16 JUL 2026
Pardon CZ & Pembubaran Unit Kripto DoJ – Regulasi AS Makin Buram

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Pardon CZ & Pembubaran Unit Kripto DoJ – Regulasi AS Makin Buram
Forex & Crypto

Pardon CZ & Pembubaran Unit Kripto DoJ – Regulasi AS Makin Buram

Tim Redaksi Feedberry ·15 Juli 2026 pukul 17.56 · Sinyal tinggi · Sumber: Cointelegraph ↗
7.7 Skor

Sidang konfirmasi Todd Blanche menjadi barometer arah kebijakan kripto AS; ketidakpastian regulasi berpotensi memicu risk-off global yang langsung menekan rupiah, IHSG, dan pasar kripto domestik.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Calon Jaksa Agung AS, Todd Blanche, menghadapi kritik keras dalam sidang konfirmasi atas pembubaran unit kripto Departemen Kehakiman (DoJ) dan grasi bagi mantan CEO Binance, Changpeng Zhao. Senator Dick Durbin menuduh langkah itu memungkinkan Presiden Trump meraup USD 1,4 miliar dari keterlibatannya dengan industri kripto, termasuk melalui bisnis keluarganya, World Liberty Financial. Durbin juga menyebut Zhao telah 'menjembatani kesepakatan senilai USD 2 miliar' ke World Liberty, yang kemudian berujung pada pengampunan presiden. Zhao pada 2023 telah mengaku bersalah atas satu pelanggaran kejahatan terkait rezim Anti-Pencucian Uang (AML) di bursa Binance.

Blanche, yang menjabat sebagai Pelaksana Tugas Jaksa Agung sejak pemecatan Pamela Bondi pada April, sebelumnya mengeluarkan memo 'mengakhiri penuntutan melalui regulasi' di industri kripto dan mengungkapkan kepemilikan aset digital senilai setidaknya USD 159.000 sebelum dialihkan ke anak dan cucunya. Dalam sidang, ia menyatakan akan meninjau proses grasi jika dikonfirmasi, dan menegaskan bahwa pengembang blockchain yang tidak terlibat langsung dengan aktivitas ilegal tidak akan diselidiki. Meski demikian, DoJ masih memiliki kasus terhadap pengembang di balik platform yang diduga digunakan untuk kegiatan ilegal, termasuk Tornado Cash yang akan diadili ulang tahun ini. Ketidakpastian ini berlangsung di tengah tekanan lebih luas terhadap regulasi kripto AS.

Undang-Undang CLARITY Act, yang bertujuan memberikan kejelasan pasar aset digital, terancam gagal disahkan sebelum reses Agustus 2026 karena tiga senator Demokrat menolak atas dasar etika, menyusul pengungkapan keuntungan Trump yang sangat besar. Tanpa dukungan lintas partai, RUU yang membutuhkan 60 suara di Senat hampir mustahil lolos. Sementara itu, Senator Kirsten Gillibrand mengusulkan larangan bagi anggota Kongres dan presiden untuk menerbitkan memecoin, menambah tekanan regulasi. Data pasar terkini menunjukkan sentimen risiko global masih rapuh: indeks dolar broad AS berada di level 120,5, imbal hasil US 10 tahun di 4,62%, dan VIX di 17,16 yang mencerminkan kewaspadaan investor. Bagi Indonesia, transmisi dampak terjadi melalui dua jalur utama.

Pertama, sentimen risk-off global dapat memperkuat tekanan terhadap rupiah yang saat ini berada di level USD/IDR 18.059, serta memicu arus keluar dari obligasi dan saham domestik, tercermin pada IHSG yang masih berada di 6.042. Kedua, pasar kripto Indonesia yang memiliki basis investor ritel aktif rentan terhadap koreksi harga aset digital global, yang berpotensi menekan volume perdagangan di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto.

Mengapa Ini Penting

Sidang konfirmasi ini bukan sekadar drama politik AS; ini adalah barometer arah kebijakan kripto global. Jika Blanche dikonfirmasi dan kebijakan pro-kripto Trump berlanjut, risiko dan peluang bagi investor Indonesia berubah. Namun jika tekanan balik senator berhasil menghambat, ketidakpastian regulasi justru berlarut, memicu risk-off yang berpotensi memperlemah rupiah dan IHSG lebih lanjut. Yang tidak terlihat dari headline: koneksi antara pardon CZ dan pendanaan politik kripto — USD 2 miliar yang disebut Durbin menandai betapa eratnya industri kripto dengan elit politik AS, menciptakan preseden konflik kepentingan yang bisa memicu reaksi regulasi lebih ketat di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Dampak ke Bisnis

  • Pasar kripto Indonesia: sentimen risk-off global akibat ketidakpastian regulasi AS berpotensi menekan harga aset digital di bursa lokal, mengurangi volume perdagangan, dan memicu aksi jual oleh investor ritel yang mendominasi pasar Tanah Air.
  • Pasar keuangan domestik: rupiah yang sudah berada di level USD/IDR 18.059 dan IHSG di 6.042 sangat rentan terhadap arus keluar modal asing jika risk appetite global memburuk. Saham teknologi di BEI, meski bobotnya kecil, bisa terkena dampak sentimen negatif.
  • Regulasi domestik: OJK dan Bappebti yang tengah menyusun kerangka aturan aset digital kemungkinan akan memantau ketat perkembangan di AS. Jika CLARITY Act gagal, regulator Indonesia mungkin mengambil pendekatan lebih konservatif untuk melindungi investor, yang bisa menghambat inovasi namun juga mengurangi risiko hukum.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil voting konfirmasi Todd Blanche di Senat AS dalam pekan ini — jika lolos, kebijakan pro-kripto Trump makin menguat; jika gagal, ketidakpastian regulasi justru meningkat dan risk-off global bisa berlangsung lebih lama.
  • Risiko yang perlu dicermati: gagalnya CLARITY Act sebelum reses Agustus 2026 dapat memperpanjang ketidakpastian hukum bagi industri kripto global, mendorong aksi jual di pasar aset digital dan menekan valuasi saham teknologi di emerging market, termasuk Indonesia.
  • Sinyal penting: respons OJK dan Bappebti terhadap dinamika regulasi AS — apakah akan mengeluarkan pernyataan atau penyesuaian aturan. Jika mereka mengadopsi sikap wait-and-see, pasar mungkin tetap tenang; namun jika mengisyaratkan pelarangan lebih ketat, bisa terjadi aksi jual di sektor kripto lokal.

Konteks Indonesia

Regulasi kripto AS yang tidak pasti memicu risk-off global. Bagi Indonesia, hal ini berpotensi menekan rupiah (saat ini USD/IDR 18.059) dan IHSG (6.042), serta mengurangi volume perdagangan di bursa kripto dalam negeri. Selain itu, arah kebijakan OJK dan Bappebti dalam menyusun aturan aset digital bisa terpengaruh, mengingat standar internasional kerap menjadi acuan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.