto lapis pertama yang mapan. Angka agregat itu menyembunyikan retakan di level ritel. Sepanjang semester pertama 2026, laba operasional bursa kripto Korea Selatan turun 78%. Unit Intelijen Keuangan Korea (KoFIU) mencatat volume perdagangan harian rata-rata bursa aset virtual domestik merosot 44% dari enam bulan sebelumnya, kapitalisasi pasar turun 33%, dan simpanan berdenominasi won menyusut 35%. Penjualan bursa menurun 41% pada periode yang sama — sementara jumlah akun yang memenuhi syarat untuk bertransaksi justru naik tipis 0,4%.

Kombinasi ini menandakan basis pengguna melebar, tetapi likuiditas ritel justru mengering. Akun bertambah, aktivitas berkurang: pola khas pasar yang kehilangan tenaga spekulatif, bukan pasar yang kehilangan minat. Sementara ritel mundur, lapisan institusional justru bergerak agresif. Securitize menjalin nota kesepahaman dengan LG CNS untuk mengembangkan aset ter-tokenisasi dan infrastruktur aset digital bagi lembaga keuangan Korea Selatan — tepat ketika otoritas jasa keuangan setempat mengusulkan aturan penerbitan dan peredaran saham, obligasi, reksa dana, serta sekuritas lain yang ter-tokenisasi, dengan kerangka berlaku Februari 2027. Standard Chartered menyiapkan layanan kustodi aset digital bagi klien institusional di Singapura.

Induk Kraken, Payward, bersama Singapore Gulf Bank menghadirkan penyelesaian kripto institusional 24 jam, sementara Independent Reserve menambahkan alat pembayaran lintas batas dengan opsi USDC dan USDT ke lebih dari 20 mata uang. Peta ini menunjukkan pasar kripto Asia sedang berbelah dua: ritel kelelahan, institusi masuk lewat jalur regulasi. Yang tidak terlihat dari headline: lonjakan P2P stablecoin China terjadi di tengah larangan yang masih berlaku. Permintaan dolar digital tidak hilang — ia berpindah ke kanal yang sulit diawasi, memindahkan volume dari bursa terdaftar ke dompet dan jalur peer-to-peer. Pola ini sejalan dengan temuan WTO yang menempatkan fragmentasi regulasi sebagai penghambat utama adopsi stablecoin resmi.

Bagi Indonesia, pasar kripto ritel aktif dan pengawasan aset digital masih dalam proses transisi, sehingga kombinasi ritel domestik yang berpotensi mengering dan institusi global yang mempercepat masuk menjadi sinyal yang layak dicermati. Dengan IHSG di 6.031 dan USD/IDR di 17.890, insentif memegang instrumen berdenominasi dolar tetap besar — dan kanal stablecoin menawarkan jalur substitusi simpanan yang lebih senyap dibanding bursa terdaftar.

Mengapa Ini Penting

Penurunan laba bursa Korea Selatan 78% bukan sekadar koreksi siklus, melainkan sinyal bahwa model bisnis berbasis volume ritel spekulatif sedang kehilangan landasan. Masuknya Securitize, Standard Chartered, dan Kraken ke lapisan institusional menunjukkan nilai pasar kripto bergeser dari tempat perdagangan ke infrastruktur kustodi dan penyelesaian. Bagi Indonesia, ini memindahkan medan persaingan: bursa lokal yang selama ini bertumpu pada ritel akan menghadapi tekanan struktural yang sama, sementara bank dan penyedia kustodi domestik berpotensi menjadi pemain kunci berikutnya.

Dampak ke Bisnis

  • Bursa kripto lokal dan pengelola platform aset digital menghadapi risiko perlambatan volume ritel. Jika pola Korea terulang — akun bertambah tetapi transaksi menyusut — pendapatan berbasis biaya transaksi akan tertekan, sementara biaya kepatuhan tetap berjalan. Sektor yang tidak disebut artikel tetapi terdampak langsung: fintech pembayaran dan agregator harga aset digital.
  • Lembaga keuangan tradisional Indonesia — bank dan manajer investasi — berpotensi mendapat kanal baru lewat model kustodi teregulasi yang kini diuji Standard Chartered di Singapura dan Securitize di Korea. Sebaliknya, operator remitansi konvensional dan money changer menghadapi tekanan margin bila penyelesaian lintas batas berbasis stablecoin masuk ke koridor Asia Tenggara.
  • Dalam 3-6 bulan ke depan, dampak yang sering terlewat adalah pergeseran simpanan domestik ke instrumen dolar digital. Kanal stablecoin mempermudah perpindahan nilai lintas batas tanpa melalui sistem perbankan yang dapat dipajaki penuh — sinyal yang relevan bagi Bank Indonesia dalam merancang kerangka Rupiah Digital dan pengawasan aset digital.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pengajuan aturan sekuritas ter-tokenisasi Korea Selatan — kerangka yang berlaku Februari 2027 menjadi cetak biru pertama di Asia Timur dan biasanya menjadi rujukan tidak resmi bagi regulator regional, termasuk Indonesia.
  • Risiko yang perlu dicermati: pergeseran volume kripto dari bursa terdaftar ke kanal peer-to-peer dan dompet self-custodial — jika tren China berlanjut, penelusuran transaksi dan potensi penerimaan pajak digital ikut tertekan.
  • Sinyal penting: volume perdagangan pasangan stablecoin di bursa kripto lokal serta arah kebijakan otoritas terhadap kustodi aset digital — keduanya menjadi indikator awal apakah pola ritel-mundur/institusi-masuk mulai merambat ke Indonesia.

Konteks Indonesia

Meski artikel tidak menyebut Indonesia, pasar kripto ritel Indonesia termasuk aktif dan pengawasan aset digital sedang bertransisi — relevansi bersifat struktural, bukan langsung. Dua sinyal berpotensi menular. Pertama, pola Korea Selatan memperlihatkan bahwa pertumbuhan jumlah akun tidak selalu diikuti aktivitas transaksi; bila pola serupa muncul, bursa kripto lokal menghadapi tekanan pendapatan dari biaya transaksi. Kedua, model kustodi teregulasi yang dikembangkan Standard Chartered di Singapura dan Securitize di Korea Selatan adalah cetak biru yang cepat ditiru pemain global; bila masuk ke koridor Asia Tenggara, bank dan lembaga keuangan Indonesia yang belum memiliki kerangka kustodi aset digital berisiko kehilangan kanal bernilai tinggi. Lonjakan P2P stablecoin China di tengah larangan juga menjadi pengingat bahwa permintaan aset dolar digital tidak hilang saat dibatasi — ia berpindah ke jalur yang lebih sulit diawasi, yang relevan bagi desain pengawasan dan pajak aset digital domestik serta pengembangan Rupiah Digital BI. Perlu dicatat bahwa kerangka regulasi aset digital global tidak otomatis berlaku di Indonesia tanpa konfirmasi otoritas domestik.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.