20 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Korporasi / PSEL Jakarta Tertahan Lahan — 9.000 Ton Sampah Menumpuk
Korporasi

PSEL Jakarta Tertahan Lahan — 9.000 Ton Sampah Menumpuk

Tim Redaksi Feedberry ·20 Oktober 2026 pukul 04.45 WIB · Sinyal menengah · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
6.7 Skor

Bukan kejutan pasar, tetapi bottleneck lahan di ibu kota menghambat proyek energi terbarukan berukuran besar yang masuk pipeline pembiayaan Danantara — dampaknya menyentuh pengelolaan sampah, kelistrikan, dan rantai pasok konstruksi.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
ekspansi
Alasan Strategis
Denera melanjutkan kajian kelayakan lebih awal agar pembangunan fisik dapat langsung berjalan setelah penetapan lokasi dan perizinan selesai, sekaligus menjaga laju percepatan proyek PSEL di Jakarta yang memproduksi 9.000 ton sampah per hari.
Pihak Terlibat
PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera)Pemerintah Provinsi DKI JakartaPLN

Ringkasan Eksekutif

Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Jakarta belum bisa dieksekusi. CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) Fadli Rahman menyebut ketersediaan lahan sebagai kendala terberat: lahan di ibu kota sulit dicari karena wilayahnya sudah sangat padat. Proses administrasi di tingkat pemerintah daerah ikut memperpanjang durasi persiapan. Denera masih menunggu penetapan lokasi resmi dan pemenuhan kelengkapan administrasi dari Pemprov DKI, yang menurut Fadli sedang memfinalisasi lokasi lahan terakhir yang dipilih. Jakarta menghasilkan 9.000 ton sampah per hari, dan manajemen Denera menilai pemilahan saja tidak cukup — residu dari proses pemilahan tetap butuh pengolahan berskala besar. Untuk menjaga momentum, Denera sudah memulai studi kelayakan lebih awal agar pembangunan fisik bisa langsung berjalan begitu perizinan dan lahan rampung.

Mengapa Ini Penting

Kendala lahan membalik asumsi dasar bankability proyek: kepastian lahan, tarif, dan perizinan disebut sebagai faktor yang membuat lender tertarik pada pipeline PSEL Denera, tetapi justru lahan yang kini menjadi penghambat di kota dengan volume sampah terbesar. Selama lokasi belum ditetapkan, proyek terbesar secara strategis justru berstatus paling tidak pasti, sementara proyek yang sudah berjalan berada di kota dengan beban sampah lebih kecil.

Dampak ke Bisnis

  • Keterlambatan PSEL Jakarta memperpanjang ketergantungan pada TPA dan armada angkut sampah yang ada. Operator pengangkutan, pengelola TPA, dan kontraktor lingkungan hidup tetap menanggung beban volume harian 9.000 ton tanpa pengurangan berarti, sementara biaya bahan bakar armada naik seiring Brent di US$109,21 per barel.
  • Rantai pasok proyek — penyedia boiler, turbin, sistem pemilahan, dan kontraktor EPC — menunggu kepastian lokasi sebelum bisa masuk tahap pengadaan. Penundaan memindahkan jadwal pengadaan dan konstruksi ke periode ketika biaya pendanaan masih mahal: imbal hasil US Treasury 10 tahun di 5,1% dan rupiah di 17.943 membuat komponen peralatan impor lebih berat.
  • Pihak yang jarang disebut: produsen semen dan material bangunan, penyedia lahan swasta, serta PLN sebagai penjamin pembelian listrik. Bila lokasi bergeser ke area yang lebih jauh dari pusat beban, biaya interkoneksi jaringan dan perhitungan tarif PPA ikut berubah — konsekuensi yang baru terasa beberapa kuartal setelah lokasi ditetapkan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: penetapan lokasi resmi oleh Pemprov DKI — tanpa surat keputusan lokasi, studi kelayakan yang sudah berjalan tidak bisa dikonversi menjadi konstruksi.
  • Risiko yang perlu dicermati: apakah Jakarta masuk dalam daftar lokasi tahap berikutnya — delapan lokasi tahap kedua yang sudah diumumkan mencakup Medan Raya, Serang Raya, Bogor Raya 2, Kabupaten Bekasi, Semarang Raya, Yogyakarta Raya, Lampung Raya, dan Surabaya Raya, tanpa Jakarta.
  • Sinyal penting: kejelasan perjanjian pembelian daya dengan PLN dan struktur lahan dalam skema One Door Policy — bila lahan tetap menjadi bottleneck, argumen kepastian berusaha yang mendasari minat 34 institusi keuangan pada pipeline Denera perlu diuji ulang.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.