22 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Teknologi / QRIS Jepang Naik 95% — Belanja Keluar, Bukan Devisa Masuk
Teknologi

QRIS Jepang Naik 95% — Belanja Keluar, Bukan Devisa Masuk

Tim Redaksi Feedberry ·22 Oktober 2026 pukul 00.00 WIB · Sinyal tinggi · Sumber: Detik Finance ↗
5.3 Skor

Bukan berita yang menuntut respons pekan ini, tetapi ia menggeser cara devisa jasa bergerak dan memindahkan pendapatan dari money changer serta kartu kredit ke sistem pembayaran ritel lintas batas.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

QRIS kini diterima di Jepang: dari Shibuya, Akihabara, Shinjuku, dan Harajuku di Tokyo hingga merchant di Osaka, Kanagawa, Saitama, dan Kyoto. Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali menyebut transaksi QRIS outbound Indonesia di Jepang pada kuartal II 2026 naik 95% dibanding kuartal sebelumnya. Angka pembandingnya datang dari Japan National Tourism Organization: kunjungan warga Indonesia ke Jepang sepanjang Januari–Agustus 2026 sekitar 451,2 ribu orang, naik 11,4% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Standar pembayaran ini sendiri diluncurkan BI pada 17 Agustus 2019. Yang tidak terlihat dari headline: laju transaksi tumbuh jauh lebih cepat daripada laju kedatangan. Kunjungan naik 11,4%, transaksi melonjak 95% secara kuartalan.

Selisih itu menunjukkan pertumbuhan tidak berasal dari tambahan pelancong, melainkan dari pergeseran cara bayar — orang yang sudah berada di Jepang mulai meninggalkan tunai dan beralih ke QRIS. Inilah tanda adopsi yang sebenarnya, dan justru lebih penting daripada angka kunjungan itu sendiri. Arahnya perlu ditegaskan. Alasan BI mendorong akseptasi di Jepang adalah tingginya mobilitas warga Indonesia ke sana, sementara penduduk Jepang sendiri masih lekat dengan tunai. Artinya ini jalur pembayaran yang dibangun untuk mengalirkan belanja orang Indonesia ke merchant Jepang, bukan sebaliknya. Dari kacamata neraca, transaksi outbound dicatat sebagai impor jasa, bukan devisa masuk. Manfaat ekonominya jatuh lebih dulu ke merchant dan acquiring agent Jepang, sejalan dengan sinergi BI bersama Payments Japan Association, penyedia jasa pembayaran, dan mitra industri setempat.

Bagi Indonesia, nilai strategisnya bukan di fee transaksi, melainkan di data, standar, dan keterhubungan — tiga hal yang jauh lebih lambat menghasilkan uang tetapi lebih tahan lama. Sisi biayanya nyata: kemudahan membayar menurunkan friksi belanja, dan friksi adalah satu-satunya rem bagi pengeluaran di luar negeri. Dengan USD/IDR di 17.943, perjalanan ke Jepang sudah mahal; QRIS tidak membuatnya lebih murah, hanya membuat pengeluaran lebih mudah direalisasikan. Pihak yang paling terpukul justru yang tidak disebut artikel: money changer, penerbit kartu kredit, dan penyedia remitansi yang selama ini memungut margin dari perpindahan dana lintas negara. Setiap merchant Jepang yang beralih ke QRIS memindahkan satu titik pendapatan dari mereka ke sistem pembayaran ritel.

Mengapa Ini Penting

Ekspansi QRIS ke Jepang lebih dulu menguntungkan merchant dan acquirer setempat, sementara pemain domestik memperoleh data dan keterhubungan tanpa arus fee yang sepadan. Yang berubah secara struktural adalah friksi: begitu membayar di luar negeri semudah memindai kode, rem bagi pengeluaran jasa lintas batas melemah — dan konsekuensinya tercatat di neraca jasa, bukan di kantong penyedia pembayaran Indonesia.

Dampak ke Bisnis

  • Penerbit uang elektronik dan penyedia jasa pembayaran domestik mendapat kenaikan volume lintas batas tanpa proporsi pendapatan yang setara, karena pemrosesan di sisi merchant Jepang dipegang acquiring agent setempat. Nilai yang mereka kumpulkan lebih banyak berupa data perilaku belanja dan retensi pengguna daripada margin transaksi.
  • Money changer, penerbit kartu kredit, dan penyedia remitansi kehilangan porsi paling langsung: setiap pelancong yang beralih ke QRIS memindahkan satu transaksi dari meja tunai dan jalur kartu ke sistem pembayaran ritel. Efeknya bertahap, tetapi bersifat permanen karena kebiasaan bayar tidak mudah dibalik.
  • Dampak yang baru terasa dalam tiga sampai enam bulan: bila akseptasi merchant Jepang terus melebar, Jepang menjadi destinasi yang biaya belanjanya lebih mudah direalisasikan, sehingga porsi pengeluaran wisatawan Indonesia yang tadinya tertahan di dalam negeri bergeser keluar — bersamaan dengan menguatnya tekanan pada neraca jasa.
  • Sektor yang tidak disebut artikel tetapi terkait langsung: agen perjalanan, maskapai berbiaya rendah dengan rute Jepang, dan operator ritel di destinasi domestik bersaing memperebutkan kantong belanja yang sama, kini dengan satu titik gesekan lebih sedikit di sisi luar negeri.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pertumbuhan transaksi QRIS outbound kuartal III 2026 — bila masih dua digit tinggi sementara kunjungan tumbuh lebih lambat, berarti substitusi tunai dan kartu berjalan lebih cepat daripada penambahan pelancong.
  • Risiko yang perlu dicermati: pergerakan USD/IDR dari posisi 17.943 — pelemahan rupiah lebih lanjut menaikkan biaya perjalanan dan belanja di Jepang, yang bisa mengerem volume transaksi meski akseptasi merchant terus meluas.
  • Sinyal penting: perluasan merchant ke kota di luar Tokyo, Osaka, Kanagawa, Saitama, dan Kyoto — jumlah titik akseptasi adalah ukuran kedalaman yang sebenarnya, bukan jumlah kerja sama yang diumumkan.
  • Sinyal penting: ada tidaknya arus balik, yaitu wisatawan Jepang yang bertransaksi dengan QRIS di Indonesia — bila arus ini tumbuh, posisi neraca jasa berubah dan ekspansi berhenti menjadi jalur satu arah.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.