18 JUN 2026
Pasar Anti-Drone Tumbuh 20% per Tahun, Dorong Investasi Infrastruktur Global

Foto: CNA Business — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Pasar Anti-Drone Tumbuh 20% per Tahun, Dorong Investasi Infrastruktur Global
Teknologi

Pasar Anti-Drone Tumbuh 20% per Tahun, Dorong Investasi Infrastruktur Global

Tim Redaksi Feedberry ·18 Juni 2026 pukul 05.15 · Sinyal menengah · Sumber: CNA Business ↗
6 Skor

Pertumbuhan pasar global yang cepat menciptakan peluang bisnis bagi produsen, namun dampak langsung ke Indonesia masih terbatas pada potensi adopsi teknologi untuk bandara dan infrastruktur migas.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Artikel Reuters melaporkan lonjakan permintaan teknologi anti-drone di Eropa dan Timur Tengah setelah serangkaian insiden drone di bandara Dubai, Munich, Kopenhagen, dan kawasan minyak Fujairah. Teknologi baru yang dihadirkan termasuk alat jamming berbentuk pistol dari Dedrone AS dan drone 'wingman' otonom Boeing yang bisa membawa jammer dan senjata. Pasar global counter-drone diperkirakan bernilai US$3–7 miliar saat ini, dengan proyeksi mencapai US$14,5 miliar pada 2030 — tumbuh sekitar 20% per tahun. Kenaikan permintaan didorong oleh perang hibrida di Ukraina dan Timur Tengah yang memperluas ancaman drone ke sektor sipil (bandara, pelabuhan, ladang minyak, pusat data). Avinor, operator 43 bandara di Norwegia, telah memasang sistem deteksi drone.

CEO RobinRadar menyebut banyak pihak menghubungi perusahaannya setelah insiden terbaru.Insiden seperti tembakan drone di Bandara Dubai, kebakaran puing akibat intersepsi di Zona Minyak Fujairah, dan alarm drone di bandara Eropa menunjukkan kerentanan infrastruktur kritis. Pengamat memperkirakan pertumbuhan pesat akan berlanjut karena pemerintah dan operator infrastruktur mulai menganggarkan belanja pertahanan sipil. Bagi Indonesia, berita ini membuka peluang bagi penyedia teknologi keamanan dalam negeri untuk menawarkan solusi deteksi dan penanggulangan drone, terutama untuk bandara, kilang minyak, dan fasilitas vital nasional. Namun, investasi besar masih tergantung pada kebijakan keamanan nasional dan alokasi APBN.

Mengapa Ini Penting

Pertumbuhan pasar anti-drone menandakan pergeseran struktural dalam belanja keamanan dari militer ke infrastruktur sipil — tren yang bisa mengubah peta persaingan di sektor pertahanan dan keamanan Indonesia. Jika Indonesia tidak segera mengadopsi teknologi serupa, risiko gangguan operasional bandara dan aset energi nasional akan meningkat, terutama mengingat Indonesia memiliki ribuan pulau dan banyak bandara serta kilang yang rawan.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan teknologi keamanan dan pertahanan dalam negeri (misal PT Pindad, PT Len Industri) berpotensi mendapat kontrak baru jika pemerintah merevisi standar keamanan bandara dan fasilitas migas.
  • Operator bandara (Angkasa Pura, InJourney) harus mulai menganggarkan investasi sistem deteksi dan counter-drone, yang bisa menekan laba jangka pendek namun mengurangi risiko penutupan landasan pacu.
  • Industri perkapalan dan logistik pelabuhan juga terdampak: jika pelabuhan utama seperti Tanjung Priok atau Belawan diwajibkan memasang sistem anti-drone, biaya operasional naik, berpotensi mendorong kenaikan tarif bongkar muat.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: kebijakan Kementerian Perhubungan tentang standar keamanan bandara terhadap ancaman drone — jika direvisi, belanja modal operator bandara bisa meningkat drastis.
  • Risiko yang perlu dicermati: lonjakan harga perangkat anti-drone akibat permintaan global yang tinggi — Indonesia bisa kalah bersaing dalam pengadaan karena keterbatasan anggaran devisa.
  • Sinyal penting: kontrak atau nota kesepahaman antara perusahaan pertahanan RI (Pindad, Len) dengan produsen global counter-drone — ini akan menjadi indikator awal adopsi teknologi di dalam negeri.

Konteks Indonesia

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lalu lintas penerbangan domestik yang padat dan fasilitas migas tersebar sangat rentan terhadap ancaman drone. Meskipun belum ada insiden besar di Indonesia, tren global menunjukkan bahwa bandara dan kilang minyak menjadi target gangguan. Pasar anti-drone global yang tumbuh 20% per tahun bisa mendorong pemerintah dan operator BUMN untuk mulai menganggarkan pengadaan teknologi deteksi dan penanggulangan drone. Namun, realisasi belanja masih tergantung pada prioritas keamanan nasional dan ketersediaan anggaran APBN yang saat ini defisitnya sudah menekan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.