18 JUL 2026
OKX Europe Konversi USDT ke USDC — MiCA Mulai Tersingkirkan Tether dari Pasar Eropa

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / OKX Europe Konversi USDT ke USDC — MiCA Mulai Tersingkirkan Tether dari Pasar Eropa
Forex & Crypto

OKX Europe Konversi USDT ke USDC — MiCA Mulai Tersingkirkan Tether dari Pasar Eropa

Tim Redaksi Feedberry ·17 Juli 2026 pukul 16.54 · Sinyal menengah · Sumber: Cointelegraph ↗
6.3 Skor

Perubahan regulasi stablecoin di Eropa berdampak langsung ke likuiditas USDT global dan sentimen investor kripto, termasuk di Indonesia yang memiliki basis ritel aktif — meski dampak langsung ke ekonomi riil masih terbatas.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

OKX Europe kini memungkinkan pengguna menukar Tether (USDT) secara sukarela ke USD Coin (USDC) — stablecoin yang telah memenuhi persyaratan regulasi MiCA Uni Eropa.

Langkah ini merupakan respons atas mulai berlakunya kerangka MiCA sejak akhir 2024, yang mendorong banyak platform kripto Eropa untuk membatasi atau menghapus USDT. Tether sendiri telah menegaskan tidak akan mengajukan otorisasi MiCA, dengan CEO Paolo Ardoino menyebut aturan tersebut "sangat berbahaya" bagi penerbit stablecoin karena mewajibkan penyimpanan sebagian cadangan di lembaga kredit Eropa. Keputusan Tether untuk tidak ikut MiCA membuat USDT perlahan kehilangan dukungan di bursa-bursa Eropa. Revolut, platform perbankan digital, baru-baru ini mengumumkan akan menghentikan dukungan USDT bagi nasabah di Wilayah Ekonomi Eropa dan Swiss, memberikan batas waktu hingga 31 Agustus 2026 bagi pengguna untuk menjual atau menarik kepemilikan mereka. Sisa saldo yang tidak diambil alih akan otomatis dikonversi ke mata uang dasar akun.

Fenomena ini menandai fragmentasi pasar stablecoin global: USDT tetap dominan di kawasan Asia dan pasar berkembang, sementara USDC dan alternatif compliant lainnya menguasai pasar Eropa yang teregulasi. Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan karena exchange kripto lokal — yang diawasi Bappebti dan OJK — sering menyesuaikan kebijakan berdasarkan standar internasional. Meski aturan MiCA tidak langsung mengikat Indonesia, sentimen regulasi yang ketat dapat mempengaruhi kebijakan domestik, terutama terkait persyaratan cadangan dan transparansi stablecoin.

Di sisi lain, dominasi USDT di pasar Asia bisa semakin kuat jika Tether mempertahankan posisinya di luar Eropa, mengingat USDT masih menjadi alat transaksi utama di banyak platform Indonesia. Namun, likuiditas global USDT mungkin tertekan jika semakin banyak bursa Eropa beralih ke USDC, yang berpotensi berdampak pada volume perdagangan dan harga di bursa lokal. Investor ritel Indonesia perlu mencermati kebijakan exchange domestik terkait pasangan perdagangan USDT, serta perkembangan regulasi Bappebti yang mungkin mengikuti jejak MiCA dalam hal persyaratan cadangan. Secara makro, tekanan dari dolar AS yang kuat dan suku bunga The Fed di 3,63% masih menjadi latar belakang utama bagi volatilitas aset berisiko, termasuk kripto.

Mengapa Ini Penting

Keputusan Tether untuk tidak mematuhi MiCA menciptakan divergensi struktural di pasar stablecoin global. Eropa akan beralih ke USDC yang compliant, sementara Asia dan pasar berkembang tetap bergantung pada USDT. Fragmentasi ini dapat mengurangi efisiensi arbitrase global dan meningkatkan biaya konversi bagi pengguna yang ingin bertransaksi lintas kawasan. Bagi Indonesia, ini menjadi sinyal bahwa regulator bisa mengadopsi standar serupa — terutama dalam hal persyaratan cadangan dan pengawasan penerbit stablecoin — yang akan mengubah lanskap bisnis kripto domestik.

Dampak ke Bisnis

  • Exchange kripto Indonesia yang terdaftar di Bappebti/OJK mungkin perlu mengevaluasi pilihan stablecoin yang mereka listing — jika regulator mengikuti MiCA, USDT bisa berisiko dihapus atau dibatasi, berdampak pada volume transaksi dan biaya listing.
  • Perusahaan fintech dan startup blockchain di Indonesia yang menggunakan USDT sebagai alat pembayaran atau settlement (misal untuk remitansi, pembayaran freelancer, atau supply chain) perlu menyiapkan rencana migrasi ke stablecoin lain jika terjadi perubahan regulasi.
  • Bagi investor ritel Indonesia, fragmentasi stablecoin berarti likuiditas USDT di bursa Eropa menurun, berpotensi membuat selisih harga (spread) lebih lebar dan biaya konversi lebih mahal saat bertransaksi dengan mitra di Eropa.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: sikap resmi Bappebti dan OJK terhadap stablecoin dalam 3–6 bulan ke depan — apakah mereka mengeluarkan aturan baru yang mewajibkan penerbit stablecoin memiliki cadangan di bank domestik atau memenuhi standar transparansi serupa MiCA.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi penurunan likuiditas USDT global — jika semakin banyak platform Eropa menghentikan dukungan, tekanan jual USDT bisa meningkat dan spread harga di bursa lokal melebar.
  • Sinyal penting: volume perdagangan USDT vs USDC di bursa Indonesia — jika rasio mulai bergeser ke USDC, itu bisa menjadi indikator bahwa pasar mulai mengantisipasi perubahan regulasi atau preferensi pengguna.

Konteks Indonesia

Meski MiCA adalah regulasi Uni Eropa, dampaknya menjalar ke Indonesia melalui dinamika pasar kripto global. Pertama, exchange kripto Indonesia sering merujuk pada standar internasional untuk kepatuhan dan listing aset. Jika regulator Indonesia — Bappebti dan OJK — memutuskan mengadopsi prinsip serupa (misalnya mewajibkan stablecoin memiliki cadangan penuh di bank lokal), Tether (USDT) bisa terancam ditinggalkan. Kedua, investor ritel Indonesia yang aktif di bursa lokal dan global akan merasakan fragmentasi likuiditas — biaya konversi USDT ke USDC atau sebaliknya mungkin naik. Ketiga, perkembangan ini juga memengaruhi proyek blockchain dan startup fintech Indonesia yang bergantung pada USDT sebagai alat transaksi dan penyimpan nilai. Dengan dolar AS yang masih kuat (indeks broad trade-weighted di 120,5) dan VIX di 15,67 (normal-cautious), sentimen global terhadap aset berisiko termasuk kripto masih rapuh.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.