30 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Korporasi / RAAM Rugi Rp67 Miliar, EBITDA Berbalik Positif
Korporasi

RAAM Rugi Rp67 Miliar, EBITDA Berbalik Positif

Tim Redaksi Feedberry ·30 Oktober 2026 pukul 21.06 WIB · Sinyal menengah · Sumber: IDXChannel ↗
3.3 Skor

Kinerja RAAM berskala kecil dan niche, tetapi pembalikan EBITDA di tengah tekanan pasar memberi sinyal penting soal daya tahan bisnis film domestik.

Urgensi
4
Luas Dampak
3
Dampak Indonesia
3
Analisis Laporan Keuangan
Periode
9M 2026
Pertumbuhan YoY
Pendapatan +32% YoY; rugi bersih +231% YoY
Pendapatan
Rp191,49 miliar
Laba Bersih
Rugi bersih Rp67,25 miliar
EBITDA
Rp24,54 miliar
Metrik Kunci
  • ·Adjusted profit after tax: Rp456,02 juta
  • ·Rugi pelepasan saham CMN: Rp64,8 miliar
  • ·Penghapusan restitusi pajak: Rp2,9 miliar
  • ·Margin EBITDA: 13% (9M 2026) vs -34% (9M 2025)

Ringkasan Eksekutif

PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) membukukan rugi bersih setelah pajak Rp67,25 miliar pada sembilan bulan pertama 2026, naik 231% dari Rp20,29 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di balik angka itu, pendapatan justru tumbuh 32% menjadi Rp191,49 miliar. CFO RAAM Vikas Sharma menyebut bisnis film menjadi penopang kinerja, dengan rilisan "Cerita Lila" menunjukkan potensi film lokal dan rencana memperbanyak rilis layar lebar, distribusi pustaka film, serta perluasan jaringan Platinum Cineplex. Rugi terutama berasal dari pos luar biasa: pelepasan sebagian kepemilikan saham di PT Ciputra Multivision Nusantara (CMN) sebesar Rp64,8 miliar dan penghapusan restitusi pajak sekitar Rp2,9 miliar setelah pemeriksaan pajak. Yang tidak terlihat dari headline adalah pembalikan operasional.

Tanpa kedua pos luar biasa itu, RAAM mencatat laba setelah pajak yang disesuaikan Rp456,02 juta, berbalik dari rugi disesuaikan Rp81,31 miliar pada 9M 2025. EBITDA juga berbalik positif menjadi Rp24,54 miliar dari negatif Rp48,91 miliar, dengan margin EBITDA positif 13% dari sebelumnya negatif 34%. Artinya, bisnis film dan bioskop RAAM tidak lagi menekan kas operasional seperti tahun lalu. Namun skala laba adjusted hanya Rp456,02 juta di atas pendapatan Rp191,49 miliar menunjukkan margin sangat tipis. EBITDA positif pun belum tentu menjadi laba bersih operasional karena masih harus menutup depresiasi, amortisasi, dan biaya pendanaan. Di sinilah kualitas pembalikan perlu diuji: apakah perbaikan berasal dari kenaikan volume penonton, efisiensi biaya, atau kontribusi satu judul film yang sifatnya musiman. Dampaknya bekerja berlapis.

Bagi RAAM, divestasi CMN disebut membuat neraca lebih ringan sehingga perseroan punya ruang mengembangkan bisnis film pada kuartal berikutnya. Tetapi kerugian pelepasan Rp64,8 miliar menunjukkan transaksi divestasi tidak menghasilkan keuntungan akuntansi, sehingga manfaat utama divestasi adalah pengurangan beban dan risiko konsolidasi. Penghapusan restitusi pajak Rp2,9 miliar juga menandakan ada biaya historis yang harus diakui. Bagi rantai pasok industri film—rumah produksi, distributor, operator bioskop, dan vendor produksi—perbaikan EBITDA RAAM bisa menjadi sinyal permintaan konten lokal yang masih hidup. Bagi investor, kombinasi laba bersih negatif, laba adjusted tipis, dan EBITDA positif menciptakan gambaran yang mudah disalahbaca jika hanya melihat judul.

Sentimen pasar juga tidak membantu: IHSG berada di 5.057 setelah turun 4,26%, sementara USD/IDR di 18.138 dan Brent di US$113,47 menambah tekanan biaya pada emiten yang punya komponen impor atau energi.

Mengapa Ini Penting

Headline rugi Rp67,25 miliar menyembunyikan pembalikan operasional: EBITDA berbalik positif dan adjusted profit positif. Namun kualitas pembalikan masih rapuh karena laba adjusted hanya Rp456,02 juta, sementara kerugian divestasi Rp64,8 miliar menunjukkan pelepasan aset tidak menghasilkan keuntungan akuntansi. Bagi pasar, ini mengubah cara membaca RAAM—dari emiten yang menekan kas operasional menjadi emiten yang perlu membuktikan perbaikan marginnya berkelanjutan.

Dampak ke Bisnis

  • Pembalikan EBITDA dari -Rp48,91 miliar menjadi Rp24,54 miliar dan margin 13% menunjukkan operasional film/bioskop membaik, tetapi laba adjusted hanya Rp456,02 juta sehingga kenaikan biaya distribusi, okupansi bioskop yang lemah, atau gagal satu judul besar bisa cepat mengembalikan rugi.
  • Divestasi CMN meringankan neraca, namun kerugian pelepasan Rp64,8 miliar dan penghapusan restitusi pajak Rp2,9 miliar menandakan beban historis; pemegang saham perlu mencermati apakah dana divestasi dipakai untuk produksi dan ekspansi Platinum Cineplex atau menutup kebutuhan modal kerja.
  • RAAM adalah emiten kecil di sektor film; dengan IHSG di 5.057 (-4,26%) dan USD/IDR 18.138, tekanan risk-off dan biaya impor dapat mempersempit akses pendanaan serta menekan likuiditas saham, terlepas dari perbaikan EBITDA.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: jumlah dan jadwal rilisan film serta pembukaan Platinum Cineplex baru pada kuartal IV 2026 — apakah ekspansi dibiayai kas internal pasca-divestasi atau memerlukan pendanaan tambahan.
  • Risiko yang perlu dicermati: beban di bawah garis EBITDA — jika EBITDA tetap positif tetapi laba adjusted kembali tipis, berarti depresiasi, amortisasi, atau biaya pendanaan menyerap perbaikan operasional.
  • Sinyal penting: arah IHSG dan USD/IDR — IHSG di 5.057 dan rupiah di 18.138; pelemahan lebih lanjut dapat menekan valuasi emiten kecil dan menaikkan biaya modal.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.