Koreksi penjualan hingga 50% dan pendapatan AS turun minimal 70% menandai berakhirnya siklus satu IP viral, memberi sinyal lebih luas soal pelemahan konsumsi diskresioner China yang merambat ke permintaan komoditas.
Ringkasan Eksekutif
Penjualan global Pop Mart turun hingga 50% pada kuartal tiga bulan yang berakhir September, dengan pendapatan dari Amerika Serikat merosot minimal 70%. Angka itu menempatkan perusahaan mainan asal Beijing tersebut jauh di bawah posisi yang pernah membuatnya dinilai lebih besar dari gabungan Hasbro dan Mattel. Sahamnya di Hong Kong kini berada lebih dari 50% di bawah level tertinggi, meski kapitalisasi pasarnya masih mendekati US$24 miliar. Labubu, yang diluncurkan pada 2019 dan menjadi lini mainan paling sukses perseroan, kehilangan daya tarik setelah bertahun-tahun menjadi fenomena global. Mekanismenya bukan sekadar kelelahan konsumen. Model bisnis Pop Mart bersandar pada kelangkaan buatan — blind box seharga US$15 atau lebih yang membuat pembeli menebak isi kemasan, ditambah versi langka yang mendorong harga di pasar sekunder.
Skema ini bekerja selama antusiasme masih tumbuh. Begitu pasar sekunder mengendur, insentif untuk membeli berulang ikut melemah. Analis menyebut perseroan kesulitan menangkap kegembiraan di luar satu momen viral, dan itu persis titik rapuh dari bisnis yang bertumpu pada satu karakter. Ekosistem di sekelilingnya runtuh lebih dulu. Seorang kolektor asal North Carolina yang berhenti dari pekerjaan teknologinya pada 2024 dan menghabiskan lebih dari US$50.000 untuk koleksi 400-an Labubu kini mengalihkan fokus ke tren lain, termasuk Hello Kitty dan squishies. Konten yang dulu cepat mencapai 10.000 penayangan kini sulit menembus angka itu. Ada pula pembeli yang pernah merogoh lebih dari US$150.000 untuk Labubu seukuran manusia — transaksi yang praktis tidak lagi muncul ketika euforia surut. Struktur biaya memperbesar persoalan.
Pop Mart mengoperasikan 500 toko di lebih dari 30 negara plus 2.000 mesin penjual otomatis. Jaringan sebesar itu menanggung beban sewa dan tenaga kerja tetap, sehingga penurunan penjualan separuh menekan margin operasi, bukan hanya pendapatan. Tekanan menyebar ke operator pusat perbelanjaan yang menempatkan gerai Pop Mart sebagai magnet lalu lintas, ke peritel mainan kolektibel yang menumpang tren, ke peritel ulang, hingga ke pabrik kontrak dan jasa logistik yang menopang produksi. Pola serupa pernah menimpa boom mainan kolektibel sebelumnya: nilai aset ditentukan persepsi kelangkaan, dan persepsi itu bisa berbalik jauh lebih cepat daripada biaya tetapnya.
Mengapa Ini Penting
Kegagalan Pop Mart memperlihatkan batas dari model bisnis yang mengubah kelangkaan buatan menjadi pendapatan: begitu pasar sekunder kehilangan premium, permintaan berulang ikut hilang sementara jaringan 500 toko tetap harus dibiayai. Ini bukan kisah satu mainan, melainkan uji kasus bagi seluruh ritel yang bertumpu pada hype — termasuk peritel mainan kolektibel dan operator mal di Asia Tenggara yang memakai gerai semacam ini sebagai penarik kunjungan.
Dampak ke Bisnis
- Operator pusat perbelanjaan dan pengelola ritel yang menempatkan gerai Pop Mart sebagai magnet lalu lintas menghadapi risiko penurunan kunjungan, karena daya tarik magnet itu bergantung langsung pada siklus hype yang kini berbalik.
- Pabrik kontrak mainan, pemasok kemasan, dan jasa logistik yang menopang produksi blind box menerima dampak lebih lambat tetapi lebih lama: pesanan biasanya menyesuaikan setelah peritel mengoreksi stok, sehingga tekanan muncul di kuartal berikutnya.
- Pelemahan konsumsi diskresioner China yang tercermin dari koreksi ini menjadi sinyal tidak langsung bagi permintaan batu bara, nikel, dan CPO — jalur transmisi utama ke ekspor Indonesia ketika belanja rumah tangga di pasar tujuan utama melemah.
- Bagi peritel dan pemilik merek domestik, kasus ini memperlihatkan bahwa nilai yang dibangun di atas kelangkaan dan komunitas penggemar membutuhkan IP kedua dan ketiga sebelum siklus pertama meredup; tanpa itu, biaya tetap jaringan gerai berubah dari pengungkit pertumbuhan menjadi beban.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: rilis kinerja kuartal berikutnya — jika penurunan AS tetap di atas 70% dan China ikut terkoreksi, thesis pemulihan berbasis loyalitas penggemar perlu ditinggalkan.
- Risiko yang perlu dicermati: strategi peluncuran karakter baru Pop Mart — jika gagal menggantikan Labubu, jaringan 500 toko dan 2.000 mesin penjual otomatis menjadi beban sewa yang menekan margin lebih dalam.
- Sinyal penting: data penjualan ritel dan tingkat kunjungan mal di Asia Tenggara — pergeseran preferensi konsumen dari barang kolektibel ke kategori lain akan terbaca lebih dulu di sana sebelum terlihat di laporan keuangan peritel.
Konteks Indonesia
Jalur utama ke Indonesia adalah permintaan komoditas. Pop Mart adalah cermin belanja rumah tangga China, dan pelemahan konsumsi diskresioner di sana biasanya merambat ke permintaan batu bara, nikel, serta CPO — tiga komoditas yang menjadi tumpuan ekspor nasional. Sinyal tambahan datang dari sisi ritel domestik: kategori mainan kolektibel dan blind box sempat masuk ke pusat perbelanjaan besar, dan pola koreksi seperti ini menjadi acuan bagi pengelola mal dalam menilai daya tahan penyewa bertema tren. Di pasar saham, sentimen terhadap emiten konsumen diskresioner cenderung ikut tertekan ketika volatilitas global meningkat, tercermin dari VIX di 28,18 dan IHSG di 5.050.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.