24 SEP 2026
PLTS 100 GWp Dikebut, 10.068 Lokasi Belum Berlistrik

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / PLTS 100 GWp Dikebut, 10.068 Lokasi Belum Berlistrik
Kebijakan

PLTS 100 GWp Dikebut, 10.068 Lokasi Belum Berlistrik

Tim Redaksi Feedberry ·24 September 2026 pukul 04.06 · Sinyal tinggi · Sumber: Katadata ↗
7 Skor

Program ini menyentuh hak dasar, ketahanan energi, dan rantai pasok konstruksi sekaligus — tetapi dampaknya bertahap dan bergantung pada eksekusi bertahun-tahun, bukan guncangan pasar jangka pendek.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Program PLTS 100 GWp untuk pemerataan akses listrik dan dekarbonisasi industri
Penerbit
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) — Direktorat Jend

Ringkasan Eksekutif

Pemerintah mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 GWp untuk memperluas akses listrik sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan hal itu dalam sesi Katadata SAFE 2026 bertajuk Powering Industrial Decarbonization di Jakarta, Kamis (17/9). Ia menempatkan listrik bukan semata urusan energi, melainkan pemenuhan hak dasar individu. Data Kementerian ESDM mencatat masih ada 10.068 lokasi yang belum teraliri listrik. Lebih dari separuhnya berada di kawasan timur Indonesia: 5.555 lokasi atau sekitar 55 persen terkonsentrasi di Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara. Sisanya tersebar di Jawa (1.630 lokasi), Kalimantan (1.099), Sumatra (985), dan Sulawesi (799).

Ada dua motif yang berjalan bersamaan di balik program ini, dan keduanya sama pentingnya. Pertama, pemerataan akses — wilayah yang belum terlistriki mayoritas berada di luar jangkauan jaringan utama, sehingga solusi jaringan besar tidak relevan. Kedua, ketahanan energi. Eniya menyatakan situasi geopolitik dan konflik berkepanjangan menuntut Indonesia lebih inovatif menyediakan energi dari dalam negeri, menekan ketergantungan impor, dan mendorong efisiensi konsumsi. PLTS dipilih karena fleksibel: dapat dibangun dalam berbagai skala, termasuk untuk sistem kelistrikan yang tidak terhubung ke jaringan utama. Sasaran operasional yang paling konkret adalah mengurangi penggunaan pembangkit diesel, terutama di daerah yang selama ini bergantung pada diesel dengan biaya operasi relatif tinggi. Justru di titik inilah nilai ekonominya paling terasa.

Diesel di wilayah terpencil mahal bukan karena harga bahan bakarnya semata, tetapi karena biaya logistik pengangkutan ke lokasi. Dengan Brent berada di sekitar US$97,35 per barel menurut data pasar terkini, insentif ekonomi untuk menggantinya dengan surya semakin kuat. Namun sisi lain tak bisa diabaikan: komponen utama PLTS masih bergantung pada pasokan global, dan rupiah yang berada di kisaran Rp17.875 per dolar AS memperbesar biaya perolehan modul, inverter, serta sistem penyimpanan. Artinya, nilai keekonomian program sangat sensitif terhadap kurs. Sektor yang langsung merasakan adalah kontraktor EPC, penyedia modul dan baterai, serta penyedia jasa pemeliharaan. Pihak yang berpotensi kehilangan order adalah pemasok dan operator genset diesel, termasuk rantai distribusi bahan bakar di daerah terpencil.

Efek lanjutannya menyentuh permintaan kabel, komponen logam, alat ukur, dan kebutuhan tenaga teknis terlatih di daerah — lapangan kerja yang bersifat lokal dan tersebar, bukan terkonsentrasi di satu kawasan industri.

Mengapa Ini Penting

Ini bukan sekadar proyek energi — ini negara memilih jalur desentralisasi listrik alih-alih memperluas jaringan utama, dan pilihan itu mengubah peta pengadaan, logistik, serta tenaga kerja di daerah. Yang jarang disorot: keberhasilan program ini lebih ditentukan oleh rantai pasok dan pemeliharaan lokal ketimbang kapasitas produksi modul. Pembangkit surya di lokasi terpencil yang tidak terawat akan mati dalam beberapa tahun, dan itu berarti uang negara berubah menjadi aset terbengkalai — risiko yang jauh lebih besar daripada risiko teknis instalasinya.

Dampak ke Bisnis

  • Kontraktor EPC, penyedia modul, inverter, baterai, dan jasa pemasangan berpotensi menerima aliran order bertahap dengan karakter tersebar — ratusan lokasi kecil, bukan satu proyek raksasa. Ini menguntungkan kontraktor menengah daerah dan perusahaan dengan jaringan logistik, tetapi menyulitkan pemain yang hanya terbiasa proyek skala besar.
  • Pemasok dan operator genset diesel, termasuk rantai distribusi bahan bakar di Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara, menghadapi pengurangan permintaan struktural. Dampaknya tidak seragam: di lokasi yang lebih dulu dikonversi, permintaan solar industri bisa turun lebih cepat dari perkiraan pasar.
  • Yang baru terasa dalam 6–12 bulan ke depan: kebutuhan sistem penyimpanan energi dan pembangkit cadangan, karena surya bersifat intermiten dan tidak bisa menjadi satu-satunya sumber untuk aktivitas ekonomi. Ini membuka permintaan baru bagi penyedia baterai dan solusi hybrid, sekaligus menuntut kesiapan tenaga teknis lokal yang saat ini masih terbatas.
  • Sensitivitas kurs perlu diperhatikan. Karena komponen inti masih diimpor, setiap pelemahan rupiah menaikkan biaya perolehan proyek. Jika kurs bergerak lebih jauh, sebagian proyek berisiko tertunda atau memerlukan penyesuaian anggaran.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: kejelasan kerangka anggaran dan skema pendanaan program — tanpa alokasi yang pasti di tengah tekanan fiskal, target 100 GWp berisiko hanya menjadi arahan tanpa realisasi.
  • Risiko yang perlu dicermati: kebijakan kandungan komponen lokal — jika ambang TKDN diperketat tanpa kesiapan industri dalam negeri, biaya proyek naik dan jadwal mundur.
  • Sinyal penting: pergerakan USD/IDR — pelemahan lanjutan langsung menaikkan biaya modul dan sistem penyimpanan yang masih diimpor, sehingga mengurangi keekonomian penggantian diesel.
  • Yang perlu diawasi: peran PLN dalam integrasi dan pemeliharaan sistem di luar jaringan utama — ini penentu apakah pembangkit dapat beroperasi lama atau menjadi aset terbengkalai.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.