Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
LCT RI-China Tembus US$13 Miliar dalam 4 Bulan, De-Dolarisasi Makin Kencang
Akselerasi LCT mengurangi ketergantungan dolar di tengah tekanan nilai tukar; dampak struktural jangka panjang, namun urgensi terkait sinyal de-dolarisasi yang berbarengan dengan kenaikan BI rate.
Ringkasan Eksekutif
Transaksi local currency settlement (LCT) antara Indonesia dan China menembus US$13 miliar hanya dalam empat bulan pertama 2026, hampir menyamai total capaian full year 2025 yang sebesar US$18 miliar. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan pertumbuhan ini lebih cepat dibandingkan tahun lalu, menunjukkan peningkatan penggunaan rupiah dan renminbi untuk penyelesaian perdagangan dan investasi langsung.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi de-dolarisasi yang terus diperkuat BI, sejalan dengan internasionalisasi renminbi dan upaya mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Perry menegaskan bahwa dengan semakin banyaknya transaksi yang diselesaikan tanpa dolar AS, kebutuhan terhadap dolar untuk berbagai transaksi berkurang. Ini menjadi relevan di saat rupiah tengah tertekan ke level sekitar Rp17.700 per dolar AS dan BI baru saja menaikkan suku bunga acuan 25 bps ke 5,75% pada 18 Juni 2026. Keputusan moneter yang ketat itu ditujukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi yang telah menembus 3,08%. Dalam konteks tersebut, akselerasi LCT berfungsi sebagai kebijakan pelengkap yang bersifat struktural — mengurangi permintaan dolar dari sisi riil, bukan hanya dari sisi keuangan.
Dampak langsung dari tren ini dirasakan oleh eksportir dan importir yang bertransaksi dengan mitra China. Mereka kini memiliki opsi penyelesaian tanpa harus melalui konversi dolar, yang tidak hanya memotong biaya transaksi tetapi juga mengurangi eksposur terhadap fluktuasi USD/IDR. Perbankan yang memiliki jaringan kuat dengan China, seperti bank BUMN dan swasta besar, berpotensi menikmati peningkatan pendapatan berbasis fee dari layanan LCT. Namun, perlu dicatat bahwa volume US$13 miliar dalam empat bulan masih relatif kecil dibandingkan total nilai perdagangan bilateral Indonesia-China yang mencapai lebih dari US$100 miliar per tahun. Dengan kata lain, ruang pertumbuhan masih sangat besar.
Mengapa Ini Penting
Ini bukan sekadar pencapaian statistik, melainkan sinyal bahwa de-dolarisasi Indonesia-China bergerak lebih cepat dari perkiraan. Di tengah tekanan rupiah yang memaksa BI menaikkan suku bunga, pengurangan permintaan dolar dari sektor riil bisa menjadi bantalan struktural yang meredakan tekanan nilai tukar tanpa harus terus-menerus mengorbankan pertumbuhan melalui suku bunga tinggi. Implikasi jangka panjang: jika volume LCT terus membesar, ketergantungan Indonesia pada dolar dalam perdagangan bilateral akan berkurang, mengurangi kerentanan terhadap gejolak dolar global dan kebijakan Fed.
Dampak ke Bisnis
- Eksportir dan importir yang bertransaksi dengan China memperoleh keuntungan langsung berupa penghematan biaya konversi dan hedging. Perusahaan seperti produsen nikel, CPO, dan batu bara yang banyak mengekspor ke China bisa mengurangi biaya transaksi hingga 1-2% per pengiriman, yang signifikan dalam volume besar.
- Perbankan dengan koneksi kuat ke China, seperti Bank Mandiri, BNI, dan BCA, berpotensi meningkatkan pendapatan non-bunga (fee-based income) dari layanan LCT. Bank-bank ini juga bisa memperkuat posisi sebagai perantara settlement, terutama jika ekspansi ke mitra dagang lain menyusul.
- Dalam jangka menengah, keberhasilan LCT dapat mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa karena BI tidak perlu terus-menerus mengintervensi pasar valas untuk memenuhi permintaan dolar dari impor. Ini memberi ruang bagi BI untuk lebih fokus pada kebijakan makroprudensial dan mendukung pertumbuhan kredit.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: pertumbuhan volume LCT kuartal III 2026 — jika masih di atas 50% YoY, tren de-dolarisasi sudah mapan; jika melambat, mungkin ada hambatan implementasi seperti kurangnya likuiditas renminbi di pasar domestik.
- Risiko yang perlu dicermati: reaksi mitra dagang China terhadap kebijakan tarif AS atau sanksi yang dapat mengganggu aliran perdagangan — LCT hanya efektif jika volume perdagangan bilateral tetap kuat.
- Sinyal penting: perluasan LCT ke negara lain, khususnya Jepang dan Korea Selatan — jika BI mengumumkan perjanjian serupa dalam 6 bulan ke depan, itu menandakan komitmen de-dolarisasi yang sistemik, bukan hanya bilateral.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.