14 JUL 2026
Nous Research Raup US$75 Juta di Valuasi US$1,5 M — AI Agent Hermes Makin Moncer

Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Nous Research Raup US$75 Juta di Valuasi US$1,5 M — AI Agent Hermes Makin Moncer
Teknologi

Nous Research Raup US$75 Juta di Valuasi US$1,5 M — AI Agent Hermes Makin Moncer

Tim Redaksi Feedberry ·13 Juli 2026 pukul 23.31 · Sinyal menengah · Sumber: TechCrunch ↗
6.3 Skor

Pendanaan besar di AI agent open-source menandakan ekspansi kapital yang bisa mengubah peta persaingan AI global — berdampak pada ekosistem startup Indonesia dan adopsi teknologi di perusahaan lokal.

Urgensi
5
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
6
Analisis Startup & Pendanaan
Seri Pendanaan
Series tidak disebutkan — putaran baru setelah total US$70 juta sebelumnya
Jumlah
setidaknya US$75 juta
Valuasi
US$1,5 miliar
Sektor
AI — agen otonom (AI Agent)
Penggunaan Dana
memperluas produk dan model bisnis Hermes lebih lanjut
Investor
Robot VenturesUSVinvestor terkemuka lainnya

Ringkasan Eksekutif

Nous Research, startup di balik AI agent open-source Hermes, tengah menutup putaran pendanaan baru yang dipimpin Robot Ventures dengan partisipasi USV dan investor lainnya di valuasi US$1,5 miliar. Perusahaan mengumpulkan setidaknya US$75 juta dan mendapat minat tinggi dari investor, menurut tiga sumber yang mengetahui kesepakatan itu. Nous Research menolak berkomentar, sementara USV dan Robot Ventures belum merespons. Didirikan pada 2023 oleh Jeffrey Quesnelle, Karan Malhotra, Ryan Teknium, dan Shivani Mitra, startup ini sebelumnya telah mengumpulkan total US$70 juta dari investor termasuk Paradigm, Robot Ventures, North Island Ventures, OSS Capital, dan Balaji Srinivasan. Hermes dirilis sebagai pesaing OpenClaw, agen AI yang berjalan secara lokal di PC dan dapat melakukan tugas atas nama pengguna.

Perbedaan utama Hermes adalah pengiriman dengan 'keterampilan' bawaan seperti pencarian web, coding, dan pemahaman gambar. Hermes dirancang untuk belajar secara otomatis dari penggunaan manusia dan membangun keterampilan baru tanpa intervensi manual. Startup ini juga telah merilis model bahasa yang berfokus pada coding dan matematika. Dengan model open-source, Hermes telah mengumpulkan 214.000 bintang di GitHub dan hampir 40.000 fork. Pengguna dapat menjalankan Hermes di desktop atau server pribadi virtual, dan Nous Research juga menawarkan versi hosted cloud dengan biaya berlangganan US$20 hingga US$200 per bulan. Pendanaan baru ini akan digunakan untuk memperluas produk dan model bisnis Hermes lebih lanjut. Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki dampak ganda.

Di satu sisi, ketersediaan AI agent open-source seperti Hermes memberikan akses bagi startup dan perusahaan lokal untuk membangun solusi AI tanpa harus mengeluarkan biaya lisensi besar. Ini bisa mendorong inovasi di sektor fintech, logistik, dan layanan pelanggan.

Di sisi lain, dominasi model global yang sudah matang dapat mempersulit startup AI lokal untuk bersaing di segmen yang sama. Selain itu, investasi besar di AI mencerminkan tren global yang terus mengalirkan modal ke teknologi ini, yang bisa mempengaruhi minat investor ventura di Indonesia untuk ikut masuk ke sektor AI.

Mengapa Ini Penting

Putaran pendanaan ini menegaskan bahwa AI agent berbasis open-source menjadi medan pertempuran baru dalam industri AI global. Hermes tidak hanya menyaingi OpenClaw, tetapi juga membangun ekosistem yang dapat diadopsi oleh pengembang di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dampaknya: biaya masuk bagi perusahaan untuk menggunakan AI agent semakin rendah, tetapi persaingan bagi startup lokal yang membangun dari nol semakin ketat. Ini bisa mempercepat digitalisasi di sektor-sektor yang selama ini lamban mengadopsi AI, seperti UMKM dan layanan publik.

Dampak ke Bisnis

  • Startup AI Indonesia yang membangun agen percakapan atau otomatisasi tugas menghadapi tekanan kompetitif dari Hermes yang gratis dan open-source. Mereka harus mencari niche spesifik atau membedakan diri melalui integrasi dengan kebutuhan lokal seperti bahasa daerah, regulasi, atau kanal distribusi.
  • Perusahaan korporasi di Indonesia (perbankan, e-commerce, logistik) dapat mengadopsi Hermes versi cloud atau self-hosted untuk mengotomatisasi layanan pelanggan, pengolahan data, dan coding — berpotensi menekan biaya tenaga kerja hingga 20-30% untuk tugas repetitif, namun perlu investasi dalam penyesuaian dan keamanan data.
  • Investor ventura Indonesia yang berfokus pada AI harus mencermati valuasi global yang tinggi — ini dapat memicu bubble pricing di startup lokal yang meniru model serupa. Namun, juga membuka peluang bagi startup yang menawarkan solusi AI yang lebih terfokus pada konteks Indonesia, seperti integrasi dengan platform Gojek, Tokopedia, atau layanan pemerintahan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: jumlah fork dan stars Hermes dari Indonesia di GitHub dalam 2-4 minggu ke depan — indikator awal adopsi developer lokal.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi penyalahgunaan Hermes untuk deepfake atau spam otomatis di Indonesia yang bisa memicu reaksi regulator Kominfo — perhatikan pengumuman aturan baru terkait AI.
  • Sinyal penting: pengumuman pendanaan serupa oleh startup AI Indonesia di kuartal III 2026 — jika terjadi, itu menandakan modal ventura global mulai melirik pasar Indonesia untuk AI agent.

Konteks Indonesia

Meskipun Nous Research berbasis di AS dan tidak memiliki operasi langsung di Indonesia, open-source Hermes dapat diunduh dan dimodifikasi oleh siapa pun termasuk developer Indonesia. Ini membuka peluang bagi perusahaan dan startup lokal untuk membangun aplikasi AI agent tanpa biaya lisensi. Namun, potensi regulasi dari Kominfo terkait tata kelola AI dapat mempengaruhi seberapa cepat adopsi terjadi. Selain itu, tren investasi global di AI dapat mengalihkan perhatian VC asing dari pasar Indonesia jika mereka lebih memilih berinvestasi di perusahaan Amerika yang sudah matang. Sebaliknya, jika Hermes terbukti sukses, model open-source yang didanai ventura bisa menjadi cetak biru bagi startup AI Indonesia untuk mencari pendanaan serupa.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.