Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Pendanaan startup fiber optik kecil namun menandai pergeseran strategis dalam konstruksi data center global — berpotensi mengubah peta lokasi investasi infrastruktur digital, termasuk di Indonesia.
- Seri Pendanaan
- SAFE note (pre-seed/seed)
- Jumlah
- US$22 juta
- Sektor
- Infrastruktur data center / teknologi hollow-core fiber
- Investor
- Rhapsody Venture PartnersBell Ventures Inc.Faster Than Glass LLC
Ringkasan Eksekutif
Relativity Networks mengumumkan pendanaan US$22 juta melalui SAFE note yang dipimpin oleh Rhapsody Venture Partners, Bell Ventures Inc., dan Faster Than Glass LLC. Perusahaan ini mengembangkan hollow-core fiber, teknologi yang meneruskan cahaya melalui ruang vakum di tengah kabel, bukan melalui kaca seperti fiber konvensional. Hasilnya, data dapat ditransmisikan 30% lebih cepat, dengan latensi berkurang dari sekitar lima mikrodetik per kilometer menjadi tiga setengah mikrodetik. Selain pendanaan itu, Relativity juga menerima pesanan lanjutan senilai US$40 juta dari sebuah hyperscaler global yang identitasnya dirahasiakan.
Mengapa Ini Penting
Kabar ini bukan sekadar soal kecepatan jaringan. Jika hollow-core fiber terbukti andal secara komersial, ia mengubah salah satu batasan paling mendasar pembangunan data center: jarak geografis. Latensi yang lebih rendah berarti pusat data bisa dibangun lebih jauh dari satu sama lain tanpa mengorbankan performa aplikasi AI yang butuh sinkronisasi. Bagi Indonesia yang tengah mengembangkan ekosistem data center, teknologi ini bisa memperluas daya saing sebagai lokasi alternatif di Asia Tenggara.
Dampak ke Bisnis
- Perusahaan data center di Indonesia perlu memantau adopsi hollow-core fiber karena dapat mengubah pertimbangan desain jaringan antar-kampus dan pemilihan lokasi yang selama ini dibatasi jarak dan latensi.
- Provider internet dan telekomunikasi lokal yang menggunakan kabel serat optik bawah laut atau darat dalam jangka panjang bisa terpengaruh jika teknologi baru ini memperbaiki efisiensi bandwidth atau latency pada rute tertentu.
- Dengan investasi data center global yang diperkirakan mencapai US$4 triliun hingga akhir dekade, persaingan menjadi lebih ketat; Indonesia perlu memastikan infrastruktur kelistrikan dan regulasi tidak menjadi penghambat ketika teknologi baru membuat lokasi semakin fleksibel.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: pengumuman uji komersial atau kontrak baru dari Relativity Networks dengan hyperscaler — ini menentukan apakah teknologi hollow-core fiber siap dipakai massal.
- Risiko yang perlu dicermati: jika teknologi ini baru mencapai skala kecil dalam waktu lama, dampaknya terhadap pasar data center Indonesia juga tertunda
- Sinyal penting: investasi data center global dan tren 'multi-campus' — jika semakin banyak operator mengadopsi arsitektur terdistribusi, Indonesia bisa lebih menarik sebagai lokasi karena memiliki area luas dan sumber energi.
Konteks Indonesia
Teknologi hollow-core fiber yang mengurangi latensi hingga 30% berpotensi mengubah peta pembangunan data center global, termasuk peluang bagi Indonesia sebagai lokasi data center regional. Dengan biaya transmisi yang lebih rendah secara latensi, wilayah dengan keterbatasan infrastruktur jaringan namun memiliki lahan dan sumber daya energi bisa menjadi kandidat baru. Namun, Indonesia masih perlu mengembangkan infrastruktur pendukung seperti konektivitas internasional, kepastian regulasi, dan pasokan listrik untuk benar-benar menarik investasi data center.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.