18 SEP 2026
Mazama Energy Raih US$135 Juta untuk Panas Bumi Super-Panas

Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / Mazama Energy Raih US$135 Juta untuk Panas Bumi Super-Panas
Korporasi

Mazama Energy Raih US$135 Juta untuk Panas Bumi Super-Panas

Tim Redaksi Feedberry ·18 September 2026 pukul 00.02 · Sinyal menengah · Sumber: TechCrunch ↗
4.3 Skor

Pendanaan ini tidak mengubah pasar Indonesia dalam jangka pendek, tetapi memvalidasi jalur teknologi panas bumi super-panas yang bisa menggeser peta energi baseload global — relevan bagi negara dengan potensi geothermal besar seperti Indonesia.

Urgensi
4
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
4
Analisis Startup & Pendanaan
Seri Pendanaan
Series B
Jumlah
US$135 juta

Ringkasan Eksekutif

Startup panas bumi Mazama Energy mengantongi pendanaan Seri B sebesar US$135 juta dalam putaran yang kelebihan permintaan (oversubscribed). Dana itu dipakai untuk mengembangkan sumur horizontal di batuan super-panas yang diklaim mampu membangkitkan 15 megawatt listrik 24 jam sehari dari satu sumur. Perusahaan menargetkan mulai memproduksi listrik pada tahun depan, dan menyebut lokasi pertamanya di Oregon berpotensi menghasilkan 10 gigawatt — revisi tajam ke atas dari estimasi tahun lalu yang menyebut 5 gigawatt. Pembeda Mazama terletak pada target pengeborannya. Perusahaan menembus kedalaman lebih dari 10.000 kaki dalam 15 hari, menuju sekitar 15.000 kaki.

Pada kedalaman itu, mereka menjangkau panas 750 derajat Fahrenheit (400 derajat Celsius) yang pada tekanan tinggi mengubah air menjadi fluida superkritis — tidak sepenuhnya cair maupun gas — sehingga menyerap energi jauh lebih besar ketimbang uap biasa. Mazama menyatakan setiap sumur dapat menghasilkan hingga 10 kali lipat daya dibanding teknologi panas bumi konvensional. Studi University of Twente dan Clean Air Task Force memperkirakan pemanfaatan 1% batuan super-panas dunia saja dapat membangkitkan lebih dari 63 terawatt listrik. Putaran ini dipimpin Centaurus Capital dan Doerr Capital, diikuti ConocoPhillips, Shell Ventures, Khosla Ventures, Gates Frontier, SiteGround Capital, H. Barton Asset Management, serta Jeffrey and Marieke Rothschild Foundation. Mazama sendiri diinkubasi di Khosla Ventures.

Yang luput dari headline adalah posisi panas bumi dalam persaingan menyuplai listrik untuk pusat data AI. Selama ini pengembang data center dan perusahaan teknologi lebih banyak bertumpu pada gas alam karena bisa dibangun cepat. Panas bumi dulu dianggap lambat dan mahal, tetapi generasi enhanced geothermal yang mengebor lebih dalam dan lebih panas mulai memberi profil beban dasar (baseload) 24 jam tanpa fluktuasi cuaca — sesuatu yang tidak dimiliki tenaga surya maupun angin. Masuknya ConocoPhillips dan Shell Ventures ke daftar investor menunjukkan perusahaan minyak besar mulai memagari portofolio mereka terhadap risiko penurunan permintaan gas jangka panjang. Cascading effect-nya menyentuh rantai pasok pengeboran, produsen pompa dan turbin, hingga perusahaan jasa energi yang selama ini bergantung pada sektor minyak dan gas.

Bagi Indonesia, sinyal ini bernilai ganda. Panas bumi adalah salah satu dari sedikit sumber energi terbarukan yang bisa menjadi beban dasar, dan tanah Indonesia menyimpan potensi besar — terlihat dari ekspansi yang tengah dijalankan Pertamina Geothermal Energy, termasuk pengeboran sumur eksplorasi Lumut Balai Unit 3. Dengan Brent yang berada di sekitar US$103,90 per barel, urgensi mengurangi impor bahan bakar fosil kian terasa, terutama saat kurs berada di Rp17.748 per dolar AS dan keseimbangan primer APBN masih negatif. Namun dampak langsung berita ini ke Indonesia terbatas: teknologi super-panas Mazama masih tahap awal dan belum terkomersialisasi, sementara sebagian besar proyek panas bumi domestik bermain di reservoir konvensional. Dalam 1–4 minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Selama bertahun-tahun panas bumi kalah cepat dari gas alam dalam perlombaan menyuplai listrik pusat data. Jika klaim 10 kali lipat daya per sumur ini terbukti di lapangan, keunggulan gas sebagai solusi cepat bisa tergerus — dan negara dengan cadangan panas bumi besar, termasuk Indonesia, berpotensi menjadi pemain energi strategis, bukan sekadar pemasok mineral kritis.

Dampak ke Bisnis

  • Masuknya ConocoPhillips dan Shell Ventures menandakan perusahaan minyak besar mulai mendiversifikasi portofolio ke energi non-fosil. Dampaknya merembet ke rantai pasok jasa pengeboran, produsen turbin, dan perusahaan teknik energi yang selama ini menggantungkan pendapatan pada sektor migas.
  • Permintaan listrik pusat data AI yang tumbuh cepat menciptakan pasar premium bagi energi beban dasar. Jika panas bumi super-panas terbukti ekonomis, penyedia gas alam ke pembangkit berpotensi menghadapi persaingan dari sumber yang tidak terpengaruh volatilitas harga bahan bakar.
  • Bagi sektor panas bumi Indonesia, validasi teknologi ini bisa memperbaiki persepsi investor global terhadap risiko pengembangan panas bumi — termasuk minat pada emiten energi terbarukan domestik — meski transfer teknologinya belum tentu berjalan cepat karena kedalaman pengeboran dan karakter geologi yang berbeda.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi produksi listrik Mazama pada tahun depan — jika berjalan sesuai jadwal, klaim 15 megawatt per sumur mendapat pembuktian komersial pertama yang akan mengubah cara investor menilai sektor panas bumi.
  • Risiko yang perlu dicermati: sifat modal intensif dan risiko geologis pengeboran dalam — sumur yang gagal atau produksi rendah bisa menghentikan minat modal ventura ke sektor enhanced geothermal global, termasuk aliran dana ke proyek panas bumi di Asia Tenggara.
  • Sinyal penting: hasil pengeboran sumur eksplorasi panas bumi domestik dan kepastian pendanaannya — bila tekanan fiskal menunda belanja modal proyek geothermal, Indonesia berisiko kehilangan momentum saat minat global ke sektor ini justru meningkat.

Konteks Indonesia

Kabar ini tidak memiliki dampak langsung pada pasar atau korporasi Indonesia dalam jangka pendek, tetapi relevan sebagai penanda arah teknologi di sektor yang Indonesia geluti. Indonesia memiliki potensi panas bumi besar dan mengembangkan proyek melalui Pertamina Geothermal Energy, sehingga kemajuan teknologi pengeboran batuan super-panas berpotensi menurunkan biaya per megawatt dalam jangka panjang. Namun perlu dicatat bahwa teknologi Mazama masih tahap awal dan belum terkomersialisasi, sehingga transfer manfaatnya ke proyek domestik belum dapat dipastikan waktunya. Konteks penguat: dengan Brent di sekitar US$103,90 per barel dan kurs Rp17.748 per dolar AS, biaya impor energi menekan fiskal, sehingga setiap tambahan kapasitas energi domestik bernilai strategis. Yang patut dicermati, sebagian besar kapital ventura dan keahlian pengeboran dalam masih terkonsentrasi di Amerika Serikat dan Eropa — bukan di Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.