31 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Kebijakan / Pemungutan Suara Tertutup Ilmuwan PBB Soal CCS Hambat Iklim
Kebijakan

Pemungutan Suara Tertutup Ilmuwan PBB Soal CCS Hambat Iklim

Tim Redaksi Feedberry ·31 Oktober 2026 pukul 05.38 WIB · Sinyal tinggi · Sumber: Asia Times ↗
6 Skor

Bukan peristiwa pasar hari ini, tetapi menyentuh fondasi kredibilitas kredit karbon berbasis teknologi yang menjadi tumpuan peta jalan net-zero emiten energi, semen, dan baja — termasuk yang sedang menyiapkan kepatuhan emisi di Indonesia.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Laporan Khusus IPCC tentang Carbon Capture and Storage (proses finalisasi di Oviedo)
Penerbit
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) — Perserikatan Bangsa-Bangsa
Berlaku Sejak
2005
Perubahan Kunci
  • ·Pemungutan suara tertutup dalam proses finalisasi ikut menentukan rumusan laporan soal risiko kebocoran penyimpanan karbon, dan menurut investigasi langkah itu memperlambat arah kebijakan iklim.
  • ·Lebih dari 100 ilmuwan dilibatkan, dengan basis bukti lapangan terbatas pada tiga eksperimen skala besar dan hanya satu yang menguji penyimpanan permanen secara ketat.
Pihak Terdampak
Produsen minyak dan gasPembangkit listrik berbahan bakar fosilProdusen semen, baja, dan pupukPenerbit dan pembeli kredit karbonPemerintah yang menyusun kerangka regulasi CCS

Ringkasan Eksekutif

Pada musim semi 2005, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumpulkan lebih dari 100 ilmuwan terkemuka dunia di Oviedo, Spanyol, guna merampungkan laporan besar soal carbon capture and storage (CCS) — teknologi yang diharapkan menahan laju perubahan iklim. Investigasi ProPublica dan Drilled yang diterbitkan ulang Asia Times menemukan bahwa sebuah pemungutan suara tertutup dalam proses penyusunan laporan itu ikut memperlambat arah kebijakan iklim. Sally Benson, geosaintis dari Lawrence Berkeley National Lab, memimpin bab soal penyimpanan karbon di bawah permukaan. Dasar ilmiahnya tipis sejak awal. Tiga eksperimen skala besar berjalan, tetapi hanya satu yang menguji penyimpanan permanen secara ketat: operasi Norwegia yang menangkap karbon dari lapangan gas alam dan menyuntikkannya ke bawah dasar Laut Utara.

Di proyek itu, CO2 yang disuntikkan naik 700 kaki melewati rangkaian formasi geologi sebelum tertahan lapisan serpih — dan proyek dinyatakan berhasil. Karena bukti begitu sedikit, draf pertama para ilmuwan memperingatkan bahwa pernyataan luas soal risiko kebocoran akan "hampir tidak bermakna". Arab Saudi dan negara pengekspor minyak lain hadir dalam proses yang menentukan rumusan akhir tersebut. Inti persoalannya adalah permanence. Kredit karbon berbasis CCS hanya punya nilai jika gas buang itu benar-benar tinggal di bawah tanah — dalam rumusan laporan itu, selamanya. Bila fondasi ilmiahnya lebih rapuh daripada asumsi kebijakan, harga risiko kredit tersebut layak dipertanyakan.

Pihak yang paling terpapar adalah produsen minyak dan gas, pembangkit batu bara, pabrik semen, baja, dan pupuk, yakni seluruh sektor yang menjadikan CCS tulang punggung peta jalan net-zero. Pembeli kompensasi emisi juga terkena, termasuk emiten Indonesia yang berhadapan dengan target emisi absolut 1,34–1,49 GtCO2e pada 2030 lewat Second NDC 2025, seraya menyiapkan regulasi Nilai Ekonomi Karbon dan kredit karbon biru. Latar pasar hari ini tidak memberi kelonggaran. IHSG berada di 5.057 setelah terkoreksi 4,26%, rupiah di 18.138, dan Brent di $112,33 atau naik 1,38%. Biaya modal setinggi itu membuat belanja CCS berskala besar kian sulit dibenarkan secara komersial, sementara minyak di level tersebut justru menjaga insentif jangka pendek untuk tetap mengandalkan bahan bakar fosil.

Dalam satu sampai empat minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Legitimasi seluruh pasar kredit karbon berbasis teknologi bergantung pada satu klaim: karbon tetap terkubur. Investigasi ini menunjukkan klaim itu dirumuskan di ruang tertutup, dengan bukti lapangan yang baru diuji ketat oleh satu proyek, dan tekanan negara penghasil minyak ikut mewarnai hasilnya. Konsekuensinya bukan akademis semata — korporasi yang menjadikan CCS tumpuan net-zero menanggung risiko aset terbengkalai, sementara pemilik kredit berbasis alam seperti mangrove dan hutan berpeluang menikmati premi kredibilitas.

Dampak ke Bisnis

  • Produsen minyak dan gas, pembangkit batu bara, serta pabrik semen dan baja yang mengandalkan CCS sebagai jalur dekarbonisasi utama menghadapi potensi kenaikan biaya kepatuhan: jika standar permanence diperketat, setiap proyek penangkapan karbon membutuhkan pemantauan dan jaminan penyimpanan jangka panjang yang lebih mahal.
  • Pasar kredit karbon berpotensi terbelah dua — offset berbasis alam memperoleh dorongan kredibilitas relatif, sementara kredit berbasis penyimpanan teknologi menghadapi diskon risiko. Bagi Indonesia, ini memperkuat daya tarik karbon biru dan restorasi mangrove sebagai komoditas yang dapat dijual ke pembeli internasional.
  • Pihak yang jarang disebut: perusahaan asuransi dan penyedia jasa pemantauan bawah tanah. Ketidakpastian permanence menciptakan kebutuhan akan polis penanggung liabilitas kebocoran dan verifikasi teknis independen — ceruk layanan yang belum terbentuk di dalam negeri.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pembahasan standar permanence CCS di lembaga sertifikasi karbon internasional — jika syarat pemantauan diperketat, kredit berbasis penyimpanan kehilangan daya saing harga terhadap offset berbasis alam.
  • Risiko yang perlu dicermati: pergerakan rupiah dari level 18.138 — biaya modal yang lebih mahal memukul lebih dulu belanja proyek dekarbonisasi berjangka panjang ketimbang belanja operasional emiten.
  • Sinyal penting: arah regulasi turunan Nilai Ekonomi Karbon dan mekanisme perdagangan karbon domestik — kejelasan aturan menentukan apakah emiten batu bara dan semen memakai offset domestik atau menunda kepatuhan.

Konteks Indonesia

Indonesia menjadikan CCS sebagai salah satu jalur transisi energi dan tengah membangun instrumen Nilai Ekonomi Karbon serta kredit karbon biru, sehingga standar kredibilitas permanen penyimpanan menentukan apakah kredit berbasis teknologi maupun berbasis alam Indonesia diterima pembeli internasional. Bagi pembangkit batu bara, pabrik semen, dan kilang domestik, keraguan atas keandalan penyimpanan berarti biaya kepatuhan emisi jangka panjang menjadi lebih berat. Dengan IHSG di 5.057 dan rupiah di 18.138, biaya modal yang tinggi menekan kemampuan membiayai proyek CCS, sementara Brent di $112,33 menjaga insentif jangka pendek untuk tetap berpaling ke bahan bakar fosil.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.