5 NOV 2026
← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Peretas Binance Alirkan 81% Solana Curian via THORChain
Forex & Crypto

Peretas Binance Alirkan 81% Solana Curian via THORChain

Tim Redaksi Feedberry ·4 November 2026 pukul 16.15 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
5.3 Skor

Perpindahan 81% jarahan menandai fase pencucian dana yang paling sulit dibendung, tetapi jalur dampaknya ke Indonesia bersifat tidak langsung — lewat biaya kepatuhan dan sentimen risiko aset digital.

Urgensi
6
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
4

Ringkasan Eksekutif

Peretas yang membobol Binance telah memindahkan sekitar 81% dari 970.522 SOL curian. Dompet yang dikelompokkan platform data blockchain Arkham sebagai entitas peretas Binance masih menyimpan 182.443 SOL senilai US$16,9 juta, atau 18,8% dari total jarahan. Alurnya berlapis: SOL dipecah ke banyak dompet, dijual menjadi USDC, dijembatani ke Ethereum untuk dibelikan Ether, lalu ditukar menjadi Bitcoin lewat protokol swap lintas rantai THORChain. Investigator blockchain SomaXBT memperkirakan sekitar 54% dari lebih 47.600 transaksi peretas di Tron dan Solana berjalan otomatis. Chainalysis menghitung sekitar US$500 juta nilai berpindah melalui Tron, termasuk transfer berulang antardompet. Peretas memperluas aktivitas ke Solana pada Minggu setelah mengosongkan sebagian besar dompet penampung sementara di Tron.

Yang tidak terlihat dari headline: pemindahan dana ini sebenarnya sempat tertahan bukan oleh aparat, melainkan oleh kerusakan teknis. THORChain menghentikan layanan Sabtu setelah reorganisasi satu blok di Ethereum membuka celah pengembalian dana, dan baru memulihkan perdagangan di Bitcoin, Ethereum, serta sejumlah rantai lain pada Rabu. Chainalysis menilai penghentian itu tanpa sengaja memperlambat pencucian dana. Artinya, selama beberapa hari, satu bug kontrak berfungsi lebih efektif sebagai pemblokir arus dana gelap dibanding permintaan lembaga penegak hukum. FBI pada Sabtu mengatribusikan serangan ke kelompok TraderTraitor Korea Utara dan mendesak penyedia jasa kripto, termasuk operator THORNode, memblokir transaksi terkait aset curian. Kim Yo Jong menepis tuduhan itu sebagai retorika absurd.

Namun THORChain berjalan tanpa otoritas pusat, sehingga permintaan pemblokiran bergantung pada kesediaan operator node — dan di situlah celah kepatuhan berada. Dampaknya paling dulu terasa pada arsitektur kepercayaan industri, bukan pada harga aset. Binance menyatakan telah mengganti 98% token terdampak dan menanggung kerugian dengan sumber daya perusahaan. Namun presedennya berat: kelompok yang dikaitkan dengan Korea Utara juga dicurigai memakai THORChain untuk mencuci hasil pembobolan Bybit senilai US$1,4 miliar. Pola ini menunjukkan bahwa jalur konversi lintas rantai telah menjadi infrastruktur tetap bagi kejahatan siber berskala besar, bukan sekadar kanal darurat.

Konsekuensi lanjutannya menimpa pihak yang tidak disebut dalam insiden: bursa lapis kedua dan penyedia kustodian kecil yang tidak punya anggaran audit setara Binance akan menanggung kenaikan biaya kepatuhan, sementara likuiditas justru mengalir ke pemain dengan neraca paling tebal.

Mengapa Ini Penting

Insiden ini menggeser titik lemah industri kripto dari harga ke rekonsiliasi. Selama bertahun-tahun, risiko terbesar protokol lintas rantai dibaca sebagai serangan siber langsung; kejadian ini menunjukkan bahwa celahnya justru ada pada asumsi finalitas rantai eksternal dan pada ketiadaan pihak yang bertanggung jawab ketika rekonsiliasi gagal. Bagi dunia usaha, konsekuensinya adalah kenaikan biaya kepatuhan yang menular lewat uji tuntas perbankan terhadap mitra bursa — jalur yang tidak terlihat di grafik harga, tetapi lebih permanen.

Dampak ke Bisnis

  • Penyelenggara aset digital di Indonesia menghadapi ekspektasi biaya keamanan dan audit yang naik, karena standar kustodi global cenderung menular lewat tekanan mitra perbankan dan penyedia jasa pembayaran, bukan lewat aturan domestik.
  • Bursa lapis kedua dan kustodian kecil menjadi pihak yang paling tertekan: bantalan modal lebih tipis, biaya kepatuhan naik, sementara likuiditas mengalir ke pemain utama yang dinilai mampu menyerap kerugian.
  • Protokol lintas rantai tanpa izin menghadapi risiko reputasi dan hukum yang baru — setiap jaringan yang terhubung menambah satu titik kegagalan yang tidak bisa dikendalikan pengembang, dan ini akan memengaruhi cara penyedia likuiditas menghitung risiko lawan transaksi dalam 3–6 bulan ke depan.
  • Bank dan sekuritas yang memiliki eksposur tidak langsung ke bursa aset digital akan menghadapi pertanyaan uji tuntas yang lebih ketat, terutama pada skenario gangguan layanan mitra.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pergerakan sisa 182.443 SOL senilai US$16,9 juta — bila mulai dipecah ke dompet baru, fase pencucian memasuki tahap akhir dan jalur konversi lintas rantai kembali menjadi fokus otoritas.
  • Risiko yang perlu dicermati: keputusan operator node THORChain soal pemblokiran alamat terkait dana curian — bila ditolak, tekanan regulator terhadap protokol tanpa izin akan meningkat dan berdampak pada biaya kepatuhan seluruh ekosistem, termasuk penyelenggara lokal.
  • Sinyal penting: keberlanjutan arus masuk bersih Binance senilai US$2,3 miliar setelah penarikan dibuka penuh — arus keluar bersih harian yang kembali negatif menandakan kepercayaan kustodi belum stabil.
  • Yang perlu diawasi: arah atribusi resmi FBI dan respons yurisdiksi lain — bila kesimpulan lembaga penegak hukum menguat, kewajiban pelaporan insiden dan standar dompet dingin berpotensi menjadi norma baru bagi platform yang melayani pengguna Indonesia.

Konteks Indonesia

Jalur dampaknya ke Indonesia berjalan lewat dua kanal. Pertama, sentimen risiko aset digital: pasar ritel kripto domestik aktif, sehingga setiap kenaikan standar keamanan global menaikkan ekspektasi biaya operasional dan audit penyelenggara aset digital lokal yang beroperasi lewat badan hukum dalam negeri di bawah pengawasan regulator. Kedua, psikologi pasar yang lebih luas — IHSG berada di 4.920 setelah terkoreksi 3,47% dan USD/IDR di 18.140, kombinasi yang mencerminkan selera risiko tertekan. Pada posisi kurs tersebut, aset berdenominasi dolar yang diperdagangkan terhadap stablecoin menjadi lebih mahal saat dirupiahkan, sehingga biaya masuk bagi investor ritel domestik ikut meningkat. Risiko aset digital juga tidak masuk ke sistem keuangan domestik melalui harga, melainkan melalui uji tuntas perbankan terhadap mitra bursa dan biaya kepatuhan yang dibebankan ke penyelenggara.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.