24 AGS 2026
Perang Dagang AS-Kanada dan Ancaman Hormuz: Dolar Melemah, Minyak Berisiko Naik

Foto: FXStreet — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Perang Dagang AS-Kanada dan Ancaman Hormuz: Dolar Melemah, Minyak Berisiko Naik
Forex & Crypto

Perang Dagang AS-Kanada dan Ancaman Hormuz: Dolar Melemah, Minyak Berisiko Naik

Tim Redaksi Feedberry ·24 Agustus 2026 pukul 02.03 · Sinyal tinggi · Sumber: FXStreet ↗
7.7 Skor

Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz dan perang dagang AS-Kanada menciptakan tekanan ganda: harga minyak berpotensi naik membebani importir Indonesia, sementara pelemahan dolar memberi ruang bagi rupiah — namun risk-off global dapat membalikkan sentimen.

Urgensi
8
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
7
Analisis Data Pasar
Instrumen
USD/CAD
Harga Terkini
1.3800
Perubahan %
+0.30%
Level Teknikal
Support di 1.3698, resistance di 1.3844 (200-day SMA) dan 1.3815 (Fibonacci 61.8%)
Katalis
  • ·Tarif AS 50% pada barang Kanada senilai US$20 miliar
  • ·Respons tarif balasan Kanada mulai 8 September
  • ·Pelemahan dolar AS karena ekspektasi Fed tidak menaikkan suku bunga
  • ·Pengumuman Treasury AS menggandakan pembelian kembali obligasi jangka panjang
  • ·Ancaman sanksi AS terhadap Iran dan respons Iran soal Selat Hormuz

Ringkasan Eksekutif

USD/CAD menguat 0,30% ke area 1,3800 pada perdagangan Senin, setelah sempat menyentuh level terendah tiga bulan pada Jumat lalu. Penguatan ini terjadi di tengah eskalasi perang dagang AS-Kanada: AS memberlakukan tarif 50% terhadap barang Kanada senilai US$20 miliar setelah negosiasi dagang gagal, dan Kanada berencana membalas dengan tarif balasan mulai 8 September.

Di sisi lain, dolar AS justru melemah karena ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga, ditambah pengumuman Treasury AS yang akan menggandakan operasi pembelian kembali obligasi jangka panjang mulai September — langkah yang menekan imbal hasil obligasi AS dan membuat dolar kurang menarik.

Mengapa Ini Penting

Perang dagang AS-Kanada dan ancaman gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz menciptakan dua tekanan berlawanan bagi Indonesia: pelemahan dolar AS dapat mendukung rupiah, tetapi kenaikan harga minyak serta meluasnya risk-off global justru menekan nilai tukar dan pasar keuangan domestik. Ini menguji ketahanan eksternal Indonesia di tengah defisit fiskal yang telah melebar, karena setiap guncangan eksternal akan mempersempit ruang fiskal dan moneter pemerintah.

Dampak ke Bisnis

  • Kenaikan harga minyak akibat potensi gangguan di Selat Hormuz akan meningkatkan biaya impor BBM dan LPG, memperlebar defisit neraca perdagangan, dan menekan subsidi energi pemerintah — beban fiskal yang sudah besar akan semakin berat.
  • Pelemahan dolar AS bisa mengurangi tekanan depresiasi rupiah dan memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk menahan suku bunga. Namun, jika risk-off global berlanjut, arus keluar modal dari SBN dan IHSG justru menekan rupiah dan membuat imbal hasil obligasi domestik naik.
  • Eskalasi perang dagang global dapat mengganggu rantai pasok dan menekan permintaan komoditas dari China — mitra dagang utama Indonesia — yang berimbas pada harga ekspor batu bara, nikel, dan CPO dalam beberapa bulan ke depan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pengumuman sanksi AS terhadap Iran oleh Menteri Keuangan Scott Bessent — jika sanksi mencakup sektor minyak, harga Brent berpotensi melonjak dan menekan biaya impor energi Indonesia.
  • Risiko yang perlu dicermati: pembalikan arah dolar AS — jika pelemahan hanya bersifat sementara dan dolar kembali menguat, rupiah berisiko terdepresiasi lebih dalam, terutama jika data inflasi AS berikutnya tetap tinggi.
  • Sinyal penting: respons Kanada terhadap tarif AS dan potensi eskalasi lebih lanjut — perang dagang yang meluas dapat meningkatkan ketidakpastian global dan memicu risk-off di pasar emerging market, termasuk Indonesia.

Konteks Indonesia

Indonesia, sebagai importir minyak netto, akan merasakan dampak langsung dari potensi kenaikan harga minyak global akibat ancaman penghentian ekspor minyak melalui Selat Hormuz. Pelemahan dolar AS dapat membantu meredakan tekanan pada rupiah, tetapi jika ketegangan geopolitik memicu risk-off global, arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia justru akan menekan rupiah dan IHSG. Data pasar saat ini menunjukkan USD/IDR berada di 17.700 dan harga Brent di US$92,58 per barel — level yang sudah mencerminkan tekanan, namun masih bisa memburuk jika eskalaasi terjadi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.