18 JUN 2026
Pertamina Targetkan E5 Pertamax Green di 6 Kota – Kurangi Impor Gasoline

Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / Pertamina Targetkan E5 Pertamax Green di 6 Kota – Kurangi Impor Gasoline
Korporasi

Pertamina Targetkan E5 Pertamax Green di 6 Kota – Kurangi Impor Gasoline

Tim Redaksi Feedberry ·17 Juni 2026 pukul 14.45 · Sinyal menengah · Sumber: CNBC Indonesia ↗
7 Skor

Perluasan BBM campuran bioetanol 5% memiliki dampak luas pada ketahanan energi, industri bioetanol domestik, dan potensi pengurangan impor gasoline, meskipun implementasi masih bertahap.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
ekspansi
Timeline
2026, khususnya mulai Juli 2026 untuk perluasan ke RON 92
Alasan Strategis
menekan impor gasoline, menciptakan lapangan kerja baru, membangun ketahanan energi nasional
Pihak Terlibat
PertaminaBP BUMNDanantara

Ringkasan Eksekutif

PT Pertamina (Persero) menargetkan perluasan implementasi pencampuran Bioetanol 5% (E5) pada BBM bensin Pertamax Green (RON 95) ke enam kota pada tahun 2026. Hingga Juni 2026, Pertamina telah mengoperasikan 178 SPBU yang menjual produk ini. Perluasan juga akan mencakup bahan bakar RON 92 (Pertamax) mulai Juli 2026.

Langkah ini diumumkan dalam rapat antara Direksi Pertamina dengan Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria pada 17 Juni 2026, yang mendorong percepatan proyek hilirisasi energi nasional. Tujuan strategisnya adalah menekan impor bahan bakar (gasoline), menciptakan lapangan kerja baru, dan membangun ketahanan energi berkelanjutan. Latar belakang keputusan ini tidak terlepas dari tekanan eksternal yang masih tinggi. Harga minyak mentah Brent berada di level USD79,61 per barel, sementara rupiah melemah ke posisi Rp17.748 per dolar AS. Kombinasi ini membuat biaya impor BBM membengkak dan membebani neraca perdagangan serta APBN. Perluasan E5 menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan pada impor gasoline melalui substitusi dengan bioetanol domestik. Ini merupakan bagian dari hilirisasi energi fase pertama yang juga mencakup pengembangan bioavtur.

Pertamina berkomitmen mempercepat dua proyek tersebut sebagai wujud nyata program energi nasional. Dampak langsung dari perluasan ini akan dirasakan oleh konsumen di enam kota target yang akan memiliki akses lebih luas terhadap bahan bakar dengan nilai oktan tinggi dan campuran nabati. Bagi Pertamina, produk E5 non-subsidi memberikan potensi margin yang lebih baik dibandingkan BBM bersubsidi, sekaligus memperkuat posisi di segmen retail. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada ketersediaan pasokan bioetanol dalam negeri. Jika produksi bioetanol belum mencukupi, Pertamina harus mengimpor bioetanol, yang dapat mengurangi manfaat penghematan devisa.

Di sisi lain, industri bioetanol nasional — yang berbasis tebu atau singkong — akan menerima dorongan permintaan, meskipun harus bersaing dengan kebutuhan pangan dan energi lainnya.

Mengapa Ini Penting

Perluasan BBM E5 BBM non-subsidi bukan sekadar penambahan varian produk; ini adalah langkah nyata hilirisasi energi yang bertujuan mengurangi impor gasoline secara struktural. Jika berhasil, Indonesia dapat memperbaiki neraca perdagangan dan cadangan devisa tanpa harus mengandalkan harga komoditas ekspor. Namun, kegagalan dalam menjaga harga jual kompetitif berisiko memperbesar beban subsidi energi di tengah kondisi fiskal yang ketat.

Dampak ke Bisnis

  • Industri bioetanol domestik akan diuntungkan oleh peningkatan permintaan dari Pertamina. Produsen berbasis tebu dan singkong berpotensi mendapatkan kontrak jangka panjang, namun perlu waspada terhadap tekanan harga bahan baku pangan yang bisa memicu inflasi pangan.
  • Konsumen di enam kota target akan mendapatkan akses bahan bakar dengan oktan lebih tinggi dan lebih ramah lingkungan. Namun, jika harga Pertamax Green tidak lebih murah atau setara dengan Pertamax reguler, minat pasar bisa rendah dan menyebabkan produk kurang laku, mengurangi efektivitas pengurangan impor.
  • Pertamina dan entitas hilirnya (seperti Pertamina Patra Niaga) akan merasakan manfaat margin dari penjualan BBM non-subsidi jika volume naik. Namun, jika pasokan bioetanol tidak tercukupi, Pertamina harus mengimpor bahan baku, yang mengurangi keuntungan dari segi devisa dan justru menambah beban logistik.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi jumlah SPBU yang menjual Pertamax Green di enam kota target pada semester II 2026. Jika penambahan lambat, kemungkinan ada kendala pasokan bioetanol atau infrastruktur distribusi.
  • Risiko yang perlu dicermati: harga jual Pertamax Green yang tidak kompetitif terhadap Pertalite bersubsidi. Jika konsumen beralih ke BBM subsidi, beban APBN bisa bertambah dan menggerus manfaat pengurangan impor.
  • Sinyal penting: kebijakan pemerintah mengenai insentif fiskal atau subsidi silang untuk bioetanol, serta rencana investasi kilang bioetanol baru. Kepastian regulasi akan menentukan keberlanjutan program E5 ke depannya.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.