8 JUN 2026
M&S Pelatihan 1.000 Pemuda — AI Ubah Pasar Entry-Level Jobs

Foto: BBC Business — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / M&S Pelatihan 1.000 Pemuda — AI Ubah Pasar Entry-Level Jobs
Teknologi

M&S Pelatihan 1.000 Pemuda — AI Ubah Pasar Entry-Level Jobs

Tim Redaksi Feedberry ·7 Juni 2026 pukul 21.54 · Sumber: BBC Business ↗
6 Skor

Tren hilangnya pekerjaan entry-level akibat AI bersifat struktural; meski berita dari Inggris, dampaknya merembet ke Indonesia lewat praktik perusahaan multinasional dan perubahan permintaan tenaga kerja.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Marks & Spencer (M&S) meluncurkan program pelatihan berbayar untuk 1.000 anak usia 16-24 tahun di Inggris dan Irlandia selama 18 bulan ke depan. Inisiatif ini merespons lonjakan jumlah kaum muda yang tidak bekerja, tidak bersekolah, atau tidak mengikuti pelatihan (NEET) yang mencapai lebih dari 1 juta orang — level tertinggi dalam 12 tahun terakhir, atau setara satu dari delapan anak muda. Program ini memberikan enam bulan pelatihan di toko dengan jalur menjadi manajer toko, tanpa syarat gelar sarjana. Latar belakang krisis ini, menurut tinjauan resmi yang ditulis oleh mantan menteri Alan Milburn, mencakup pandemi Covid-19, penggunaan ponsel pintar, masalah kesehatan, dan yang paling kritis: penyusutan jumlah lowongan entry-level di pasar kerja.

Sektor ritel dan perhotelan yang biasanya menjadi pintu masuk pertama dunia kerja bagi kaum muda kini menawarkan lebih sedikit posisi awal. Pemerintah Inggris juga mengumumkan kemitraan dengan industri dan serikat pekerja untuk meneliti dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap peran entry-level, serta memberikan pelatihan AI kepada 400.000 siswa dari sekolah kurang mampu. Perdana Menteri Keir Starmer berencana meluncurkan asisten AI untuk pencari kerja yang diharapkan menjadi "jobcentre di saku" — memberikan bimbingan karier 24 jam sehari. Langkah M&S dan pemerintah Inggris ini mencerminkan kesadaran bahwa model ketenagakerjaan tradisional sedang berubah secara fundamental. Perusahaan ritel tidak bisa lagi mengandalkan aliran otomatis pencari kerja entry-level; mereka harus secara aktif membangun pipeline bakat melalui pelatihan internal.

Bagi Indonesia, sinyal ini penting meskipun jarak geografis dan tingkat adopsi teknologi berbeda. Sektor ritel modern di Indonesia — supermarket, department store, pusat perbelanjaan — mulai mengadopsi sistem kasir mandiri, manajemen inventaris berbasis AI, dan layanan pelanggan otomatis. Hal ini mengurangi kebutuhan akan kasir, pramuniaga, dan staf gudang entry-level. Perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia mungkin membawa praktik serupa dari kantor pusat mereka.

Di sisi lain, inisiatif upskilling seperti yang dilakukan M&S bisa menjadi tolok ukur bagi perusahaan Indonesia untuk berinvestasi dalam pengembangan karier karyawan muda. Pemerintah Indonesia sendiri telah mendorong transformasi digital dan program kartu prakerja, namun masih perlu memperkuat keterkaitan antara pelatihan dan kebutuhan industri yang berubah cepat. Tanpa intervensi serius, risiko terciptanya "generasi yang hilang" — seperti yang diperingatkan Milburn — juga mengintai Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menandai pengakuan eksplisit dari perusahaan ritel besar bahwa entry-level jobs tradisional sedang menyusut secara struktural, terutama akibat AI dan otomatisasi. M&S tidak hanya bereaksi terhadap tren, tetapi secara aktif membentuk kembali model bakat mereka — ini adalah sinyal bahwa perusahaan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, harus mulai memikirkan ulang strategi perekrutan dan pelatihan entry-level. Jika tidak, mereka akan kehilangan akses ke talenta muda sekaligus menghadapi risiko ketidakcocokan keterampilan yang semakin lebar.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan ritel di Indonesia yang bergantung pada tenaga kerja entry-level (seperti kasir, pramuniaga, staf gudang) akan menghadapi tekanan untuk mengadopsi otomatisasi serupa guna menekan biaya, terutama jika margin sudah tipis. Hal ini dapat mempercepat pengurangan jumlah karyawan tetap dan pergeseran ke pekerja paruh waktu atau kontrak.
  • Sektor pendidikan dan pelatihan vokasi di Indonesia mendapat peluang untuk merancang program yang lebih relevan dengan kebutuhan industri ritel modern yang terdigitalisasi. Kerja sama dengan perusahaan ritel besar, seperti Trans Retail atau Mitra Adiperkasa, dapat meniru model M&S — pelatihan berbayar dengan jalur karier jelas tanpa syarat gelar.
  • Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dampak AI pada pasar tenaga kerja muda dengan mengintensifkan program reskilling dan memperkuat kolaborasi dengan industri. Jika tidak, tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK dan universitas bisa meningkat seiring hilangnya posisi entry-level yang konvensional.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: inisiatif serupa dari perusahaan ritel besar lain di Inggris (Tesco, Sainsbury's) atau global (Walmart, Carrefour) — jika banyak yang mengikuti, ini konfirmasi tren struktural yang akan menular ke Indonesia.
  • Risiko yang perlu dicermati: adopsi AI di sektor ritel Indonesia yang masih tertahan oleh investasi dan kesiapan infrastruktur — percepatan atau keterlambatannya akan menentukan seberapa cepat tekanan pada entry-level jobs terasa.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari asosiasi ritel Indonesia (Aprindo) atau perusahaan ritel besar mengenai program pelatihan internal atau restrukturisasi tenaga kerja — ini menjadi indikator bahwa dampak mulai dirasakan di dalam negeri.

Konteks Indonesia

Meskipun berita ini berpusat di Inggris, relevansinya untuk Indonesia signifikan. Tren hilangnya entry-level jobs akibat AI dan otomatisasi tidak terbatas pada negara maju. Di Indonesia, sektor ritel modern dan perhotelan juga mulai mengadopsi teknologi serupa: kasir mandiri di hypermarket, chatbot layanan pelanggan, dan sistem pemesanan digital. Perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia seringkali mengadopsi praktik dari kantor pusat mereka. Selain itu, pemerintah Indonesia tengah mendorong transformasi digital melalui program Kartu Prakerja dan kerja sama dengan industri. Program M&S bisa menjadi referensi bagi perusahaan Indonesia untuk merancang skema pelatihan berbayar yang terstruktur, sebagai investasi jangka panjang dalam mengurangi kesenjangan keterampilan. Namun, tingkat pengangguran muda di Indonesia masih tinggi, dan tanpa respons proaktif dari dunia usaha dan pemerintah, risiko 'generasi yang hilang' juga mengancam Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.