Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Riset potensi pemanfaatan ruang vertikal di Jakarta bisa mengubah peta properti, tapi belum ada aksi bisnis langsung—skor urgency rendah, breadth dan dampak tinggi karena menyentuh properti, konstruksi, dan kebijakan tata ruang.
Ringkasan Eksekutif
Riset terbaru Rujak Center for Urban Studies (RUCS) mengungkap sebuah paradoks: Jakarta terasa sempit dan penuh sesak, namun masih menyimpan banyak ruang kosong yang belum dimanfaatkan secara optimal. Sekitar 89% pemukiman di Jakarta didominasi bangunan bertingkat rendah, dan masih banyak gedung terbengkalai alias ruang mati yang bisa difungsikan kembali. Sebagai perbandingan, daerah Sunter Agung dengan kepadatan 210 jiwa per hektare—nyaris sama dengan Nakano, Tokyo—tetapi 70% hunian di Sunter adalah rumah tapak, bukan apartemen vertikal. Akibatnya, ruang untuk taman, area sosial, dan sirkulasi udara menjadi menyempit. Temuan ini dipresentasikan dalam pameran House as Home yang digelar bersamaan dengan Jakarta Future Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki.
Mengapa Ini Penting
Paradoks ini bukan sekadar soal estetika kota, melainkan cerminan inefisiensi tata ruang yang berbiaya ekonomi tinggi. Jika pola pikir hunian bergeser dari rumah tapak ke vertikal, Jakarta bisa menambah pasokan hunian di pusat tanpa perlu ekspansi ke pinggiran—mengurangi urban sprawl, kemacetan, dan biaya infrastruktur. Perubahan ini punya implikasi besar bagi pengembang, kebijakan perizinan, dan daya beli masyarakat yang selama ini tertekan suku bunga tinggi.
Dampak ke Bisnis
- Bagi pengembang properti, pergeseran menuju hunian vertikal di pusat kota membuka peluang baru. Perusahaan yang fokus pada apartemen dan co-living bisa menikmati permintaan jika regulasi mendukung. Sebaliknya, pengembang rumah tapak di pinggiran Jakarta berpotensi kehilangan pangsa pasar jika tren ini berakselerasi.
- Sektor konstruksi dan material bangunan akan terdampak langsung. Bangunan bertingkat membutuhkan lebih banyak baja, beton, dan teknologi konstruksi vertikal. Kontraktor dan supplier yang sudah berpengalaman di proyek high-rise akan diuntungkan, sementara yang bergantung pada rumah tapak harus menyesuaikan portofolio.
- Dampak tidak langsung terasa di sektor transportasi dan infrastruktur. Jika hunian di pusat bertambah, kebutuhan mobilitas harian penduduk bisa berkurang, mengurangi tekanan pada jalan tol dan transportasi massal. Ini berpotensi menghemat belanja modal pemerintah daerah dan meningkatkan efisiensi kota secara keseluruhan.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: respons Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap temuan ini—apakah akan merevisi kebijakan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk mendorong pembangunan vertikal di zona yang cocok.
- Risiko yang perlu dicermati: resistensi masyarakat terhadap hunian vertikal—budaya rumah tapak masih kuat, dan apartemen sering dianggap kurang ideal untuk keluarga besar. Tanpa edukasi dan insentif, perubahan bisa berjalan lambat.
- Sinyal penting: proyek percontohan revitalisasi ruang mati oleh pemerintah atau pengembang swasta—misalnya mengubah gedung terbengkalai menjadi hunian vertikal murah. Keberhasilan proyek semacam itu bisa menjadi katalis perubahan kebijakan dan minat investor.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.