13 JUN 2026
Orbital Raih US$5 Juta — Mimpi Pusat Data AI di Orbit Bumi

Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Orbital Raih US$5 Juta — Mimpi Pusat Data AI di Orbit Bumi
Teknologi

Orbital Raih US$5 Juta — Mimpi Pusat Data AI di Orbit Bumi

Tim Redaksi Feedberry ·9 Juni 2026 pukul 12.00 · Sumber: TechCrunch ↗
4 Skor

Berita ini bersifat visioner jangka panjang (3-5 tahun ke depan) dengan dampak langsung kecil bagi Indonesia saat ini, namun berpotensi mengubah lanskap infrastruktur AI global yang pada akhirnya memengaruhi strategi investasi data center di Indonesia.

Urgensi
3
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
4

Ringkasan Eksekutif

Orbital, sebuah perusahaan rintisan yang didirikan oleh mantan pendiri e-skuter Spin, Euwyn Poon, baru saja mengumumkan perolehan pendanaan senilai US$5 juta dalam putaran benih yang dipimpin oleh a16z melalui program akselerator Speedrun. Visi perusahaan ini ambisius: membangun pusat data di luar angkasa yang terdiri dari 10.000 satelit, masing-masing menyediakan daya komputasi 100 kilowatt, untuk melayani kebutuhan inferensi kecerdasan buatan (AI) yang terus melonjak. Saat ini, tim Orbital yang beranggotakan sekitar belasan orang di Los Angeles — dengan latar belakang dari Amazon LEO, SpaceX, dan Northrop Grumman — sedang bersiap untuk uji terbang demonstrasi yang akan membawa chip Nvidia Blackwell di atas satelit milik mitra. Uji coba ini bertujuan memvalidasi teknologi pelindung radiasi dan manajemen termal milik Orbital.

Jika berhasil, perusahaan menargetkan peluncuran wahana antariksa pemroses data pertamanya pada tahun 2028, yang akan menggunakan GPU Nvidia Space-1 kelas Vera Rubin. Strategi bisnis Orbital mirip dengan rivalnya, Starcloud, yang sudah menempatkan satu GPU di orbit dan berencana menambah beberapa satelit untuk mulai menghasilkan pendapatan sebelum konstelasi penuh terwujud. Kunci keberhasilan model ini adalah kehadiran roket Starship milik SpaceX yang diproyeksikan bisa menurunkan biaya peluncuran secara drastis. Tanpa Starship, biaya Falcon 9 saat ini dinilai masih terlalu tinggi untuk membuat ekonomi pusat data luar angkasa menjadi layak. Pendiri Poon mengakui, "Kami akan mencapai skala penuh ketika Starship online." Fenomena ini lahir dari dorongan permintaan komputasi AI yang tak terpuaskan.

Sumber daya komputasi di Bumi menghadapi kendala energi, lahan, dan persetujuan lingkungan yang semakin ketat. Luar angkasa menawarkan sinar matahari tak terbatas dan birokrasi perizinan yang minimal. Namun, hambatan utama tetaplah biaya peluncuran yang brutal. Kehadiran investasi dari a16z — yang juga mendanai Cowboy Space Company, perusahaan pusat data luar angkasa lainnya — menandakan bahwa pemodal ventura global mulai percaya pada masa depan komputasi orbital, terutama jika SpaceX berhasil memenuhi janjinya. Bagi ekosistem Indonesia, berita ini patut dicermati meski dampak langsungnya masih terbatas. Indonesia tengah gencar membangun pusat data konvensional di Batam, Jakarta, dan sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan AI dan digitalisasi. Namun, keterbatasan pasokan energi bersih dan regulasi lingkungan menjadi tantangan serius.

Apabila teknologi pusat data orbital terbukti ekonomis dalam 5-10 tahun ke depan, hal itu bisa mengubah peta persaingan infrastruktur AI global, termasuk di Indonesia. Investor dan pelaku bisnis di tanah air perlu memantau perkembangan ini sebagai sinyal bahwa solusi alternatif untuk komputasi intensif sedang dijajaki. Namun, dalam jangka pendek, fokus tetap pada penguatan infrastruktur data center lokal serta efisiensi energi.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting bukan karena dampak jangka pendeknya terhadap Indonesia, melainkan karena ia menjadi indikator perubahan paradigma dalam penyediaan infrastruktur AI global. Jika komputasi orbital berhasil, Indonesia yang saat ini masih bergantung pada pusat data darat dengan jejak karbon besar bisa mendapatkan opsi baru yang lebih ramah lingkungan dan tidak terikat oleh keterbatasan lahan. Di sisi lain, biaya transisi dan ketergantungan pada teknologi luar angkasa berisiko tinggi. Pemahaman terhadap tren ini penting bagi pengambil kebijakan dan investor di sektor teknologi dan energi Indonesia agar tidak tertinggal dalam persaingan adopsi AI.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi operator pusat data di Indonesia (seperti dari grup DCI Indonesia, Biznet, atau NeutraDC), berita ini menambah tekanan jangka panjang untuk berinovasi dalam efisiensi energi dan lokasi. Meskipun pusat data orbital masih jauh, investor global mungkin mulai mempertanyakan keberlanjutan pusat data darat yang boros listrik.
  • Perusahaan telekomunikasi dan satelit Indonesia (seperti Telkom melalui Telkomsat, atau Pasifik Satelit Nusantara) perlu mencermati potensi disruptif komputasi orbital terhadap bisnis penyewaan kapasitas satelit konvensional. Jika satelit bisa sekaligus memproses data, permintaan untuk transponder sederhana bisa menurun.
  • Regulator energi dan lingkungan di Indonesia — Kementerian ESDM dan KLHK — akan dihadapkan pada pertanyaan tentang keberlanjutan pusat data darat. Jika standar global bergerak menuju komputasi surya orbital, tekanan untuk mempercepat transisi energi bersih di pusat data lokal bisa meningkat.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil uji terbang demonstrasi Orbital yang menggunakan chip Nvidia Blackwell — jika berhasil, ini akan menjadi validasi teknis pertama untuk konsep komputasi AI di orbit dan dapat memicu investasi lanjutan.
  • Risiko yang perlu dicermati: kegagalan Space X dalam mengomersialkan Starship sesuai jadwal — tanpa Starship, model bisnis Orbital tidak akan ekonomis dan berita ini hanya akan menjadi wacana tanpa dampak nyata.
  • Sinyal penting: respons pemerintah Indonesia terhadap tren pusat data AI — apakah akan mengeluarkan kebijakan insentif untuk pusat data hijau atau bahkan menjajaki kerja sama dengan perusahaan seperti Orbital untuk membangun stasiun bumi? Ini bisa menjadi indikator keseriusan Indonesia dalam mengantisipasi revolusi komputasi orbital.

Konteks Indonesia

Berita tentang Orbital dan pusat data luar angkasa ini terkait dengan Indonesia melalui dua jalur utama. Pertama, sebagai negara dengan pertumbuhan permintaan AI dan digitalisasi yang pesat, Indonesia termasuk pasar potensial untuk layanan komputasi orbital jika biayanya turun. Kedua, keberhasilan proyek semacam ini dapat mengurangi tekanan terhadap infrastruktur listrik domestik yang sering menjadi kendala pembangunan pusat data konvensional. Saat ini Indonesia mengandalkan pusat data darat yang sebagian besar masih menggunakan energi fosil. Jika komputasi orbital dengan sinar matahari tak terbatas menjadi nyata, ia bisa menjadi alternatif untuk aplikasi tertentu yang tidak memerlukan latensi rendah. Namun, ketergantungan pada roket dan satelit asing juga menimbulkan risiko geopolitik dan keamanan siber. Dalam konteks regulasi, Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Kementerian Komunikasi dan Digital memiliki kepentingan untuk memantau perkembangan ini guna menyusun kebijakan yang adaptif.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.