30 MEI 2026
Perusahaan Bitcoin Treasury Dikritik Minim Implementasi — Risiko Likuidasi dan Dampak ke Pasar Kripto Global

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Perusahaan Bitcoin Treasury Dikritik Minim Implementasi — Risiko Likuidasi dan Dampak ke Pasar Kripto Global
Forex & Crypto

Perusahaan Bitcoin Treasury Dikritik Minim Implementasi — Risiko Likuidasi dan Dampak ke Pasar Kripto Global

Tim Redaksi Feedberry ·30 Mei 2026 pukul 09.28 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
6.3 Skor

Kritik terhadap model bisnis Bitcoin treasury yang bergantung pada leverage murah mengemuka di tengah tekanan harga dan contoh kegagalan (Nakamoto -99%), namun dampak ke Indonesia lebih melalui sentimen dan volume ritel, bukan eksposur langsung korporasi besar.

Urgensi
7
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Pendiri BSTR, Sean Bill, mengecam banyak perusahaan yang mengklaim sebagai Bitcoin treasury karena tidak memiliki kemampuan untuk benar-benar mengimplementasikan aset digital tersebut. Dalam wawancara dengan CoinTelegraph di BitcoinVegas, Bill menjelaskan bahwa model ini hanya berfungsi jika perusahaan memiliki akses murah ke leverage. Jika tidak, perusahaan harus menciptakan nilai tambah lain di luar sekadar memegang Bitcoin—karena investor dapat dengan mudah membeli produk sederhana seperti ETF. Kritik ini muncul di tengah meningkatnya jumlah perusahaan publik yang mengadopsi strategi treasury Bitcoin. Data BitcoinTreasuries menunjukkan ada 198 perusahaan publik dengan total kepemilikan sekitar 1,25 juta Bitcoin. Michael Saylor melalui Strategy tetap menjadi pemegang korporat terbesar dengan 843.738 Bitcoin. Namun, tidak semua perusahaan berhasil menjalankan strategi ini.

Nakamoto (NAKA) menjadi contoh paling ekstrem: sahamnya anjlok 67% year-to-date dan lebih dari 99% dari puncak Mei 2025 di sekitar $34 per saham, sempat menyentuh $0,16 pada April sebelum melakukan reverse stock split. Nasdaq bahkan telah memperingatkan perusahaan tersebut pada Desember 2024 bahwa sahamnya akan dihapus dari bursa karena harga di bawah $1 selama 30 hari berturut-turut.

Mengapa Ini Penting

Kritik ini bukan sekadar peringatan bagi perusahaan kripto AS. Jika kepercayaan terhadap model Bitcoin treasury terus terkikis, gelombang likuidasi paksa bisa terjadi saat harga Bitcoin turun—mempercepat penurunan harga dan merembet ke pasar kripto global. Bagi Indonesia, yang memiliki basis investor kripto ritel terbesar di Asia Tenggara, penurunan sentimen global bisa langsung memangkas volume perdagangan di exchange lokal dan memperbesar risiko kerugian bagi investor domestik yang terekspos melalui produk leveraged atau saham proxy kripto.

Dampak ke Bisnis

  • Penurunan valuasi emiten Bitcoin treasury di AS dapat menular ke sentimen saham teknologi di IHSG, terutama emiten yang terkait blockchain dan fintech. Investor institusi mungkin mengurangi alokasi ke sektor ini, menekan harga saham di BEI.
  • Volume perdagangan kripto di Indonesia berpotensi turun signifikan jika kepercayaan investor ritel terganggu oleh berita negatif. Exchange lokal seperti Tokocrypto, Indodax, dan Pintu bisa mengalami penurunan pendapatan dari biaya transaksi.
  • Risiko kredit dan likuiditas membayangi perusahaan kripto yang menggunakan utang untuk membeli Bitcoin. Jika harga Bitcoin terus tertekan, kewajiban margin call bisa memicu likuidasi besar-besaran, merugikan investor yang memegang posisi leveraged di platform Indonesia.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pergerakan harga Bitcoin dan level psikologis—apakah mampu bertahan di atas level yang membuat sebagian besar posisi treasury masih menguntungkan. Jika harga jebol, likuidasi berantai bisa terjadi.
  • Risiko yang perlu dicermati: pengumuman dari pemegang treasury terbesar seperti Strategy terkait rencana pembiayaan atau penjualan aset. Jika mereka mulai melepas kepemilikan, itu akan menjadi sinyal krisis kepercayaan.
  • Sinyal penting: respons regulator Indonesia (Bappebti/OJK) terhadap perkembangan ini. Jika mereka mengeluarkan peringatan atau pembatasan leveraged trading, volume dan aktivitas pasar kripto domestik bisa menyusut tajam.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki salah satu pasar kripto ritel paling aktif di Asia Tenggara dengan volume transaksi yang tinggi di platform lokal. Sentimen global terhadap Bitcoin treasury secara langsung memengaruhi kepercayaan investor di dalam negeri. Exchange lokal dan pialang kripto bergantung pada likuiditas global dan kepercayaan investor. Jika gelombang risk-off terjadi, volume perdagangan bisa turun drastis, berdampak pada pendapatan platform dan potensi kerugian investor ritel. Regulator seperti Bappebti dan OJK perlu mencermati risiko sistemik dari produk leveraged dan margin trading yang ditawarkan oleh exchange di Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.