2 JUN 2026
Radiant Gagal Pulih, Likuidasi DeFi — Tekanan Reputasi Ekosistem Kripto Global

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Radiant Gagal Pulih, Likuidasi DeFi — Tekanan Reputasi Ekosistem Kripto Global
Forex & Crypto

Radiant Gagal Pulih, Likuidasi DeFi — Tekanan Reputasi Ekosistem Kripto Global

Tim Redaksi Feedberry ·2 Juni 2026 pukul 01.25 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
4.3 Skor

Insiden ini menimpa protokol DeFi spesifik yang sudah melemah; dampak langsung ke pasar kripto Indonesia terbatas namun sentimen risk-off bisa membebani aset berisiko dan memperkuat kekhawatiran regulasi.

Urgensi
4
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
4

Ringkasan Eksekutif

Protokol DeFi Radiant mengumumkan penghentian operasi setelah gagal pulih dari peretasan oleh Lazarus Group pada Oktober 2024. Total nilai terkunci (TVL) yang sempat mencapai US$386,8 juta pada Desember 2023 jatuh ke US$75 juta pasca-peretasan, lalu runtuh ke US$5 juta dalam sebulan dan tidak pernah pulih. Token RDNT ambles 4,2% setelah pengumuman wind down, kini diperdagangkan di bawah satu sen dari rekor tertinggi US$0,58 pada September 2022. Radiant akan beralih ke status pemeliharaan: antarmuka dan kontrak pintar tetap bisa diakses untuk penarikan, pelunasan, dan pengelolaan posisi, namun organisasi otonom terdesentralisasi (DAO) tidak lagi mendanai pengembangan atau peningkatan. Tim tetap membuka portal remediasi dan akan mengembalikan dana yang berhasil dipulihkan ke pengguna yang terdampak.

Yang tidak terlihat dari headline ini adalah bahwa kegagalan Radiant bersifat struktural, bukan sekadar eksploitasi teknis. Peretasan mengeksploitasi kelemahan operasional — kunci admin tunggal tanpa batas pencetakan — yang setelah itu membuat kepercayaan pengguna hilang total. TVL tidak pernah pulih karena likuiditas yang tersedot tidak kembali, dan model tata kelola DAO yang lambat dalam respons memperparah situasi. Pola ini mencerminkan kerapuhan sistemik DeFi: ketika reputasi runtuh dan likuiditas lenyap, pemulihan hampir mustahil tanpa injeksi modal baru, dan Radiant tidak mendapatkannya. Dampak bagi Indonesia terletak pada efek sentimen dan regulasi. Pasar kripto ritel Indonesia cukup aktif, dan berita negatif tentang DeFi dapat memperkuat persepsi risiko di kalangan investor domestik, berpotensi menekan volume transaksi di exchange lokal.

Ini juga dapat mempercepat tekanan pada OJK dan Bappebti untuk memperketat aturan aset digital, terutama terkait keamanan protokol terdesentralisasi yang tidak memiliki pihak penanggung jawab jelas. Meskipun tidak ada dampak langsung ke ekonomi riil, sentimen risk-off global yang dipicu oleh insiden DeFi berulang dapat menambah tekanan pada IHSG dan nilai tukar rupiah melalui arus modal keluar dari pasar emerging. Yang harus dipantau dalam 1–4 minggu ke depan adalah respons komunitas: apakah pengguna ritel Indonesia mulai menarik dana dari protokol DeFi serupa? Apakah ada pernyataan dari otoritas Indonesia terkait keamanan aset digital? Sinyal penting lain: pergerakan token RDNT dan metrik TVL protokol DeFi lainnya — jika terjadi penurunan signifikan secara luas, itu bisa menandakan krisis kepercayaan yang lebih dalam.

Edukasi investor tentang risiko tata kelola DeFi menjadi prioritas bagi pelaku industri kripto domestik.

Mengapa Ini Penting

Wind down Radiant bukan sekadar likuidasi protokol, melainkan ujian kepercayaan terhadap model DeFi yang mengandalkan tata kelola terdesentralisasi. Jika pola kegagalan operasional seperti ini terus berulang, regulator Indonesia bisa mempercepat kebijakan pembatasan atau pelabelan risiko tinggi untuk aset kripto, yang akan memengaruhi likuiditas dan partisipasi institusional di pasar lokal.

Dampak ke Bisnis

  • Ekosistem DeFi global menerima pukulan reputasi: investor mulai mempertanyakan keamanan dana yang dikunci di protokol tanpa jaminan pemulihan. Hal ini secara tidak langsung menekan minat institusi dan ritel Indonesia terhadap produk DeFi yang ditawarkan exchange lokal.
  • Exchange kripto Indonesia yang menyediakan akses ke token atau protokol DeFi berpotensi mengalami penurunan volume perdagangan jika sentimen risk-off meluas. Risiko regulasi juga meningkat karena OJK mungkin meminta exchange untuk memperkuat disclosure risiko pada aset DeFi.
  • Proyek blockchain dan DeFi lokal (seperti yang berbasis di Indonesia atau dikembangkan oleh tim Indonesia) akan lebih sulit menarik pendanaan dari luar negeri karena persepsi risiko yang meningkat, terutama jika mereka belum memiliki track record keamanan yang solid.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons regulasi Indonesia — apakah OJK atau Bappebti mengeluarkan pernyataan atau peringatan terkait risiko protokol DeFi dalam 2 pekan ke depan. Ini bisa menjadi sinyal perubahan aturan.
  • Risiko yang perlu dicermati: efek domino ke protokol DeFi lain dengan arsitektur keamanan serupa — jika satu lagi protokol besar dirundung masalah, sentimen negatif bisa meningkat drastis dan memicu aksi jual aset kripto global, yang berimbas ke pasar Indonesia.
  • Sinyal penting: volume perdagangan kripto Indonesia mingguan. Jika terjadi penurunan >10% dalam sebulan tanpa katalis positif lain, itu indikasi bahwa sentimen risk-off sudah menjalar ke investor ritel domestik.

Konteks Indonesia

Pasar kripto ritel Indonesia termasuk aktif di kawasan, dengan basis pengguna yang sensitif terhadap sentimen global. Insiden seperti wind down Radiant dapat memperkuat persepsi risiko tinggi pada aset kripto, mendorong investor lokal untuk mengurangi eksposur, dan memberi amunisi bagi regulator (OJK, Bappebti) untuk memperketat aturan perlindungan konsumen. Namun, karena Radiant adalah protokol global yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan ekosistem kripto Indonesia, dampaknya bersifat tidak langsung melalui sentimen pasar dan potensi perubahan regulasi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.