13 JUN 2026
Pertamax Naik ke Rp16.250 – Pemerintah Beralasan Minyak Dunia, Subsidi Tetap

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Pertamax Naik ke Rp16.250 – Pemerintah Beralasan Minyak Dunia, Subsidi Tetap
Kebijakan

Pertamax Naik ke Rp16.250 – Pemerintah Beralasan Minyak Dunia, Subsidi Tetap

Tim Redaksi Feedberry ·12 Juni 2026 pukul 14.13 · Sinyal tinggi · Sumber: Katadata ↗
8 Skor

Kenaikan Pertamax 32% berdampak langsung pada inflasi, daya beli, dan sektor logistik – meski subsidi tetap, tekanan fiskal makin terasa.

Urgensi
8
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
9
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Penyesuaian Harga Pertamax (BBM Nonsubsidi)
Penerbit
Pertamina Patra Niaga dan Pemerintah RI (Sekretariat Kabinet)
Berlaku Sejak
2026-06-10
Perubahan Kunci
  • ·Harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter
  • ·Harga BBM bersubsidi (Pertalite Rp10.000/liter, Solar Rp6.800/liter) tetap tidak berubah
Pihak Terdampak
Konsumen pengguna Pertamax (kelas menengah ke atas, sektor transportasi, logistik, dan industri)Perusahaan transportasi dan logistik skala kecil-menengahIndustri manufaktur yang menggunakan BBM nonsubsidi sebagai input energiPemerintah – beban subsidi BBM tetap tinggi karena harga minyak dan rupiah lemahBank Indonesia – potensi tekanan inflasi yang dapat mendorong pengetatan moneter

Ringkasan Eksekutif

Pemerintah melalui Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengonfirmasi bahwa harga Pertamax sebagai BBM nonsubsidi mengikuti tren minyak dunia. Per 10 Juni 2026, Pertamina menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan ini terjadi setelah pemerintah menahan harga selama berbulan-bulan sejak Maret 2026, saat harga minyak dunia melonjak akibat konflik Iran-AS dan Israel. Teddy menegaskan bahwa BBM bersubsidi – Pertalite (Rp10.000/liter) dan Solar (Rp6.800/liter) – tidak mengalami kenaikan. Pemerintah juga membandingkan harga Pertamax dengan BBM RON 92/95 di negara Asia Tenggara lain yang jauh lebih mahal: Filipina Rp22.158, Laos Rp31.945, Thailand Rp28.910, Myanmar Rp25.085, dan Singapura Rp42.971 per liter. Pernyataan ini muncul di tengah aksi unjuk rasa mahasiswa yang menuntut penurunan harga BBM.

Dari sisi fiskal, kenaikan Pertamax tidak serta-merta mengurangi beban subsidi energi karena harga minyak dunia yang masih tinggi dan rupiah yang melemah (USD/IDR berada di kisaran 17.916) justru memperbesar subsidi untuk Pertalite dan Solar. Data pasar terkini mencatat harga minyak Brent di USD86,90 per barel, turun dari level tertinggi pasca eskalasi namun masih elevated. Dampak langsung kenaikan Pertamax adalah dorongan inflasi, terutama pada sektor transportasi dan logistik yang bergantung pada BBM nonsubsidi. Kenaikan biaya angkut akan merambat ke harga barang konsumen dan jasa. Sektor manufaktur dan industri pengolahan yang menggunakan Pertamax untuk operasional juga akan merasakan tekanan biaya.

Di sisi lain, keputusan menahan harga subsidi merupakan kebijakan populis yang melindungi daya beli masyarakat bawah, namun konsekuensinya adalah beban tambahan pada APBN di tengah defisit yang sudah melebar.

Dalam jangka pendek,

Mengapa Ini Penting

Kenaikan Pertamax bukan sekadar penyesuaian harga – ini adalah sinyal bahwa tekanan fiskal dan moneter semakin nyata. Pemerintah memilih melindungi subsidi BBM rakyat dengan mengorbankan konsumen kelas menengah yang menggunakan Pertamax, namun beban fiskal dari subsidi tetap besar karena harga minyak dan kurs. Implikasinya: inflasi inti berpotensi naik, mengurangi daya beli rumah tangga non-subsidi, sementara ruang gerak kebijakan fiskal dan moneter makin sempit.

Dampak ke Bisnis

  • Sektor transportasi dan logistik: Kenaikan harga Pertamax langsung meningkatkan biaya operasional – perusahaan logistik yang menggunakan armada dengan BBM nonsubsidi akan tertekan marginnya. Efeknya bisa merambat ke harga barang konsumen dalam 1-2 bulan ke depan, mendorong inflasi lebih tinggi.
  • Manufaktur dan industri padat energi: Pabrik yang bergantung pada BBM nonsubsidi untuk produksi atau distribusi akan menghadapi kenaikan biaya input. Sektor yang paling rentan adalah industri pengolahan makanan, tekstil, dan barang konsumen cepat bergerak dengan margin tipis.
  • Emiten ritel dan konsumen: Daya beli konsumen kelas menengah – yang menjadi basis pengguna Pertamax – akan tertekan. Emiten ritei, properti, dan otomotif dapat mengalami penurunan penjualan jika tekanan inflasi berlanjut dan suku bunga naik.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pergerakan harga minyak Brent – jika tembus USD90, kenaikan harga BBM nonsubsidi lanjutan mungkin terjadi, mendorong inflasi lebih tinggi.
  • Risiko yang perlu dicermati: kenaikan inflasi inti pada rilis data bulan Juli – jika di atas 3%, Bank Indonesia bisa menaikkan suku bunga acuan, menekan kredit dan investasi.
  • Sinyal penting: respons BI terhadap tekanan inflasi – keputusan suku bunga pada rapat dewan gubernur mendatang akan menjadi indikator arah kebijakan moneter ke depan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.