5 JUL 2026
Midjourney vs Hollywood — Gugatan Hak Cipta Bisa Ubah Aturan Main AI Global

Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Midjourney vs Hollywood — Gugatan Hak Cipta Bisa Ubah Aturan Main AI Global
Teknologi

Midjourney vs Hollywood — Gugatan Hak Cipta Bisa Ubah Aturan Main AI Global

Tim Redaksi Feedberry ·4 Juli 2026 pukul 18.00 · Sinyal menengah · Sumber: TechCrunch ↗
5.3 Skor

Urgensi sedang karena keputusan hukum masih panjang, tetapi dampak presedennya sangat luas bagi seluruh ekosistem AI; dampak langsung ke Indonesia terbatas karena belum ada regulasi serupa.

Urgensi
5
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
3

Ringkasan Eksekutif

Midjourney, startup AI generatif, meminta pengadilan AS memaksa tiga studio Hollywood — Disney, Universal, dan Warner Bros — untuk mengungkap secara detail bagaimana mereka sendiri menggunakan teknologi AI.

Langkah ini muncul dalam sengketa hak cipta yang diajukan studio tersebut terhadap Midjourney, yang dituduh meniru karakter ikonik mereka melalui model image-generation yang dilatih dengan data tidak berlisensi. Midjourney membela diri dengan doktrin fair use, dan kini justru membalikkan tekanan ke pihak penuntut. Perkara ini berpusat pada batasan dokumen yang harus diserahkan studio dalam proses discovery. Seorang hakim sebelumnya memutuskan bahwa studio hanya wajib memberikan informasi tentang penggunaan AI yang menghasilkan konten konsumen (consumer-facing). Midjourney mengajukan banding terhadap batasan itu, dengan argumen bahwa studio justru menahan dokumen yang bisa membuktikan bahwa mereka sendiri melakukan praktik serupa — misalnya melatih model AI internal untuk storyboarding atau pembuatan ide konten.

Jika pengadilan mengabulkan, studio harus membuka semua prompt dan output yang pernah mereka buat menggunakan Midjourney, bukan hanya yang dianggap melanggar hak cipta. Pengacara studio menyebut langkah Midjourney sebagai 'fishing expedition' dan menegaskan bahwa studio tidak ingin menghentikan teknologi AI, melainkan menghentikan pelanggaran langsung atas karya mereka. Kasus ini berpotensi menciptakan preseden hukum yang krusial tentang batas fair use dalam pelatihan AI, serta transparansi penggunaan AI di perusahaan besar. Bagi Indonesia, meski belum ada sengketa serupa, perkara ini memberi gambaran tentang arah regulasi AI global yang semakin ketat. Keputusan pengadilan nantinya bisa memengaruhi bagaimana perusahaan di Indonesia — terutama yang mengadopsi AI generatif — harus mengelola hak cipta data pelatihan.

Di sisi lain, tekanan untuk mengungkap penggunaan internal AI juga bisa mendorong standar tata kelola AI yang lebih baik di tingkat korporasi.

Mengapa Ini Penting

Inti perkara bukan sekadar soal karakter kartun — ini soal siapa yang memiliki data, apa yang dimaksud 'fair use' di era AI, dan sejauh mana perusahaan bisa merahasiakan penggunaan AI mereka di balik pintu tertutup. Putusan di sini akan menjadi patokan bagi seluruh industri kreatif dan teknologi dunia, termasuk startup AI di Indonesia yang bergantung pada data publik untuk melatih model.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi startup AI dan perusahaan teknologi global: jika pengadilan memperkuat hak studio untuk membatasi dokumentasi internal, praktik pelatihan model AI dengan data 'grey area' akan semakin berisiko hukum dan biaya kepatuhan naik.
  • Bagi studio Hollywood dan industri konten: kekalahan dalam sengketa ini bisa memaksa mereka mengungkapkan rahasia proses produksi berbasis AI, termasuk data yang selama ini dianggap proprietary — dampaknya pada strategi inovasi dan persaingan.
  • Bagi ekosistem AI di Indonesia: risiko litigasi serupa masih rendah karena belum ada gugatan hak cipta besar, tetapi keputusan ini akan membentuk standar global yang mungkin diadopsi dalam regulasi AI nasional. Perusahaan lokal yang mengembangkan atau mengadopsi AI generatif harus mulai memperhatikan asal-usul data pelatihan mereka.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: putusan pengadilan AS atas mosi Midjourney untuk memperluas discovery — jika dikabulkan, proses akan mengungkap praktik internal studio dan bisa membuka celah hukum baru.
  • Risiko yang perlu dicermati: reaksi studio berupa mosi untuk menolak atau banding, yang bisa memperpanjang proses dan menambah ketidakpastian regulasi AI global.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari regulator AS (seperti US Copyright Office) atau Eropa mengenai batas fair use untuk AI — dapat menjadi indikator arah kebijakan yang akan diikuti Indonesia.

Konteks Indonesia

Meski sengketa ini terjadi di Amerika Serikat, dampaknya terasa hingga ke Indonesia melalui dua jalur. Pertama, preseden hukum yang terbentuk akan dijadikan rujukan oleh regulator lokal saat menyusun aturan AI dan hak cipta, termasuk dalam revisi UU Hak Cipta yang tengah dibahas. Kedua, banyak perusahaan Indonesia — terutama di sektor kreatif, periklanan, dan teknologi — sudah mulai mengadopsi alat AI generatif seperti Midjourney untuk produksi konten. Risiko pelanggaran hak cipta yang sama bisa muncul jika data pelatihan tidak dikelola secara legal. Kasus ini mengingatkan bahwa praktik 'copy-paste' dari internet untuk melatih model AI tidak lagi aman secara hukum, bahkan untuk penggunaan internal. Startup AI lokal seperti yang bergerak di bidang generative AI untuk konten lokal perlu mencermati perkembangan ini agar tidak terjebak dalam sengketa serupa di kemudian hari.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.