26 JUN 2026
Perang Kuantum AS-China Meredupkan Kolaborasi Global, Indonesia Terjepit

Foto: Asia Times — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Perang Kuantum AS-China Meredupkan Kolaborasi Global, Indonesia Terjepit
Teknologi

Perang Kuantum AS-China Meredupkan Kolaborasi Global, Indonesia Terjepit

Tim Redaksi Feedberry ·25 Juni 2026 pukul 22.22 · Sinyal tinggi · Sumber: Asia Times ↗
4.3 Skor

Persaingan teknologi kuantum AS-China belum berdampak langsung ke Indonesia dalam jangka pendek, tetapi berpotensi mengubah rantai pasok teknologi, akses riset, dan keamanan siber dalam 3-5 tahun ke depan.

Urgensi
4
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
3

Ringkasan Eksekutif

Persaingan teknologi kuantum antara Amerika Serikat dan China semakin memanas. Presiden AS Donald Trump baru saja menandatangani perintah eksekutif yang mewajibkan badan federal memperkuat rantai pasok kuantum domestik, memperbarui strategi nasional, dan memperluas perlindungan kontra-intelijen untuk teknologi kuantum. Perintah ini secara eksplisit menyebut negara-negara saingan, termasuk China, sebagai ancaman langsung terhadap kepemimpinan kuantum AS. Di sisi industri, perusahaan kuantum mengambil strategi yang sangat bervariasi tergantung geografinya. Perusahaan AS seperti Quantum Computing Inc (QCI) memilih membangun pabrik di Arizona untuk memproduksi chip fotonik litium niobate film tipis, sebagai upaya memitigasi risiko geopolitik. Sementara itu, perusahaan Eropa dan Inggris melihat celah untuk melayani negara-negara non-blok yang tidak ingin terikat pada salah satu kubu.

Taiwan, yang terperangkap di antara kedua raksasa, berusaha membangun kapasitas kuantum domestik sebelum kontrol ekspor diperketat. Yang tidak terlihat dari headline ini adalah bahwa fragmentasi ekosistem kuantum justru dapat memperlambat inovasi secara keseluruhan. Teknologi kuantum pada dasarnya sangat kolaboratif — riset dasar, pengembangan perangkat keras, dan aplikasi membutuhkan pertukaran ilmuwan, data, dan komponen lintas batas. Ketika AS dan China saling menutup akses, dunia kehilangan efek jaringan yang mempercepat komersialisasi. Bagi Indonesia, dampaknya masih bersifat jangka menengah. Indonesia saat ini bukan pemain signifikan dalam riset kuantum, tetapi sebagai pengimpor teknologi tinggi, ketergantungan pada solusi komputasi masa depan bisa menjadi masalah jika akses terhambat.

Di sisi keamanan siber, jika kemajuan kuantum terhambat, ancaman terhadap enkripsi saat ini juga tertunda, sehingga urgensi migrasi ke post-quantum cryptography bisa sedikit melonggar. Namun, jika fragmentasi berlanjut, Indonesia bisa kehilangan akses ke teknologi kuantum yang lebih murah dan terbuka.

Mengapa Ini Penting

Persaingan kuantum AS-China bukan sekadar berita teknologi global — ini menentukan arsitektur komputasi dunia dekade berikutnya. Indonesia, meski bukan produsen, adalah konsumen teknologi yang akan sangat bergantung pada hasil dari perlombaan ini untuk keamanan siber, optimasi logistik, dan riset farmasi. Jika fragmentasi pasar terus berlanjut, Indonesia berisiko kehilangan akses ke teknologi terbaik yang terbuka dan terjangkau.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan teknologi dan riset di Indonesia kemungkinan akan menghadapi pilihan antara ekosistem AS, China, atau Eropa — masing-masing dengan biaya dan risiko kepatuhan yang berbeda, yang dapat memperlambat adopsi komputasi kuantum di sektor keuangan, farmasi, dan transportasi.
  • Keamanan siber nasional akan terpengaruh oleh linimasa kuantum: jika terobosan tertunda karena fragmentasi, maka ancaman 'harvest now, decrypt later' tetap rendah, sehingga prioritas migrasi enkripsi bisa ditunda. Sebaliknya, percepatan unilateral oleh AS atau China bisa menciptakan ketimpangan akses.
  • Investasi asing di sektor riset dan manufaktur kuantum di Indonesia bisa terhambat karena ketidakpastian aturan ekspor dan sanksi. Indonesia sebagai negara non-blok justru berpotensi menjadi lokasi netral untuk riset kolaboratif, tetapi jika polarisasi meningkat, peluang itu bisa tertutup.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: detail implementasi perintah eksekutif Trump — apakah ada target anggaran spesifik untuk quantum supply chain dalam 6 bulan ke depan, dan bagaimana respons China dalam bentuk subsidi riset atau pembatasan ekspor rare earth.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi larangan ekspor peralatan kuantum ke China yang diperluas — bisa menyeret negara ketiga seperti Indonesia jika ada aturan re-export, berdampak pada impor komponen riset.
  • Sinyal penting: keputusan Kemenristek/BRIN apakah akan mulai membentuk kerja sama dengan ekosistem kuantum Eropa (misalnya UK, Belanda) yang lebih netral — ini akan menjadi indikator strategi Indonesia dalam menghadapi fragmentasi teknologi.

Konteks Indonesia

Indonesia saat ini bukan pemain utama dalam riset komputasi kuantum. Namun, sebagai negara pengimpor teknologi dan konsumen besar jasa keuangan digital, kemajuan kuantum akan mempengaruhi enkripsi perbankan, keamanan data, dan potensi aplikasi logistik. Fragmentasi ekosistem global akibat persaingan AS-China dapat mempersulit akses Indonesia terhadap teknologi kuantum yang terbuka dan murah. Di sisi lain, posisi netral Indonesia bisa menjadi modal untuk menarik investasi riset dari perusahaan Eropa yang mencari lokasi uji coba dan pengembangan di luar blok geopolitik.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.