1 JUN 2026
Pirolisis Sampah Jadi Solar: Laba Rp5.000/Liter, Modal Rp4.000

Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Pirolisis Sampah Jadi Solar: Laba Rp5.000/Liter, Modal Rp4.000
Teknologi

Pirolisis Sampah Jadi Solar: Laba Rp5.000/Liter, Modal Rp4.000

Tim Redaksi Feedberry ·1 Juni 2026 pukul 03.45 · Sumber: CNBC Indonesia ↗
6.7 Skor

Inovasi pirolisis BRIN punya potensi besar mengolah sampah plastik menjadi solar murah, tapi masih terganjal regulasi jual beli dan kritik risiko kesehatan – menunggu kepastian kebijakan.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pirolisis multikondensor yang mengubah sampah plastik bernilai rendah – seperti sachet, multilapis, dan kantong tipis – menjadi bahan bakar minyak solar setara yang disebut Petasol. Setiap kilogram sampah plastik menghasilkan rata-rata 0,8 liter Petasol, dengan proses delapan jam pada suhu 250-350°C. Biaya produksi hanya Rp5.000Rp6.160 per liter, dan bisa ditekan hingga Rp4.000Rp5.000 jika bahan baku dari bank sampah seharga Rp200 per kilogram. Harga jual ditetapkan Rp10.000 per liter karena belum ada regulasi jual beli, menghasilkan laba bersih Rp8,6 juta per bulan untuk kapasitas 100 kilogram per hari, dengan titik impas dalam 2,5 tahun.

Teknologi ini telah direplikasi di lebih dari 60 lokasi di Indonesia, seperti Cimahi, Yogyakarta, dan Semarang, dan telah digunakan pada kendaraan diesel, perahu nelayan, serta alat pertanian selama lebih dari empat tahun dengan performa dinilai aman. Namun, rencana pengembangan BBM dari sampah mendapat kritik keras dari Nexus3 Foundation yang menilai teknologi pirolisis tetap menguapkan senyawa kimia berbahaya seperti PFAS dan phthalates, serta belum ada baku mutu emisi. Rencana ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang pengelolaan sampah perkotaan menjadi energi terbarukan, dengan pilot project di enam TPA.

Di sisi lain, proyek waste-to-energy (WtE) tahap kedua mencatat lonjakan peminat empat kali lipat menjadi 85 perusahaan, termasuk investor asing, yang menunjukkan minat besar terhadap solusi sampah menjadi energi. Meski demikian, dua variabel krusial – tarif listrik dengan PLN dan kebijakan tipping fee – belum jelas, sehingga bankability proyek masih dipertanyakan. Yang tidak terlihat dari headline ini: keberhasilan komersialisasi Petasol sangat bergantung pada kepastian regulasi jual beli dan standar emisi. Tanpa aturan yang jelas, produsen tidak bisa menjual secara resmi di pasar, dan investor enggan masuk. Selain itu, kritik dari pegiat lingkungan bisa memicu moratorium atau kajian ulang. Jika regulasi akhirnya mendukung, teknologi pirolisis berpotensi mengurangi impor solar dan menekan biaya energi bagi UMKM serta transportasi pedesaan.

Dalam konteks defisit APBN Rp240 triliun per Maret 2026, solusi energi alternatif yang murah sangat dibutuhkan.

Mengapa Ini Penting

Inovasi pirolisis BRIN menawarkan solusi konkret untuk dua masalah besar Indonesia: sampah plastik yang tidak terkelola dan ketergantungan pada impor BBM. Dengan biaya produksi setengah harga solar subsidi, teknologi ini bisa menjadi game changer bagi ekonomi pedesaan dan UMKM – asalkan regulasi mengizinkan. Namun, risiko kesehatan dan lingkungan yang diangkat oleh pegiat lingkungan bisa menghambat adopsi massal. Kejelasan regulasi dan standar akan menentukan apakah Petasol menjadi bisnis nyata atau sekadar proyek percontohan.

Dampak ke Bisnis

  • Potensi bisnis langsung bagi pengelola sampah dan bank sampah: dengan bahan baku murah Rp200–1.800/kg dan harga jual Rp10.000/liter, margin kotor mencapai Rp4.000–5.000 per liter. Skala 100 kg/hari menghasilkan laba bersih Rp8,6 juta/bulan. Jika regulasi jual beli diterbitkan, peluang ini bisa menarik UMKM dan koperasi untuk masuk ke bisnis pengolahan sampah jadi BBM.
  • Tekanan pada industri BBM konvensional: Petasol yang lebih murah dari solar nonsubsidi (di atas Rp13.000/liter) bisa menggerus pangsa pasar Pertamina dan importir solar, terutama di segmen nelayan, petani, dan transportasi pedesaan. Namun, skala produksi saat ini masih terlalu kecil untuk mengancam pasokan nasional.
  • Dampak negatif potensial: jika regulasi emisi diperketat akibat kritik Nexus3, biaya produksi bisa naik karena perlu alat pengendali polusi. Proyek pirolisis skala kecil bisa terpukul. Di sisi lain, perusahaan WtE skala besar (seperti Denera) justru diuntungkan karena sudah memiliki sistem pengelolaan emisi yang lebih ketat.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons Kementerian Lingkungan Hidup terhadap kritik Nexus3 Foundation – jika ada moratorium atau kewajiban AMDAL baru, pirolisis skala kecil bisa terhenti.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi regulasi jual beli yang tidak kunjung keluar – tanpa pasar resmi, produsen Petasol hanya bisa menjual secara informal dan tidak bisa skala up.
  • Sinyal penting: pengumuman standar mutu dan emisi dari Kementerian ESDM untuk BBM hasil pirolisis – ini akan menjadi pintu gerbang komersialisasi dan menarik investasi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.