9 JUL 2026
Manna Ekspansi Drone ke AS dengan US$50 Juta – Sinyal bagi Pasar Logistik RI?

Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Manna Ekspansi Drone ke AS dengan US$50 Juta – Sinyal bagi Pasar Logistik RI?
Teknologi

Manna Ekspansi Drone ke AS dengan US$50 Juta – Sinyal bagi Pasar Logistik RI?

Tim Redaksi Feedberry ·8 Juli 2026 pukul 20.06 · Sinyal menengah · Sumber: TechCrunch ↗
5.7 Skor

Tekanan pada rupiah secara langsung meningkatkan beban biaya bagi importir dan emiten dengan pinjaman dolar AS, yang merupakan mayoritas korporasi besar di Indonesia.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
5
Analisis Startup & Pendanaan
Jumlah
US$50 juta
Sektor
Drone delivery / logistik otomatis
Penggunaan Dana
Pendirian pusat operasi dan manufaktur di Tulsa, Oklahoma, serta ekspansi ke enam kota AS lainnya pada akhir 2027

Ringkasan Eksekutif

Manna Aero, startup drone delivery asal Irlandia, mengumumkan ekspansi besar ke Amerika Serikat dengan mendirikan pusat operasi dan manufaktur di Tulsa, Oklahoma. Fasilitas ini diperkirakan akan mempekerjakan sekitar 1.000 orang dalam beberapa tahun ke depan. Ekspansi ini didanai oleh suntikan modal ventura senilai US$50 juta yang diraih pada April lalu. Pendiri dan CEO Bobby Healy menyebut kebijakan pemerintahan Trump dan FAA telah memberikan "turbo boost" bagi industri drone delivery di AS. Manna mengoperasikan drone otonom yang tidak mendarat – paket diturunkan dengan tali – model yang serupa dengan Wing dan Zipline.

Perusahaan mengadopsi model bisnis hybrid: layanan pengiriman berbasis biaya per penerbangan, bekerja sama dengan DoorDash, Deliveroo, dan Uber Eats di Eropa, serta melalui kemitraan langsung dengan bisnis dan aplikasi konsumen sendiri. Menariknya, Manna menarik operasi drone delivery dari Irlandia bulan lalu karena kurangnya regulasi perencanaan yang memungkinkan skalabilitas. Kini seluruh sumber daya difokuskan ke AS. Healy mengatakan perusahaan tengah mengevaluasi enam kota AS lainnya untuk ekspansi, dengan target mulai beroperasi di kota-kota tersebut pada akhir 2027. Persaingan akan semakin ketat karena Manna akan berhadapan langsung dengan pemain besar seperti Zipline, Amazon, dan Wing milik Google. Namun, Healy optimistis karena ukuran pasar AS, perilaku konsumen, dan aggregator (DoorDash, Uber Eats) yang sudah matang.

Langkah ini menandai pergeseran strategis dari pangsa pasar Eropa yang terfragmentasi ke Amerika yang lebih terintegrasi. Bagi Indonesia, berita ini membawa dua sinyal. Pertama, global drone delivery semakin matang secara komersial dan regulasi, terutama di AS. Kedua, tantangan regulasi yang dihadapi Manna di Irlandia menjadi pelajaran bagi Indonesia: tanpa kerangka regulasi yang jelas, investor dan startup akan pergi ke yurisdiksi yang lebih ramah. Meskipun Manna belum memiliki rencana ekspansi ke Asia Tenggara, tren industri menunjukkan bahwa teknologi drone delivery akan merambah ke negara-negara berkembang dengan geografi kepulauan seperti Indonesia. Beberapa startup lokal seperti Rara Delivery dan Matternet (belum beroperasi di Indonesia) sudah mulai melakukan uji coba.

Namun, adopsi massal masih terhambat oleh regulasi penerbangan yang ketat, infrastruktur logistik yang belum terintegrasi, dan biaya operasi yang tinggi. Manna fokus pada model kemitraan dengan aggregator besar – strategi yang bisa diadaptasi di Indonesia jika regulasi memungkinkan dan ekosistem logistik siap.

Mengapa Ini Penting

Keputusan Manna meninggalkan Irlandia dan memfokuskan diri pada AS adalah bukti bahwa regulasi adalah faktor penentu dalam adopsi teknologi drone delivery. Bagi Indonesia, ini adalah peringatan bahwa tanpa kepastian regulasi, investasi dan inovasi drone akan lari ke negara lain. Di sisi lain, keberhasilan Manna di AS bisa mempercepat tekanan global agar Indonesia segera menyempurnakan aturan drone komersial – yang berpotensi membuka peluang bagi startup lokal dan investor infrastruktur logistik.

Dampak ke Bisnis

  • Ekspansi Manna memperkuat tren global drone delivery, yang secara tidak langsung menekan emiten logistik tradisional di Indonesia (seperti ekspedisi darat) untuk berinvestasi lebih cepat dalam teknologi pengiriman otonom atau berisiko kehilangan pangsa pasar jangka panjang.
  • Startup drone delivery Indonesia seperti Rara Delivery atau ritel yang menggunakan drone (misalnya Gojek jika nanti mengadopsi) mendapatkan referensi bisnis konkret dari model Manna: kemitraan dengan aggregator besar. Ini bisa mempercepat strategi kemitraan serupa di Indonesia jika regulasi memungkinkan.
  • Kegagalan Manna di Irlandia karena regulasi menjadi studi kasus bagi pemerintah Indonesia. Jika DPR dan Kemenhub segera mengesahkan aturan drone komersial yang jelas, Indonesia bisa menarik investasi drone global. Jika tidak, potensi investasi dan lapangan kerja bisa hilang ke negara tetangga seperti Vietnam atau Thailand yang lebih responsif terhadap teknologi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons Kemenhub dan Ditjen Perhubungan Udara dalam 2-4 minggu ke depan – apakah ada pengumuman percepatan regulasi drone komersial? Jika ya, sentimen positif untuk sektor teknologi di BEI.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika AS terus memberikan kemudahan regulasi bagi drone, investor global akan semakin memusatkan pendanaan di Amerika, meninggalkan pasar seperti Indonesia yang masih belum memiliki kepastian aturan. Ini bisa memperlambat masuknya modal ke ekosistem startup drone lokal.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari perusahaan agregator besar seperti Gojek, Grab, atau Shopee mengenai rencana uji coba drone delivery di Indonesia – jika muncul, itu akan menjadi katalis kuat bagi sektor logistik dan teknologi di BEI.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki potensi besar sebagai pasar drone delivery karena geografi kepulauan dengan 17.000 pulau dan biaya logistik yang tinggi (sekitar 24% PDB, lebih tinggi dari rata-rata ASEAN). Namun, regulasi penerbangan untuk drone komersial masih belum komprehensif – izin operasi drone masih bersifat kasuistis dan lambat. Manna sendiri adalah contoh bagaimana ketiadaan regulasi yang jelas dapat membuat startup hengkang dari suatu negara. Di sisi lain, Indonesia memiliki ekosistem e-commerce yang sangat aktif (Shopee, Tokopedia) dan layanan pesan-antar seperti Gojek dan Grab yang sudah terbiasa dengan pengiriman jarak pendek. Jika kerangka regulasi rampung, adopsi drone delivery di Indonesia bisa menjadi terobosan untuk mengurangi biaya logistik dan mempercepat pengiriman ke daerah terpencil. Namun, saat ini belum ada startup lokal yang mencapai skala komersial seperti Manna, Zipline, atau Wing. Berita ekspansi Manna ini tidak berdampak langsung ke pasar Indonesia, namun memberikan gambaran tentang arah industri dan pentingnya kesiapan regulasi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.