Klaim kapasitas komputasi masih berbasis benchmark tunggal dan belum diverifikasi independen, sementara jalur dampaknya ke Indonesia tersalur tipis lewat investasi pusat data kawasan dan tata kelola aset digital.
Ringkasan Eksekutif
Jaringan AI terdesentralisasi sedang menguji tesis yang lama dianggap mustahil: menjadikan ponsel sehari-hari sebagai alternatif pusat data raksasa. Salah satu penggeraknya, De Carli, mengklaim kapasitas komputasi dari ponsel-ponsel aktif di jaringannya setara dengan sekitar 2.340 server pusat data kelas atas. Angka itu ia benchmark terhadap ASUS RS720A-E11, server kepadatan tinggi yang dirancang untuk kecerdasan artifisial dan komputasi kinerja tinggi. Klaim tersebut datang bersama pengakuan bahwa skeptisisme pasar belum sepenuhnya sirna. Argumen teknisnya bertumpu pada sifat perangkat yang selama ini justru dianggap keterbatasan. Fitur keamanan perangkat keras bawaan ponsel, menurut De Carli, unggul untuk beban kerja seperti confidential computing atau lingkungan terisolasi yang bisa memasang dan menjalankan eksekutabel.
Ponsel juga dinilai cocok untuk pekerjaan yang menuntut daya CPU besar, atau yang membutuhkan distribusi luas serta akses internet tanpa filter. "Server lebih unggul dalam multi-threading, tetapi ponsel menawarkan efisiensi komputasi yang tak tertandingi," katanya. Batasnya tetap nyata: memori ponsel biasa terbatas dan server masih memimpin saat menangani banyak tugas paralel, meski ia menilai banyak beban kerja masih muat dalam memori yang tersedia. Model bisnisnya mulai terbentuk. Proyek Phase meluncurkan Phase Proxy pada Oktober, memungkinkan pemilik ponsel menyediakan konektivitas internet sekaligus validasi blockchain untuk agen AI. Pendirinya, Kirill Eves, menjelaskan bahwa situs web rutin memblokir atau membatasi laju trafik otomatis yang berasal dari pusat data, sehingga sistem memakai koneksi seluler dan residensial pengguna sebagai proksi.
Tarifnya 0,5 USDT per 1.000 permintaan dan 1 GB trafik. Tahap berikutnya, Phase Router, mengarahkan permintaan sederhana ke model yang berjalan di ponsel dalam jaringan, atau meneruskannya ke penyedia eksternal seperti OpenAI dan Anthropic berdasarkan kompleksitas tugas, kapabilitas model, performa, dan biaya. Jaringan itu disebut bisa meluas ke desktop, server, dan GPU. Yang belum terjawab justru bagian tersulitnya. Markus Levin, co-founder penyedia infrastruktur terdesentralisasi XYO, menilai jaringan semacam ini lebih pas untuk mengumpulkan dan memverifikasi data dunia nyata ketimbang menjalankan model AI. Ponsel dan sensor bisa memberi informasi lokal yang luput dari dataset terpusat, tetapi hanya jika datanya akurat dan tahan manipulasi.
Tolok ukurnya, menurut dia, adalah apakah jaringan memecahkan masalah yang mau dibayar pelanggan — bukan harga token atau jumlah node. Tantangan terbesar tetap koordinasi perangkat agar hardware, daya, dan konektivitas bisa diprediksi seperti halnya pusat data. Studi pada 2025 yang menguji kelompok kecil ponsel untuk tugas pengenalan citra menemukan performa kompetitif, namun hasilnya berasal dari pengujian terkontrol. Sektor DePIN sendiri sudah tumbuh menjadi industri bernilai sekitar US$10 miliar meski harga token tertekan, menurut Messari. Konteks makro tidak membantu: VIX di 20,83 menandakan volatilitas pasar berada di level tinggi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun di 4,95%, dan indeks dolar broad tertimbang-dagang di 121,67. IHSG berada di 5.030, USD/IDR di 18.049, dan Brent di US$96,78.
Mengapa Ini Penting
Persoalannya bukan lagi apakah ponsel mampu menjalankan model AI — uji terbatas sudah menunjukkan itu — melainkan apakah biaya koordinasi dan verifikasi bisa ditekan di bawah biaya membangun serta mengoperasikan pusat data. Jika bisa, sumber nilai tambah bergeser dari produsen chip dan penyedia cloud ke pemilik perangkat serta operator jaringan; jika tidak, DePIN berhenti sebagai eksperimen dengan valuasi token tanpa fondasi pendapatan berulang. Yang paling terancam bukan pusat data skala besar, melainkan lapisan perantara: penyedia jasa proksi, scraping, dan kapasitas komputasi sewaan — persis ceruk yang sedang dibidik Phase Proxy dengan tarif per 1.000 permintaan.
Dampak ke Bisnis
- Sisi hilir komputasi AI: bila inferensi ringan benar-benar bisa dipindahkan ke ponsel pengguna, permintaan atas kapasitas server kelas bawah dan menengah untuk tugas sederhana berpotensi tergerus lebih dulu — dampaknya terasa pada penyedia komputasi sewaan dan agregator proksi, bukan pada penyedia cloud besar yang menguasai pelatihan model berskala besar.
- Operator seluler: trafik yang berpindah dari pusat data ke koneksi seluler dan residensial mengubah profil beban jaringan. Pemilik ponsel berubah menjadi pemasok konektivitas berbayar dalam stablecoin, sementara operator berpotensi menanggung kenaikan trafik hulu tanpa penyesuaian struktur tarif — pihak yang tidak disebut dalam narasi DePIN tetapi paling terdampak secara operasional.
- Pasar aset digital domestik: model tarif berbasis USDT dan validasi blockchain menempatkan klasifikasi aset digital sebagai penentu kelayakan operasi. Tanpa kejelasan status stablecoin sebagai instrumen pembayaran, model serupa sulit beroperasi legal di Indonesia, sehingga nilai ekonominya lebih mungkin ditangkap pemain luar atau melalui kanal yang belum terpetakan regulator.
- Efek yang baru terasa dalam 3–6 bulan: jika model ini terbukti berjalan, permintaan memori dan cip hemat daya pada perangkat konsumen ikut bergeser — segmen yang harganya sudah tertekan oleh alokasi kapasitas memori untuk server AI.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: pengoperasian Phase Router — routing berbasis kompleksitas tugas, kapabilitas model, performa, dan biaya adalah uji pertama apakah jaringan ponsel mampu bersaing dengan penyedia eksternal seperti OpenAI dan Anthropic, bukan sekadar melengkapinya.
- Risiko yang perlu dicermati: verifikasi independen atas klaim kapasitas setara 2.340 server — klaim itu dibenchmark terhadap satu model server dan bertumpu pada studi 2025 berskala kecil dalam kondisi terkontrol, sehingga kapasitas riil di lapangan bisa jauh di bawah angka tersebut.
- Sinyal penting: pergeseran tolok ukur industri dari harga token dan jumlah node ke pendapatan berbayar — tarif 0,5 USDT per 1.000 permintaan dan 1 GB trafik menjadi penanda apakah sektor ini meninggalkan fase spekulatif, sejalan dengan kritik Levin bahwa jaringan harus dinilai dari masalah yang mau dibayar pelanggan.
- Perhatikan: VIX di 20,83 dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun di 4,95% — biaya modal yang tinggi mempersulit pendanaan proyek infrastruktur terdistribusi sekaligus memperkuat insentif mencari alternatif komputasi yang lebih murah.
Konteks Indonesia
Jalur dampak ke Indonesia berlapis dan tidak langsung. Dari sisi infrastruktur, arah belanja komputasi AI global — termasuk model terdistribusi yang memanfaatkan perangkat di tepi jaringan — menentukan di mana pusat data dan kapasitas tepi dibangun di kawasan, dan menjadi pembanding langsung bagi upaya Indonesia menarik investasi pusat data regional. Dari sisi pasar aset digital, model tarif berbasis stablecoin seperti 0,5 USDT per 1.000 permintaan menempatkan tata kelola aset kripto domestik sebagai variabel penentu apakah model serupa bisa beroperasi legal di dalam negeri. Dari sisi telekomunikasi, bila trafik inferensi AI benar-benar bergeser ke perangkat pengguna, beban jaringan operator seluler berubah dari pipa pasif menjadi penopang komputasi, dengan implikasi pada kebutuhan kapasitas dan struktur tarif data. Posisi USD/IDR di 18.049 menambah biaya perolehan perangkat dan komponen impor yang menjadi node jaringan semacam ini, sehingga ekonomi partisipasi pengguna di Indonesia lebih tipis dibanding di negara dengan kurs lebih stabil.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.