24 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Kebijakan / Prabowo Larang Buka Hutan Primer untuk 2 Juta Ha Pangan
Kebijakan

Prabowo Larang Buka Hutan Primer untuk 2 Juta Ha Pangan

Tim Redaksi Feedberry ·23 Oktober 2026 pukul 21.25 WIB · Sinyal tinggi · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
7.7 Skor

Arahan presiden ini mengunci arah kebijakan pangan nasional untuk beberapa tahun ke depan — menyentuh tata guna lahan di 20 provinsi, belanja alsintan, dan peta persaingan komoditas pangan, meski eksekusinya baru tahap awal.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
9
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Arahan perluasan lahan pangan 2 juta hektare di lahan rawa mineral tanpa pembukaan hutan primer
Penerbit
Presiden Prabowo Subianto melalui Sidang Kabinet Paripurna, pelaksana Kementerian Pertanian bersama TNI dan Kementerian Pertahanan
Perubahan Kunci
  • ·Perluasan lahan pangan diarahkan ke lahan rawa mineral, bukan hutan primer dan bukan lahan gambut.
  • ·Tahap pertama ditetapkan 500 ribu hektare, sebagai bagian dari total rencana hingga 2 juta hektare.
  • ·Pemerintah memetakan potensi 2.078.756 hektare lahan rawa mineral di 20 provinsi sebagai basis perencanaan.
  • ·Penggarapan tahap awal dijalankan bersama TNI dan Kementerian Pertahanan.
  • ·Komoditas sasaran adalah pangan dalam negeri — beras, jagung, kedelai — dan dipisahkan dari pengembangan lahan untuk etanol.
Pihak Terdampak
Petani dan calon petani penggarap di 20 provinsi, khususnya Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan SelatanKementerian Pertanian, TNI, dan Kementerian Pertahanan sebagai pelaksana lapanganPemegang izin konsesi kehutanan, perkebunan, dan pertambangan pada area yang beririsanProdusen alsintan, benih, pupuk, dan jasa irigasiPemerintah daerah di provinsi sasaran dan lembaga logistik pangan negara

Ringkasan Eksekutif

Presiden Prabowo Subianto meminta Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan perluasan lahan pangan tidak menyentuh hutan primer. Arahan itu muncul dalam Sidang Kabinet Paripurna setelah Amran memaparkan rencana penggarapan 2 juta hektare lahan rawa mineral, dengan tahap pertama 500 ribu hektare yang akan dikerjakan bersama TNI dan Kementerian Pertahanan. Peta yang dipaparkan mencakup potensi 2.078.756 hektare di 20 provinsi — Sumatera Selatan 375.006 hektare, Kalimantan Tengah 356.276 hektare, dan Kalimantan Selatan 335.179 hektare menjadi tiga kantong terbesar. Amran menegaskan lahan yang disiapkan bukan lahan gambut dan berbeda dari pengembangan lahan untuk produksi etanol. Yang tidak terlihat dari headline ini: keputusan tersebut memindahkan beban anggaran, bukan menghapusnya.

Melarang pembukaan hutan primer berarti area yang digarap harus berasal dari lahan terdegradasi atau rawa yang sudah terbuka — dan lahan seperti itu menuntut pekerjaan tanah, drainase, serta pembangunan irigasi sebelum bisa ditanami. Biaya per hektare naik, dan masa tunggu hingga panen pertama memanjang. Skema yang dijalankan bersama TNI dan Kemenhan memperkuat kesan bahwa ini berjalan sebagai proyek negara berskala besar, bukan ekspansi petani swadaya. Komoditas yang disebut — beras, jagung, kedelai — adalah tiga pos yang paling sering menjadi sumber tekanan inflasi pangan bergejolak, sehingga arah kebijakannya konsisten: menambah pasokan di sisi hulu, bukan menambal harga di hilir. Dampaknya paling dulu terasa pada rantai pasok alat dan sarana produksi.

Dengan USD/IDR di 17.956 dan Brent di US$112,01, pengadaan traktor, pompa air, dan pupuk berbasis impor menjadi mahal; belanja modal proyek ini akan lebih berat dibanding periode kurs kuat. Sebaliknya, produsen benih, pupuk, dan alsintan dalam negeri berpotensi memperoleh pesanan negara. Pihak yang tidak disebut artikel tetapi berkepentingan: pemegang izin usaha perkebunan dan pertambangan di tiga provinsi dengan potensi terbesar. Sebagian area yang dipetakan beririsan dengan konsesi yang sudah berjalan, dan penyelesaian tumpang tindih itulah yang biasanya menentukan apakah target 500 ribu hektare tercapai dalam satu tahun atau mundur.

Mengapa Ini Penting

Kebijakan pangan Indonesia bergeser dari intensifikasi ke pembukaan lahan baru, dan itu berarti nasib pasokan beras-jagung-kedelai nasional beberapa tahun ke depan bergantung pada kecepatan konversi lahan rawa, bukan pada produktivitas sawah yang sudah ada. Komitmen 'tanpa hutan primer' juga menempatkan pemerintah pada posisi yang harus bisa dibuktikan, bukan sekadar dijanjikan — dan pembuktiannya akan datang dari daftar lokasi, bukan dari pernyataan kabinet.

Dampak ke Bisnis

  • Produsen alsintan, benih, pupuk, dan pompa irigasi berpotensi menerima pesanan pemerintah dalam volume besar, tetapi dengan harga input impor yang mahal akibat USD/IDR di 17.956 dan Brent di US$112,01 — margin kontraktor dan pemasok akan bergantung pada struktur kontrak dan skema pengadaan.
  • Pemegang konsesi kehutanan, perkebunan, dan pertambangan di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan menghadapi risiko tumpang tindih klaim lahan; proses ini bisa memperlambat pelepasan kawasan dan menahan realisasi investasi di wilayah tersebut.
  • Petani di luar Jawa dan lembaga logistik seperti Bulog berpotensi mendapat pasokan tambahan dalam beberapa musim ke depan, tetapi rantai distribusi dari rawa di luar Jawa ke pusat konsumsi tetap menjadi titik lemah — biaya angkut dapat menghapus sebagian manfaat produksi baru.
  • Sektor jasa konstruksi dan infrastruktur pertanian — kanal, irigasi tersier, jalan usaha tani — akan menyerap anggaran lebih dulu sebelum panen pertama; manfaat ekonominya datang bertahap, tidak serentak.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: dasar hukum dan daftar kabupaten untuk 500 ribu hektare tahap pertama — tanpa itu, target 2 juta hektare belum bisa dinilai sebagai rencana operasional, dan pasar belum punya dasar menghitung kebutuhan belanja.
  • Risiko yang perlu dicermati: tumpang tindih lahan dengan konsesi yang sudah beroperasi di tiga provinsi dengan potensi terbesar — konflik klaim akan memperlambat penggarapan dan menaikkan biaya penyelesaian.
  • Sinyal penting: pengumuman tender alsintan, penunjukan pelaksana lapangan, dan keterlibatan TNI-Kemenhan dalam struktur anggaran — ketiganya penanda apakah proyek bergerak atau berhenti sebagai arahan kabinet.
  • Yang perlu diawasi: arah inflasi pangan bergejolak pada rilis bulanan berikutnya — jika masih bergerak di atas inflasi umum, urgensi percepatan penggarapan lahan akan meningkat, bersama tekanan pada anggaran pangan pemerintah.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.