23 AGS 2026
MRT Jakarta Kembangkan Mal Bawah Tanah — Bundaran HI Rampung 2027

Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / MRT Jakarta Kembangkan Mal Bawah Tanah — Bundaran HI Rampung 2027
Korporasi

MRT Jakarta Kembangkan Mal Bawah Tanah — Bundaran HI Rampung 2027

Tim Redaksi Feedberry ·23 Agustus 2026 pukul 00.00 · Sinyal menengah · Sumber: CNBC Indonesia ↗
6.7 Skor

Proyek percontohan konektivitas bawah tanah MRT berpotensi mengubah model bisnis transportasi dan properti di Jakarta, namun masih dalam tahap wacana dengan risiko teknis dan pendanaan yang tinggi.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
ekspansi
Timeline
Proyek extended concourse Bundaran HI ditargetkan selesai 2027; untuk kawasan Blok M dan Senayan belum ada keputusan dan timeline resmi.
Alasan Strategis
Menghubungkan stasiun MRT dengan kawasan komersial untuk meningkatkan konektivitas, okupansi properti, dan menciptakan pendapatan non-tiket melalui pengembangan ruang multifungsi bawah tanah.
Pihak Terlibat
PT MRT Jakarta (Perseroda)PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ)Pemprov DKI JakartaPlaza IndonesiaWisma Nusantara

Ringkasan Eksekutif

PT MRT Jakarta, melalui anak usahanya PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), tengah menggarap proyek extended concourse di Stasiun Bundaran HI — area bawah tanah yang akan menghubungkan stasiun dengan kawasan komersial, ditargetkan rampung pada 2027. Proyek ini menjadi percontohan pertama di Indonesia, dengan luasan sekitar 4.439 meter persegi dan 24 ruang multifungsi untuk kegiatan komersial, F&B, lifestyle, serta layanan. Area tersebut dirancang terhubung langsung dengan basement 1 Plaza Indonesia dan basement Wisma Nusantara melalui knock-down panel. Direktur Utama ITJ Ferdiansyah Roestam mengakui proyek ini belum pernah ada sebelumnya di Jakarta, sehingga tidak ada tolok ukur teknis yang bisa dijadikan acuan — tantangan terberat justru datang dari kondisi utilitas bawah tanah yang sering tidak sesuai dengan gambar teknis.

Saat pengeboran, tim menemukan kabel atau utilitas hanya 30-40 sentimeter di bawah permukaan, padahal perkiraan awal sekitar satu meter. Ini membuat proses engineering berputar otak dan berisiko memperpanjang waktu serta menambah biaya pembangunan.

Mengapa Ini Penting

Proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan percobaan untuk mengubah stasiun MRT menjadi pusat aktivitas ekonomi bawah tanah — model yang sudah terbukti di Tokyo. Jika berhasil, nilai properti dan ritel di sepanjang koridor MRT bisa terdongkrak, sekaligus memberi MRT Jakarta sumber pendapatan di luar tiket. Namun, kegagalan koordinasi antara pemilik aset, pengembang, dan pemerintah bisa membuat proyek macet, dan risiko teknis yang belum teruji bisa menggagalkan timeline yang sudah diumumkan.

Dampak ke Bisnis

  • Pemilik pusat perbelanjaan di sekitar stasiun MRT, terutama di kawasan Senayan dan Asia Afrika, berpotensi mengalami kenaikan pengunjung dan okupansi — preseden Blok M menunjukkan okupansi mal naik hingga 99,9% setelah terhubung dengan MRT. Namun, mereka kemungkinan harus ikut menanggung biaya koneksi, sehingga negosiasi bagi hasil dan investasi bersama akan menjadi titik krusial.
  • Emiten properti dan pengembang yang memiliki aset di koridor MRT akan mendapatkan dampak tidak langsung berupa apresiasi nilai lahan dan daya tarik sewa. Di sisi lain, penyewa ritel dan tenant F&B di mal yang terhubung akan diuntungkan oleh peningkatan trafik pejalan kaki, terutama pekerja kantoran dan pengguna transportasi publik.
  • Beban keuangan MRT Jakarta perlu dicermati: dengan nilai tukar rupiah di sekitar 17.690 per dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS di atas 4,6%, biaya pendanaan infrastruktur jangka panjang cenderung tinggi. Jika proyek ini dibiayai utang, tekanan bunga bisa membebani neraca perusahaan di tengah target komersialisasi yang masih harus dibuktikan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pengumuman resmi mengenai stasiun berikutnya yang akan dibangun extended concourse, terutama apakah kawasan Senayan masuk prioritas — jika terealisasi, valuasi properti di sekitar Asia Afrika berpotensi naik.
  • Risiko yang perlu dicermati: skema pembiayaan proyek — apakah murni dari Pemprov DKI, melibatkan pengembang swasta, atau melalui penerbitan utang MRT Jakarta; kenaikan biaya dana global akan mempersempit ruang fiskal pemerintah daerah.
  • Sinyal penting: progres fisik extended concourse Bundaran HI hingga akhir tahun — jika terjadi keterlambatan akibat temuan utilitas bawah tanah, target 2027 berisiko mundur dan kepercayaan investor terhadap proyek serupa bisa menurun.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.