27 MEI 2026
Pasar Tokenized RWA Capai $51 M — Private Credit Dominasi, Figure Pimpin

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Pasar Tokenized RWA Capai $51 M — Private Credit Dominasi, Figure Pimpin
Forex & Crypto

Pasar Tokenized RWA Capai $51 M — Private Credit Dominasi, Figure Pimpin

Tim Redaksi Feedberry ·26 Mei 2026 pukul 14.50 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
7.3 Skor

Tren tokenisasi aset riil global tumbuh pesat, didorong kebutuhan yield dan efisiensi pasar modal — Indonesia berpotensi terdampak melalui perubahan arus modal, tekanan regulasi, dan peluang adopsi institusi.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Pasar tokenized real-world assets (RWA) kini bernilai $51 miliar, dengan tokenized private credit sebagai segmen terbesar dan Figure Technology Solutions memimpin platform dengan $18 miliar dalam aset tokenized, menurut riset Bernstein. Figure telah menokensisasi $5 miliar pinjaman konsumen sepanjang 2026, dengan volume bulanan mencapai rekor $1,3 miliar pada April. Platform blockchain kredit Figure, Connect, menyumbang 56% dari total volume pinjaman di kuartal pertama 2026. Di luar private credit, US Treasury tokenized menduduki porsi ~30% pasar, disusul komoditas 14%. Tokenized private credit tumbuh karena memecahkan masalah ganda: investor mencari imbal hasil di tengah suku bunga global yang masih tinggi, sementara bisnis membutuhkan akses pendanaan alternatif di luar sistem perbankan tradisional.

Struktur ini mencatat pinjaman langsung dari investor ke peminjam melalui blockchain, memangkas biaya perantara dan mempercepat settlement. Yang tidak terlihat dari headline adalah bahwa pertumbuhan ini merepresentasikan pergeseran fundamental infrastruktur pasar modal global. Blockchain mulai menjadi lapisan transaksi untuk kredit konsumen, surat utang negara, dan komoditas — bukan sekadar medium spekulasi kripto. Bernstein mencatat aktivitas derivatif RWA onchain di Hyperliquid telah mencapai open interest $2,6 miliar dengan volume perdagangan $65 miliar, menandakan likuiditas institusional mulai mengalir. Pelaku industri seperti Stobox menyebut private credit sebagai segmen dengan potensi imbal hasil tertinggi dan eksposur langsung ke ekonomi riil. Dampak bagi Indonesia patut dicermati.

Indonesia memiliki salah satu pasar kripto ritel terbesar di Asia Tenggara, namun regulasi untuk tokenized securities belum eksplisit diakomodasi OJK maupun Bappebti. Jika tren global terus berlanjut, tekanan akan menguat untuk menyusun kerangka hukum yang melindungi investor sekaligus memberi ruang inovasi. Institusi keuangan seperti bank BUMN dan manajer investasi bisa memanfaatkan teknologi ini untuk menerbitkan reksa dana tokenized atau obligasi digital, memperluas akses investor ritel ke instrumen yang sebelumnya hanya untuk institusi. Sebaliknya, tanpa regulasi yang jelas, investor Indonesia berisiko terekspos produk asing tanpa perlindungan, dan potensi capital outflow ke platform global yang menawarkan yield lebih tinggi akan meningkat — terutama di tengah rupiah yang tertekan di level 17.784 per dolar AS dan suku bunga global yang masih menarik.

Mengapa Ini Penting

Tokenisasi private credit dan RWA bukan sekadar inovasi produk kripto, melainkan awal restrukturisasi pasar modal global menuju sistem yang lebih likuid, transparan, dan terdesentralisasi. Bagi Indonesia, ketiadaan kerangka regulasi tokenized securities berpotensi memperlebar kesenjangan daya saing finansial dengan Singapura dan pusat keuangan lain yang lebih adaptif, sekaligus membuka celah risiko perlindungan investor dan capital flight.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi institusi keuangan Indonesia (bank BUMN, manajer investasi, perusahaan sekuritas): muncul peluang untuk menerbitkan produk tokenized — reksa dana berbasis blockchain, obligasi digital, atau efek utang negara terfraksinasi. Namun, tanpa regulasi yang jelas, mereka berisiko kehilangan pangsa pasar ke platform global yang lebih dulu bergerak.
  • Bagi regulator (OJK, Bappebti, BI): tekanan untuk segera menyusun kerangka tokenized securities kian nyata. Keputusan akan menentukan apakah Indonesia menjadi pasar yang ramah inovasi atau justru kehilangan momentum adopsi, dengan konsekuensi pada daya saing sektor jasa keuangan nasional.
  • Bagi investor ritel Indonesia: potensi akses ke instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi dan diversifikasi global, namun juga risiko eksposur tanpa perlindungan hukum jika bertransaksi di platform asing. Di sisi lain, jika tidak ada produk domestik, arus dana ke luar negeri dapat meningkat dan memperlemah rupiah.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons regulator Indonesia (OJK, Bappebti) terhadap percepatan tokenisasi RWA global — apakah akan ada pernyataan resmi, konsultasi publik, atau draf regulasi dalam 4 minggu ke depan.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi peningkatan capital outflow dari Indonesia ke platform tokenized global yang menawarkan yield lebih tinggi, terutama jika rupiah terus melemah dan suku bunga domestik tidak kompetitif.
  • Sinyal penting: adopsi oleh institusi besar seperti BlackRock atau bank investasi global terhadap produk private credit tokenized — ini bisa menjadi katalis sentimen risk-on yang mendorong aliran modal ke emerging market, termasuk Indonesia, jika infrastruktur domestik siap.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki pasar kripto ritel terbesar di Asia Tenggara, dengan volume perdagangan aset digital yang tinggi. Namun, regulasi untuk tokenized securities (saham, obligasi, atau efek lain yang direpresentasikan di blockchain) belum secara eksplisit diatur oleh OJK maupun Bappebti, berbeda dengan Singapura atau AS yang mulai merumuskan kerangka. Jika tren tokenisasi RWA global terus berakselerasi, Indonesia berpotensi mengalami tekanan capital outflow ke platform luar negeri yang menawarkan akses lebih mudah dan imbal hasil kompetitif, terutama di tengah kondisi suku bunga global yang masih tinggi (Fed Funds Rate 3,64%) dan rupiah yang tertekan (USD/IDR 17.784). Di sisi lain, bank BUMN dan manajer investasi domestik memiliki peluang untuk mengadopsi teknologi tokenisasi guna menerbitkan produk investasi berbasis aset riil seperti properti, obligasi korporasi, atau Surat Berharga Negara, yang dapat memperluas basis investor ritel dan meningkatkan likuiditas pasar. Perkembangan ini juga relevan dengan rencana Bank Indonesia mengembangkan Rupiah Digital (CBDC) yang dapat menjadi infrastruktur penyelesaian untuk aset tokenized di masa depan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.