11 JUN 2026
Peretasan Massal Oracle PeopleSoft: 100+ Organisasi Kena, Indonesia Berisiko

Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Peretasan Massal Oracle PeopleSoft: 100+ Organisasi Kena, Indonesia Berisiko
Teknologi

Peretasan Massal Oracle PeopleSoft: 100+ Organisasi Kena, Indonesia Berisiko

Tim Redaksi Feedberry ·10 Juni 2026 pukul 21.33 · Sinyal menengah · Sumber: TechCrunch ↗
7 Skor

Pelanggaran data massal ini mengeksploitasi software enterprise yang banyak digunakan di Indonesia, meningkatkan risiko kebocoran data dan tuntutan kepatuhan UU PDP.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Grup peretas ShinyHunters mengklaim telah membobol server Oracle PeopleSoft milik lebih dari 100 organisasi di seluruh dunia, termasuk banyak universitas. Klaim ini disampaikan langsung oleh anggota kelompok tersebut kepada TechCrunch dan pertama kali dilaporkan oleh BleepingComputer. Data yang dicuri sangat sensitif: data mahasiswa, pelamar, bantuan keuangan, imigrasi, kesehatan, dan administrasi — termasuk alamat rumah, nomor telepon, email, dan tanggal lahir. PeopleSoft adalah perangkat lunak enterprise yang digunakan untuk mengelola penggajian, sumber daya manusia, administrasi, dan operasi bisnis lainnya. ShinyHunters dikenal sebagai kelompok kriminal siber yang sangat produktif; modus operandinya adalah mencari celah di perangkat lunak populer sehingga bisa mengompromikan banyak korban sekaligus.

Menariknya, tujuan awal kelompok ini adalah membobol server PeopleSoft milik FBI — mereka ingin membantah tuduhan bahwa mereka berada di balik gelombang serangan swatting yang disebutkan FBI dalam peringatan bulan lalu. Namun upaya itu gagal, sehingga mereka mengalihkan sasaran ke organisasi lain. Oracle sendiri tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Insiden ini menjadi pengingat bahwa ancaman siber semakin masif dan terorganisir. Di Indonesia, Oracle PeopleSoft digunakan oleh sejumlah universitas negeri dan swasta, serta perusahaan-perusahaan besar di sektor perbankan, manufaktur, dan jasa. Jika celah keamanan yang sama dieksploitasi ke organisasi di Indonesia, risiko kebocoran data pribadi warga negara Indonesia menjadi sangat nyata.

Apalagi, Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) telah berlaku dan mewajibkan pengendali data untuk menjaga kerahasiaan data, dengan sanksi administratif dan pidana jika terjadi kebocoran. Perusahaan dan institusi di Indonesia yang menggunakan PeopleSoft harus segera mengaudit postur keamanan siber mereka, memastikan patch terbaru telah diterapkan, dan menyiapkan rencana respons insiden.

Di sisi lain, berita ini juga membuka peluang bagi penyedia layanan keamanan siber di Indonesia — baik konsultan, solusi endpoint detection and response, maupun managed security services — untuk meningkatkan permintaan. Ke depan,

Mengapa Ini Penting

Berita ini menandai pergeseran ancaman siber dari serangan individual ke eksploitasi kerentanan massal pada software enterprise yang digunakan oleh ribuan organisasi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Bagi ekosistem bisnis Indonesia yang semakin digital, insiden seperti ini menguji ketangguhan keamanan siber nasional dan kepatuhan terhadap UU PDP. Organisasi yang gagal mengamankan sistemnya menghadapi risiko denda hingga 2% dari pendapatan tahunan, belum lagi kerugian reputasi dan kepercayaan pelanggan.

Dampak ke Bisnis

  • Organisasi di Indonesia yang menggunakan Oracle PeopleSoft — termasuk universitas, bank, dan perusahaan jasa — menghadapi risiko langsung serupa. Mereka harus segera melakukan audit keamanan, meng-update patch, dan meningkatkan monitoring. Jika terjadi kebocoran, biaya hukum, denda, dan kompensasi bisa membengkak.
  • Penyedia jasa keamanan siber di Indonesia akan mendapatkan lonjakan permintaan untuk konsultasi, penetration testing, dan solusi keamanan endpoint. Emiten di sektor teknologi yang fokus pada keamanan siber dapat mengalami sentimen positif, meskipun perlu diverifikasi dari laporan keuangan masing-masing.
  • Sentimen risiko global (risk-off) dapat menekan valuasi saham teknologi di BEI, terutama jika peretasan ini diikuti dengan publikasi data yang memicu kekhawatiran investor terhadap tata kelola data perusahaan publik Indonesia.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pernyataan resmi Oracle — apakah mereka mengakui kerentanan dan merilis patch. Jika tidak ada tanggapan dalam 2 minggu, risiko serangan lanjutan meningkat.
  • Risiko yang perlu dicermati: tanggapan Kementerian Komunikasi dan Digital serta BSSN — apakah mereka mengeluarkan imbauan atau mewajibkan audit bagi pengguna PeopleSoft di Indonesia. Ini bisa menambah beban biaya kepatuhan jangka pendek.
  • Sinyal penting: pergerakan saham emiten teknologi di BEI, khususnya yang terkait keamanan siber — jika terjadi kenaikan volume transaksi di luar kebiasaan, itu bisa mengindikasikan ekspektasi pasar terhadap peningkatan belanja keamanan siber.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki banyak universitas negeri dan swasta serta perusahaan besar yang menggunakan Oracle PeopleSoft. Pelanggaran data massal ini menyoroti kerentanan rantai pasok perangkat lunak global yang langsung berdampak pada organisasi di Indonesia. Dengan berlakunya UU PDP, prosesor data dan pengendali data di Indonesia memiliki kewajiban hukum untuk melindungi data pribadi. Insiden ini mendorong perlunya audit keamanan siber secara proaktif, serta meningkatkan urgensi penerapan standar keamanan seperti ISO 27001. Di sisi lain, perusahaan keamanan siber dalam negeri berpotensi mendapat permintaan layanan yang lebih tinggi, mengingat skala ancaman yang terus meningkat.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.