25 JUN 2026
Laba Pertamina 2025 Tembus Rp55,2 T – Kontribusi Negara Rp360,76 T, Belanja Modal Rp97,2 T

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / Laba Pertamina 2025 Tembus Rp55,2 T – Kontribusi Negara Rp360,76 T, Belanja Modal Rp97,2 T
Korporasi

Laba Pertamina 2025 Tembus Rp55,2 T – Kontribusi Negara Rp360,76 T, Belanja Modal Rp97,2 T

Tim Redaksi Feedberry ·25 Juni 2026 pukul 04.04 · Sinyal tinggi · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
8 Skor

Laba Pertamina 2025 mencerminkan fundamental yang solid di tengah tantangan energi global, dengan kontribusi negara yang besar dan belanja modal tinggi; dampak langsung ke fiskal, sektor energi, dan rantai pasok domestik, serta sinyal positif bagi iklim investasi hilirisasi.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
9
Analisis Laporan Keuangan
Periode
FY2025
Pendapatan
US$70,89 miliar (Rp1.167,99 triliun)
Laba Bersih
US$3,35 miliar (Rp55,2 triliun)
EBITDA
US$11,43 miliar (Rp188,33 triliun)
Metrik Kunci
  • ·Kontribusi ke negara: Rp360,76 triliun (pajak, PNBP, dividen)
  • ·Belanja modal dalam negeri: US$5,9 miliar (Rp97,2 triliun)
  • ·Penyerapan produk dalam negeri: Rp531,5 triliun
  • ·Produksi hulu: >1 juta BOEPD
  • ·Yield valuable product kilang: 83,7% dengan intake 333 juta barel
  • ·Produksi listrik EBT: 8.711 GWh (tumbuh 3% YoY)
  • ·Penurunan emisi karbon: 2,27 juta ton CO2e

Ringkasan Eksekutif

PT Pertamina (Persero) membukukan laba bersih US$3,35 miliar atau sekitar Rp55,2 triliun sepanjang tahun buku 2025, menurut hasil RUPS pada Selasa (23/6) di Jakarta. Pendapatan perusahaan mencapai US$70,89 miliar (Rp1.167,99 triliun), sementara EBITDA tercatat US$11,43 miliar (Rp188,33 triliun). Direktur Utama Simon Aloysius Mantiri menyatakan bahwa capaian ini mencerminkan kemampuan Pertamina menjaga pasokan energi sekaligus menjalankan transformasi bisnis dan transisi energi. Di samping itu, Pertamina menyetorkan kontribusi kepada negara sebesar Rp360,76 triliun melalui pajak, PNBP, dan dividen. Belanja modal di dalam negeri terealisasi US$5,9 miliar (Rp97,2 triliun) untuk memperkuat infrastruktur energi nasional, sementara penyerapan belanja produk dalam negeri mencapai Rp531,5 triliun. Di sektor hulu, produksi minyak dan gas bumi tetap di atas 1 juta barel setara minyak per hari (BOEPD).

Pada sektor pengolahan, kilang Pertamina mencatat yield valuable product sebesar 83,7% dengan total volume intake mencapai 333 juta barel. Di bidang energi bersih, produksi listrik dari EBT mencapai 8.711 GWh (tumbuh 3% dibanding tahun sebelumnya), dan program dekarbonisasi berhasil menurunkan emisi karbon hingga 2,27 juta ton CO2e. Kinerja ini terjadi di tengah tantangan industri energi global dan dinamika ekonomi sepanjang 2025, termasuk fluktuasi harga minyak yang sempat tertekan oleh normalisasi Selat Hormuz akhir Juni 2026 yang berdampak pada harga minyak ke level US$73 per barel. Bagi Indonesia, laba Pertamina yang solid memperkuat kemampuan perusahaan dalam mendukung ketahanan energi, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan margin jika harga minyak terus turun.

Kontribusi negara sebesar Rp360,76 triliun menjadi penyangga fiskal di tengah defisit APBN awal tahun yang mencatatkan Rp240,1 triliun per Maret 2026. Namun, tekanan pada rupiah (USD/IDR di sekitar 17.930) dan potensi penurunan harga minyak global dapat mempengaruhi pendapatan Pertamina ke depan. Oleh karena itu,

Mengapa Ini Penting

Laba Pertamina 2025 menunjukkan bahwa BUMN energi tetap menjadi pilar utama penerimaan negara dan ketahanan pasokan di tengah ketidakpastian global. Capaian ini memperkuat posisi Pertamina sebagai penggerak investasi dalam negeri melalui belanja modal yang tinggi, namun juga menyoroti kerentanan terhadap pergerakan harga minyak dan nilai tukar. Dampak langsung terasa pada sektor manufaktur dan energi yang bergantung pada pasokan stabil, serta pada APBN yang mengandalkan dividen dan pajak dari Pertamina – terutama di saat tekanan fiskal mulai terlihat dari defisit awal tahun.

Dampak ke Bisnis

  • Kontribusi Rp360,76 triliun ke negara memperkuat pendapatan negara di tengah defisit APBN yang melebar; dividen dan PNBP Pertamina menjadi bantalan fiskal penting yang mengurangi kebutuhan utang baru pemerintah.
  • Belanja modal Rp97,2 triliun dan penyerapan produk dalam negeri Rp531,5 triliun berdampak langsung pada rantai pasok domestik: mendorong pertumbuhan UMKM dan industri pendukung migas, serta memperkuat infrastruktur energi yang krusial bagi sektor manufaktur dan logistik.
  • Keberhasilan program dekarbonisasi (turun 2,27 juta ton CO2e) dan pertumbuhan EBT 3% dapat membuka peluang investasi hijau serta kepatuhan terhadap standar ESG global, menarik investor asing yang semakin peduli pada keberlanjutan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi produksi minyak dan gas bulanan Pertamina – apabila turun di bawah 1 juta BOEPD, hal ini akan mempengaruhi pendapatan dan kemampuan memenuhi DMO, serta berpotensi meningkatkan impor energi.
  • Risiko yang perlu dicermati: penurunan harga minyak global lebih lanjut (Brent di bawah US$70) – dapat menekan laba Pertamina dan mengurangi kontribusi ke negara, memperburuk tekanan fiskal yang sudah ada.
  • Sinyal penting: hasil lelang blok migas baru dan investasi hulu tahun ini – apakah realisasi belanja modal Pertamina sesuai proyeksi, yang menjadi indikator keyakinan terhadap prospek jangka panjang industri hulu Indonesia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.