25 JUL 2026
RI Rundingkan 11 Perjanjian Dagang Baru, Termasuk ART dengan AS

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / RI Rundingkan 11 Perjanjian Dagang Baru, Termasuk ART dengan AS
Kebijakan

RI Rundingkan 11 Perjanjian Dagang Baru, Termasuk ART dengan AS

Tim Redaksi Feedberry ·24 Juli 2026 pukul 20.45 · Sinyal tinggi · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
8 Skor

Negosiasi dagang baru, khususnya ART dengan AS, krusial di tengah tarif AS 10% dan tekanan defisit APBN; dampak luas ke ekspor, biaya impor, dan iklim investasi.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
9
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
13 Perjanjian Dagang Baru (termasuk ART dengan AS)
Penerbit
Kementerian Perdagangan RI
Perubahan Kunci
  • ·Indonesia merundingkan 11 perjanjian dagang baru, termasuk ART dengan AS yang menyediakan akses preferensial untuk 1.809 pos tarif.
  • ·Melalui ART, ekspor Indonesia ke AS (sebesar US$30,9 miliar) mendapat keistimewaan tarif yang diharapkan dapat meningkatkan daya saing.
  • ·Penurunan tarif impor untuk bahan baku seperti gandum dan kedelai untuk menekan biaya produksi dalam negeri.
Pihak Terdampak
Eksportir Indonesia (kakao, tekstil, alas kaki, furnitur, dll.) yang akan menikmati akses pasar lebih luas.Importir bahan baku pangan (gandum, kedelai) yang mendapatkan biaya impor lebih murah.Produsen lokal bahan baku (petani kedelai) yang berpotensi tertekan oleh impor murah.Pemerintah Indonesia dan AS sebagai perunding.

Ringkasan Eksekutif

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengumumkan bahwa Indonesia sedang merundingkan 11 perjanjian dagang baru, termasuk Agreement Reciprocal on Trade (ART) dengan Amerika Serikat. Saat ini Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian dagang dan dua lainnya dalam proses ratifikasi. ART dengan AS dinilai sangat penting karena AS merupakan pasar ekspor terbesar Indonesia, dengan nilai ekspor mencapai US$30,9 miliar atau sekitar 11% dari total ekspor nasional. Melalui ART, Indonesia mendapat akses istimewa untuk 1.809 pos tarif, termasuk produk kakao. Budi menegaskan bahwa perjanjian dagang bertujuan menghilangkan hambatan tarif dan non-tarif, sehingga memperlancar akses pasar ke luar negeri. Ia juga menyebut surplus perdagangan Indonesia dengan AS mencapai US$18,11 miliar — tertinggi dibanding mitra dagang utama lainnya.

Negosiasi ART sejatinya telah dimulai sejak 1996 melalui Trade Investment and Framework Agreement (TIFA), namun baru mencapai titik terang setelah sekitar 30 tahun, berkat diplomasi Presiden Prabowo. Dengan tarif impor yang lebih rendah, khususnya untuk bahan baku seperti gandum dan kedelai yang masih bergantung pada impor, Budi berharap biaya produksi dalam negeri dapat ditekan.

Langkah ini menjadi penting mengingat kondisi fiskal domestik yang ketat dan tekanan eksternal dari penguatan dolar AS serta kenaikan harga minyak global. Investor dan pelaku bisnis perlu mencermati bahwa keberhasilan ART dan 10 perjanjian lainnya akan sangat menentukan daya saing ekspor Indonesia, terutama di saat negara-negara mitra dagang mulai memberlakukan hambatan perdagangan baru. Dalam konteks ini, diversifikasi pasar dan akses preferensial menjadi kunci untuk menjaga surplus neraca perdagangan dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Mengapa Ini Penting

Perjanjian dagang ini bukan sekadar perluasan akses pasar, melainkan bantalan strategis di tengah tekanan proteksionisme global. Dengan AS yang baru saja memberlakukan tarif 10% pada sejumlah produk Indonesia (berdasarkan investigasi Section 301), ART menjadi instrumen untuk melindungi sebagian besar volume ekspor yang terancam. Keberhasilan ART juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi tawar dalam perundingan dengan mitra dagang lain, sekaligus menekan biaya impor bahan baku yang selama ini membebani sektor manufaktur. Ini adalah langkah struktural yang bisa memperbaiki daya saing jangka panjang, meskipun implementasinya membutuhkan waktu dan koordinasi lintas kementerian.

Dampak ke Bisnis

  • Eksportir produk kakao, tekstil, alas kaki, dan furnitur akan menjadi penerima manfaat utama dari ART, karena 1.809 pos tarif memberikan keunggulan kompetitif di pasar AS yang sebelumnya terhambat tarif tinggi. Perusahaan seperti BTIF (Budiman Tjokrosaputro) dan emiten berbasis ekspor lainnya bisa menikmati peningkatan margin.
  • Importir gandum, kedelai, dan bahan baku pangan lainnya akan mendapatkan keringanan biaya karena tarif impor yang diturunkan. Hal ini berpotensi menekan harga pangan olahan di dalam negeri, menguntungkan produsen makanan dan konsumen akhir. Namun, petani lokal kedelai mungkin menghadapi tekanan kompetitif jika impor menjadi lebih murah.
  • Pemerintah mendapat ruang fiskal tambahan melalui peningkatan volume perdagangan dan aktivitas ekonomi, yang dapat membantu mengurangi tekanan defisit APBN yang mencapai Rp240 triliun per Maret 2026. Namun, penurunan tarif juga berarti pengurangan penerimaan bea masuk dalam jangka pendek, sehingga perlu dikelola secara hati-hati.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil final negosiasi ART dengan AS, termasuk jadwal implementasi dan daftar lengkap produk yang mendapatkan penurunan tarif — ini akan menentukan seberapa besar eksportir Indonesia bisa bernapas lega di tengah tarif 10% yang sudah berjalan.
  • Risiko yang perlu dicermati: reaksi dari pelaku industri dalam negeri yang mungkin merasa dirugikan oleh pembukaan akses impor lebih luas, terutama sektor pertanian kedelai dan gandum. Jika tekanan proteksionisme domestik menguat, ratifikasi ART bisa tertunda.
  • Sinyal penting: apakah AS akan memberikan pengecualian penuh atas tarif Section 301 untuk produk yang masuk dalam ART, atau justru memperketat persyaratan asal barang (rules of origin). Keputusan ini bisa menjadi indikator niat baik kedua belah pihak dan akan langsung memengaruhi sentimen pasar obligasi dan saham Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.