Meski ini laporan kuartalan korporasi asing, sinyalnya struktural: penerbit stablecoin terbesar kedua dunia kehilangan tenaga pendapatan inti dan pangsa pasar tepat ketika konsorsium Visa-Mastercard-Stripe masuk — perubahan peta ekonomi rel pembayaran dolar digital yang cepat atau lambat menyentuh koridor pembayaran dan remitansi Indonesia.
- Periode
- Kuartal III 2026
- Pertumbuhan YoY
- +17% (pendapatan total dan pendapatan cadangan)
- Pendapatan
- US$865 juta (pendapatan total dan pendapatan cadangan)
- Metrik Kunci
-
- ·EPS dilusian $0,84 versus ekspektasi analis $0,42
- ·Pendapatan cadangan $657,6 juta, turun 8% YoY
- ·Imbal hasil cadangan 3,5%, turun 61 basis poin YoY
- ·Rata-rata peredaran USDC naik 8% YoY
- ·Peredaran USDC $73,9 miliar per akhir September
- ·Pangsa pasar USDC 27%, turun 1,83 poin persentase
- ·Pemasukan presale token ARC $182 juta
- ·Harga saham $74,59, turun 0,84% pada 4 November
- ·Kisaran Fed Funds 3,75%–4% per September, versus 4%–4,25% setahun sebelumnya
Ringkasan Eksekutif
Circle membukukan laba per saham dilusian $0,84 pada kuartal ketiga, naik dari $0,64 setahun sebelumnya dan dua kali lipat ekspektasi analis di $0,42. Pendapatan total dan pendapatan cadangan naik 17% ke $865 juta. Namun kualitas angka itu perlu dibaca hati-hati: $182 juta di antaranya berasal dari penjualan perdana token ARC, dan tanpa pos tersebut pendapatan Circle justru turun dibanding tahun sebelumnya. Pasar merespons datar — saham Circle melemah 0,84% ke $74,59 pada 4 November, sinyal bahwa pelaku pasar sudah melihat lapisan di balik lonjakan laba itu. Bisnis inti Circle, yakni imbal hasil atas cadangan yang menjamin USDC, sedang kehilangan tenaga.
Rata-rata peredaran USDC memang naik 8% secara year-on-year, tetapi imbal hasil cadangan turun 61 basis poin menjadi 3,5%, sehingga pendapatan cadangan menyusut 8% ke $657,6 juta. Penyebabnya bukan melemahnya permintaan, melainkan arah suku bunga: Federal Reserve menaikkan kisaran acuan seperempat poin menjadi 3,75%–4% pada September, tetapi level itu masih di bawah 4%–4,25% yang berlaku setahun sebelumnya. Inilah kerentanan struktural model bisnis penerbit stablecoin — pendapatan bergerak mengikuti suku bunga dan jumlah token beredar, bukan mengikuti nilai tambah layanan. Ketika saldo tumbuh tetapi imbal hasil menyusut, pertumbuhan pendapatan berhenti dengan sendirinya. Tekanan datang dari dua arah sekaligus. Pangsa pasar USDC turun 1,83 poin persentase menjadi 27% pada akhir September, dengan peredaran $73,9 miliar.
Di sisi kompetisi, Open Standard menghadirkan Open USD di Solana hingga 30 September dengan Coinbase, Mastercard, Shopify, Stripe, dan Visa sebagai mitra pendiri — model yang membagikan laba cadangan kepada mitra setelah dipotong biaya pengelolaan. Ini menggeser medan persaingan dari likuiditas token ke pembagian ekonomi, dan penerbit yang tidak memiliki jaringan pembayaran sendiri akan sulit menyamainya. Circle merespons lewat diversifikasi: jaringan pembayaran diluncurkan Mei 2025, Arc sebagai blockchain untuk aplikasi keuangan mengudara di mainnet publik pada 16 September 2026, dan token ARC dirancang untuk keamanan serta tata kelola jaringan menjelang proof of stake pada 2027, dengan biaya transaksi dibayarkan dalam USDC.
Mengapa Ini Penting
Laba yang tumbuh dua kali lipat ekspektasi analis ternyata bukan datang dari bisnis yang menjual jasa, melainkan dari menjual token — pos yang tidak berulang. Yang benar-benar berubah secara struktural adalah berakhirnya era mudah bagi penerbit stablecoin: selama suku bunga tinggi, mereka bisa mencetak uang hanya dengan menyimpan cadangan; begitu imbal hasil turun, mereka harus bersaing di lapisan pembayaran dan distribusi, medan yang justru dikuasai Visa, Mastercard, dan Stripe. Pergeseran kekuasaan ini menjelaskan mengapa Circle rela menggelar presale token jauh sebelum jaringannya matang.
Dampak ke Bisnis
- Model pendapatan berbasis bunga cadangan kehilangan daya angkat. Circle membukukan pendapatan cadangan $657,6 juta atau turun 8% year-on-year, meski rata-rata peredaran USDC naik 8%. Bagi ekosistem stablecoin, ini menandakan margin penerbit akan ditentukan oleh biaya layanan dan pembagian fee, bukan oleh selisih suku bunga — tekanan yang menular ke bursa kripto dan penyedia dompet yang selama ini menikmati insentif dari penerbit.
- Masuknya Open USD dengan Coinbase, Mastercard, Shopify, Stripe, dan Visa sebagai mitra pendiri memindahkan persaingan ke pembagian laba cadangan kepada mitra. Bagi operator pembayaran dan remitansi di Indonesia, pilihan rel stablecoin berubah menjadi keputusan strategis: bergantung pada satu penerbit berarti menanggung risiko pangsa pasar penerbit itu — USDC kini 27%, turun 1,83 poin persentase — sekaligus terpapar perubahan model bagi hasil yang bisa berbalik merugikan mitra.
- Kualitas laba menjadi tema yang lebih sulit dibaca. Ketika penjualan token presale dapat menutup penyusutan pendapatan inti, valuasi emiten keuangan kripto kehilangan pembanding yang stabil; dampaknya baru terasa tiga sampai enam bulan ke depan, ketika kuartal tanpa pos serupa memaksa pasar menilai ulang pertumbuhan yang sesungguhnya. Emiten dan ventura di sektor aset digital di kawasan akan menghadapi standar pengungkapan yang lebih ketat dari investor institusi.
- Risiko yang jarang dibahas: imbal hasil cadangan yang menurun justru mendorong penerbit menawarkan produk berbagi hasil kepada pemegang token untuk mempertahankan saldo. Di pasar dengan mata uang lokal tertekan, insentif memindahkan simpanan ke instrumen berdenominasi dolar menguat, dan itu memengaruhi intermediasi perbankan domestik lebih cepat daripada yang ditunjukkan data makro.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: laporan kuartal keempat Circle — tanpa pemasukan presale token ARC sebesar $182 juta, pendapatan berpotensi kembali ke bawah level tahun sebelumnya; angka ini menjadi ujian apakah jaringan pembayaran dan Arc sudah menghasilkan pendapatan berulang.
- Risiko yang perlu dicermati: peredaran USDC yang berhenti di sekitar $73,9 miliar sementara imbal hasil cadangan bertahan di 3,5% — kombinasi keduanya memangkas pendapatan dari dua sisi sekaligus dan dapat memicu perang bagi hasil yang menekan margin seluruh penerbit.
- Sinyal penting: volume yang berhasil dipindahkan Open USD melalui jaringan mitra pendirinya — jika terlihat peralihan likuiditas yang nyata dalam beberapa pekan, penurunan pangsa pasar USDC dari 27% bukan lagi fluktuasi melainkan awal pergeseran struktur pasar.
- Yang perlu dipantau: arah suku bunga acuan AS pasca keputusan September di kisaran 3,75%–4% — setiap penurunan lebih lanjut mempersempit pendapatan cadangan penerbit stablecoin dan mempercepat peralihan mereka ke model berbasis biaya layanan.
Konteks Indonesia
Jalur dampaknya ke Indonesia berjalan melalui koridor pembayaran lintas batas dan remitansi, tempat stablecoin dipakai sebagai alat penyelesaian. Ketika pangsa pasar USDC menyusut menjadi 27% dan model bagi hasil Open USD menawarkan ekonomi yang berbeda kepada mitra, operator remitansi, bank koresponden, dan dompet digital di dalam negeri menghadapi keputusan vendor yang lebih rumit: memilih rel yang likuiditasnya teruji, atau rel yang bagi hasilnya lebih menarik tetapi jaringannya belum matang. Tekanan bertambah karena kurs dolar AS berada di Rp18.090, level yang membuat instrumen berdenominasi dolar semakin menarik bagi pelaku usaha dan investor ritel; insentif memindahkan simpanan ke dolar digital menguat setiap kali rupiah tertekan. Di sisi lain, pergeseran penerbit stablecoin ke model berbasis biaya layanan dan imbal hasil staking membuka ruang bagi produk berbagi hasil yang belum tentu sejalan dengan kerangka pengawasan aset digital domestik, sehingga batas antara alat pembayaran dan instrumen investasi makin tipis dan menjadi pekerjaan rumah bagi otoritas.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.