26 JUN 2026
Polestar Hentikan Penjualan di AS Akibat Aturan Anti-China — Sentimen Risk-Off Menguat

Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Polestar Hentikan Penjualan di AS Akibat Aturan Anti-China — Sentimen Risk-Off Menguat
Kebijakan

Polestar Hentikan Penjualan di AS Akibat Aturan Anti-China — Sentimen Risk-Off Menguat

Tim Redaksi Feedberry ·26 Juni 2026 pukul 10.00 · Sinyal tinggi · Sumber: CNBC Indonesia ↗
6 Skor

Eskalasi perang dagang AS-China di sektor otomotif memicu sentimen risk-off global yang dapat menekan IHSG dan rupiah, meski dampak langsung ke Indonesia masih terbatas.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
5
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Connected Vehicles Rule
Penerbit
Departemen Perdagangan Amerika Serikat
Berlaku Sejak
mulai model tahun 2027
Perubahan Kunci
  • ·Melarang impor dan penjualan kendaraan baru di AS yang menggunakan teknologi terkoneksi dengan kaitan ke China (Bluetooth, Wi-Fi, seluler, satelit).
  • ·Pemerintah AS menolak memberikan izin penjualan kepada Polestar berdasarkan aturan ini.
Pihak Terdampak
Polestar dan induknya Geely Holding (China)Produsen mobil China lainnya yang ingin masuk pasar AS (BYD, SAIC, dll.)Konsumen AS yang kehilangan akses ke merek PolestarPemasok komponen terkoneksi asal China

Ringkasan Eksekutif

Polestar, produsen mobil listrik yang mayoritas dimiliki oleh Geely China, menghentikan penjualan kendaraan baru di Amerika Serikat mulai model tahun 2027 setelah pemerintah Presiden Donald Trump menolak memberikan izin berdasarkan Connected Vehicles Rule. Saham Polestar yang tercatat di Nasdaq anjlok 6,3% pada perdagangan Kamis (25/6/). Aturan yang pertama kali disahkan pada Januari 2025 di era Presiden Joe Biden ini melarang impor dan penjualan kendaraan yang menggunakan teknologi terkoneksi dengan kaitan ke China — mulai dari Bluetooth, Wi-Fi, konektivitas seluler, hingga satelit — dengan alasan risiko keamanan nasional. Polestar memutuskan tidak akan mengajukan banding atas penolakan tersebut.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi Washington memperketat pembatasan terhadap kendaraan China dan memperkuat industri otomotif domestik. CEO Polestar, Michael Lohscheller, menyatakan bahwa industri otomotif memasuki fase baru berbasis dinamika regional. Perusahaan kini akan memfokuskan diri pada pasar Eropa, yang sudah menyumbang 78% penjualan pada kuartal I, sementara Amerika Serikat hanya 6%. Polestar tetap akan menjual stok yang sudah ada di AS dan mempertahankan layanan purnajual. Aturan ini menjadi penghalang total bagi mobil China untuk masuk pasar AS, lebih dari sekadar tarif impor tinggi yang sudah ada sebelumnya. Dampak langsung dari kebijakan ini tidak hanya dirasakan oleh Polestar, tetapi juga oleh produsen China lainnya seperti BYD dan SAIC yang juga memiliki ekspansi ke AS.

Keputusan Polestar untuk tidak mengajukan banding menunjukkan bahwa hambatan regulasi sudah dianggap tidak dapat diatasi, setidaknya dalam waktu dekat. Bagi Indonesia, berita ini memperkuat narasi decoupling AS-China yang semakin nyata. Meskipun secara langsung Polestar tidak memiliki operasi signifikan di Indonesia, sentimen risk-off global dapat membebani arus modal asing ke pasar emerging market, termasuk Indonesia. IHSG yang saat ini berada di level 5.896 dan rupiah di 17.970 per dolar AS sudah mencerminkan tekanan eksternal. Ketegangan perdagangan yang berlarut bisa memperpanjang volatilitas pasar dan memperlambat pemulihan investasi asing langsung, khususnya dari China yang merupakan investor terbesar di sektor nikel dan infrastruktur Indonesia.

Dalam 2-4 minggu ke depan, pasar akan mencermati respons China terhadap langkah ini — apakah akan ada pembalasan tarif atau pembatasan akses pasar bagi perusahaan AS. Investor juga perlu memantau data neraca perdagangan Indonesia-China untuk mengukur potensi dampak riil dari perlambatan permintaan China akibat tekanan ekspor. Di sisi domestik, Kementerian Perindustrian dan BKPM perlu memberi sinyal insentif untuk menjaga daya tarik investasi di tengah fragmentasi rantai pasok global.

Mengapa Ini Penting

Keputusan ini bukan sekadar pukulan bagi Polestar, melainkan sinyal bahwa hambatan perdagangan non-tarif di sektor otomotif akan semakin ketat. Dampak jangka panjangnya adalah pergeseran rantai pasok global — China akan mengalihkan ekspor ke Asia dan Eropa, yang berpotensi membanjiri pasar Indonesia, baik secara langsung (impor mobil lebih murah) maupun tidak langsung (tekanan persaingan bagi produsen lokal). Di sisi lain, ketegangan yang meningkat dapat memicu flight-to-safety yang menekan nilai tukar rupiah dan aset berisiko Indonesia.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten otomotif Indonesia seperti ASII atau IMAS berpotensi mendapat tekanan persaingan lebih ketat jika produsen China mengalihkan ekspor ke Asia Tenggara akibat tertutupnya pasar AS. Namun dalam jangka pendek, belum ada indikasi dumping besar-besaran.
  • Rupiah dan IHSG rentan terhadap sentimen risk-off global akibat eskalasi perang dagang. Rupiah yang sudah berada di level 17.970 per dolar AS bisa semakin tertekan jika capital outflow asing berlanjut, terutama dari pasar SBN dan saham blue-chip.
  • Proyek hilirisasi nikel dan infrastruktur yang didanai China di Indonesia (seperti GNI di Morowali) menghadapi risiko ketidakpastian pendanaan jika perusahaan China lebih konservatif akibat tekanan perdagangan global.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons resmi China — apakah akan ada tarif balasan atau pembatasan ekspor mineral tanah jarang — karena dapat memicu volatilitas komoditas global dan menekan sektor pertambangan Indonesia.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi pengalihan ekspor kendaraan China ke Asia Tenggara — jika volume besar masuk ke Indonesia, hal ini bisa memicu kebijakan proteksionisme domestik (peningkatan TKDN atau pembatasan impor).
  • Sinyal penting: data cadangan devisa Indonesia bulan Juni — semakin menipisnya cadangan akan memperkuat kekhawatiran terhadap ketahanan eksternal di tengah tekanan rupiah.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.