22 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Korporasi / PGE Kejar 1 GW Panas Bumi 2028, Biaya US$6 Juta per MW
Korporasi

PGE Kejar 1 GW Panas Bumi 2028, Biaya US$6 Juta per MW

Tim Redaksi Feedberry ·21 Oktober 2026 pukul 21.20 WIB · Sinyal menengah · Sumber: CNBC Indonesia ↗
5.7 Skor

Bukan berita yang menuntut respons pasar besok, tapi menyentuh inti transisi energi Indonesia: risiko eksplorasi dan kurs yang mahal menentukan apakah target 1 GW pada 2028 realistis atau tidak.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
ekspansi
Nilai Transaksi
Kebutuhan investasi sekitar US$5 juta hingga US$6 juta per MW kapasitas
Timeline
1 GW pada 2028; 1,8 GW pada 2034
Alasan Strategis
Meningkatkan kapasitas pembangkit panas bumi yang dioperasikan sendiri dari 727 MW menjadi 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034, dengan memanfaatkan potensi pengembangan internal sekitar 3,2 GW dari total potensi nasional sekitar 24 GW.
Pihak Terlibat
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO)PLN

Ringkasan Eksekutif

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menargetkan kapasitas pembangkit panas bumi yang dioperasikan sendiri naik dari 727 MW menjadi 1 GW pada 2028, kemudian 1,8 GW pada 2034. Skalanya terasa berbeda ketika dibandingkan dengan potensi yang tersedia: panas bumi nasional disebut mencapai sekitar 24 gigawatt, sementara PGE sendiri mengklaim memiliki potensi pengembangan sekitar 3,2 GW. Dengan kata lain, kapasitas yang benar-benar beroperasi hari ini masih jauh di bawah apa yang secara teknis tersedia di bawah tanah. Direktur Operasi PGE, Andi Joko, menempatkan eksplorasi sebagai titik kritis — bukan konstruksi pembangkit. Perusahaan bisa mengebor dan tetap tidak menemukan uap yang layak dikomersialkan, sehingga belanja modal keluar lebih dulu tanpa jaminan pendapatan.

Struktur biaya panas bumi karena itu bersifat front-loaded: pengeluaran terbesar jatuh di fase paling tidak pasti, sementara listrik baru mengalir bertahun-tahun setelahnya. Ini menjelaskan mengapa Andi menekankan perlunya proses terintegrasi dari pencarian sumber hingga pengoperasian pembangkit — bukan sekadar soal teknis, melainkan soal menjaga agar investasi yang sudah ditanam tidak berhenti di tengah jalan. Angka investasinya memberi gambaran beban yang harus ditanggung. PGE memperkirakan kebutuhan dana sekitar US$5 juta hingga US$6 juta per MW, dan bisa lebih tinggi di lokasi yang memerlukan infrastruktur akses tambahan. Untuk menutup selisih 273 MW menuju target 2028 saja, hitungan sederhana dari angka artikel menghasilkan kebutuhan di kisaran US$1,4 miliar hingga US$1,6 miliar; menuju 1,8 GW pada 2034, kebutuhan itu membesar secara proporsional.

Ekspansi sebesar ini tidak mungkin ditopang kas internal semata, sehingga pintu pendanaan — hasil IPO, pembiayaan pihak luar, dan kerja sama dengan PLN — menjadi penentu laju, bukan sekadar pelengkap. Wilayah kerja yang disebut berjalan di Lahendong, Lumut Balai, dan Ulubelu, yang berarti program pengeboran harus bergerak serentak di beberapa lokasi sekaligus. Konteks pasar memperumit sekaligus memperjelas kalkulasi. Dengan USD/IDR berada di 17.943, komponen peralatan dan jasa pengeboran yang berdenominasi dolar menjadi lebih mahal ketika diterjemahkan ke rupiah — kompresor, turbin, casing, hingga rig sewaan.

Di sisi lain, Brent di US$109,56 justru memperbaiki daya saing relatif panas bumi terhadap pembangkit berbahan bakar fosil, terutama gas yang harganya bergerak mengikuti minyak. Kombinasi ini menciptakan insentif ekonomi yang kuat tetapi beban pembiayaan yang berat pada saat bersamaan.

Mengapa Ini Penting

Panas bumi adalah satu-satunya sumber energi terbarukan Indonesia yang bisa beroperasi sebagai baseload, bukan sekadar penambah kapasitas intermiten. Artinya kegagalan mengeksekusi target 1 GW bukan hanya soal satu emiten meleset dari janji — itu berarti bauran pembangkit nasional akan lebih lama bergantung pada batu bara dan gas. Masalah sesungguhnya bukan kelangkaan sumber daya, melainkan siapa yang menanggung risiko eksplorasi: pengembang memikul seluruh kemungkinan gagal, sementara manfaat sumber daya dinikmati bersama. Selama alokasi risiko ini tidak berubah, biaya modal proyek panas bumi akan selalu lebih mahal daripada proyek yang risikonya sudah terukur.

Dampak ke Bisnis

  • Kebutuhan US$5 juta hingga US$6 juta per MW membuka arus pesanan bagi penyedia jasa pengeboran, kontraktor sipil, dan pemasok peralatan pembangkit — sektor yang tidak disebut artikel tetapi menjadi penerima pertama belanja modal PGE.
  • Dengan USD/IDR di 17.943, setiap komponen impor dalam proyek ini menanggung beban kurs tambahan; ini menekan margin kontraktor lokal yang kontraknya bernilai rupiah tetapi belanjanya berdenominasi dolar.
  • Skema kerja sama dengan PLN menjadi titik penentu: bila PLN menanggung sebagian risiko eksplorasi, biaya pendanaan proyek turun dan target 2028 lebih mungkin tercapai; bila tidak, jadwal berpotensi bergeser dan penambahan kapasitas terbarukan nasional ikut tertunda.
  • Eksposur yang sering terlewat: perbankan dan lembaga pembiayaan yang membiayai proyek panas bumi ikut menanggung risiko kegagalan pengeboran, sementara kontrak jual-beli listrik jangka panjang menjadi satu-satunya jangkar arus kas.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: progres pengeboran di Lahendong, Lumut Balai, dan Ulubelu — ketiganya adalah indikator paling langsung apakah jalur menuju 1 GW pada 2028 masih realistis atau sudah perlu dikoreksi.
  • Risiko yang perlu dicermati: bila rupiah terus melemah dari level 17.943, biaya komponen impor proyek meningkat dalam rupiah dan struktur pendanaan yang sudah direncanakan berpotensi direvisi.
  • Sinyal penting: bentuk final kerja sama PGE dengan PLN — pembagian risiko eksplorasi di dalamnya menentukan biaya modal proyek dan menjadi acuan bagi pengembang panas bumi lain di luar PGE.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.