27 MEI 2026
Peminat Proyek Sampah-Jadi-Listrik Melonjak 4 Kali Lipat — Investor Asing Dominasi Seleksi

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / Peminat Proyek Sampah-Jadi-Listrik Melonjak 4 Kali Lipat — Investor Asing Dominasi Seleksi
Korporasi

Peminat Proyek Sampah-Jadi-Listrik Melonjak 4 Kali Lipat — Investor Asing Dominasi Seleksi

Tim Redaksi Feedberry ·27 Mei 2026 pukul 02.02 · Sinyal menengah · Sumber: Katadata ↗
6 Skor

Proyek WtE menyentuh tiga isu strategis: darurat sampah, diversifikasi energi, dan investasi hijau — peningkatan minat 4 kali lipat menandakan momentum positif, namun eksekusi masih bergantung pada tata kelola dan kepastian tarif.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Seleksi proyek waste-to-energy (WtE) tahap dua mencatat lonjakan peminat signifikan. Sebanyak 85 perusahaan masuk Daftar Penyedia Terseleksi (DPT), naik hampir empat kali lipat dibandingkan tahap pertama yang hanya 24 peserta. Peserta berasal dari dalam dan luar negeri — Korea Selatan, Jepang, Cina, Eropa, India, dan Singapura. CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) Fadli Rahman menyebut peningkatan ini mencerminkan besarnya potensi bisnis WtE dan peluang aliran investasi ke Indonesia. Denera adalah holding usaha baru bentukan Danantara yang mengelola proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Fadli menegaskan komitmen terhadap transparansi dan kompetisi dalam proses seleksi mitra. Dari sisi teknis, teknologi yang digunakan harus relevan dengan kondisi lokal Indonesia, sehingga seleksi bertumpu pada pengalaman dan rekam jejak perusahaan, bukan negara asal.

Praktisi energi Feiral Rizky Batubara mengingatkan bahwa fungsi utama WtE adalah instrumen penyelamatan lingkungan, sementara listrik yang dihasilkan adalah manfaat tambahan. Keberhasilan proyek, ujarnya, tergantung pada transparansi tata kelola, kepastian regulasi, dan keberlanjutan pembiayaan hijau. Tahap berikutnya, 85 perusahaan akan dievaluasi dari aspek teknis, kesiapan biaya, kesesuaian teknologi, dan kemampuan operasional. Pemerintah menargetkan pembangunan fasilitas WtE di lebih dari 30 titik di berbagai wilayah Indonesia. Yang tidak terlihat dari headline ini adalah bahwa lonjakan minat investor belum menjamin keberhasilan proyek. Dua variabel krusial yang belum dibahas dalam artikel adalah tarif listrik yang disepakati dengan PLN dan kebijakan tipping fee — biaya yang dibayarkan pemerintah daerah per ton sampah yang diolah. Tanpa kepastian dua variabel ini, bankability proyek tetap dipertanyakan.

Selain itu, potensi konflik dengan pemda soal wewenang pengelolaan sampah dan alokasi lahan juga bisa menjadi hambatan.

Di sisi lain, dalam konteks makro saat ini — USD/IDR di 17.784, harga minyak Brent $95,75, dan IHSG di 6.130 — proyek WtE menawarkan diversifikasi energi yang mengurangi ketergantungan pada impor BBM dan LPG. Tekanan fiskal dari defisit APBN yang mencapai Rp240 triliun per Maret 2026 membuat investasi swasta di sektor energi semakin dibutuhkan. Ke depan,

Mengapa Ini Penting

Proyek WtE bukan sekadar bisnis listrik, melainkan solusi atas darurat sampah nasional yang telah lama menjadi problem struktural. Keberhasilan proyek ini akan membuka jalan bagi investasi infrastruktur lingkungan skala besar di Indonesia, menarik teknologi dan pendanaan hijau global, serta mengurangi tekanan fiskal dari subsidi energi. Jika gagal, kredibilitas Indonesia dalam menarik investasi hijau bisa terganggu.

Dampak ke Bisnis

  • Sektor konstruksi dan teknik sipil akan menjadi penerima manfaat langsung — pembangunan 30+ fasilitas WtE membutuhkan kontraktor lokal dan asing untuk pekerjaan sipil, instalasi mesin, dan jaringan listrik.
  • Perusahaan pengelola sampah dan daur ulang skala kecil-menengah berpotensi tersingkir jika proyek WtE skala besar menguasai pasokan sampah perkotaan — perlu diantisipasi dampak pada mata pencaharian sektor informal.
  • Bagi emiten energi dan infrastruktur publik seperti PTBA, ADRO, atau PGAS, proyek WtE bukan ancaman langsung karena listrik yang dihasilkan masih kecil dibandingkan pembangkit fosil, namun dapat mengurangi pertumbuhan permintaan batubara di segmen tertentu.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil evaluasi teknis 85 perusahaan dan jadwal pengumuman pemenang — ini akan menjadi sinyal kecepatan realisasi proyek.
  • Risiko yang perlu dicermati: ketidakpastian tarif listrik dan tipping fee — jika negosiasi dengan PLN dan pemda molor, investor bisa mundur, mengulang kegagalan proyek WtE sebelumnya.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari Kementerian ESDM atau Danantara tentang kepastian regulasi dan dukungan fiskal — jika ada insentif pajak atau penjaminan, minat investor bisa semakin kuat.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.