30 MEI 2026
Kritik Biaya Perjalanan Prabowo Muncul di Tengah Defisit APBN Rp240 Triliun

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Kritik Biaya Perjalanan Prabowo Muncul di Tengah Defisit APBN Rp240 Triliun
Kebijakan

Kritik Biaya Perjalanan Prabowo Muncul di Tengah Defisit APBN Rp240 Triliun

Tim Redaksi Feedberry ·30 Mei 2026 pukul 10.37 · Sinyal menengah · Sumber: Katadata ↗
7 Skor

Isu efisiensi belanja negara kian mengemuka bersamaan dengan defisit APBN yang sudah mencapai Rp240 triliun — sentimen publik terhadap pengeluaran presiden bisa memengaruhi persepsi investor terhadap disiplin fiskal.

Urgensi
7
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
8
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Potensi kebijakan penghematan biaya perjalanan kenegaraan (masih berupa usulan)
Penerbit
Sekretariat Negara / Kementerian Luar Negeri / Istana Presiden
Perubahan Kunci
  • ·Usulan penggantian pertemuan bilateral tatap muka dengan video call untuk menghemat biaya.
  • ·Usulan formula '1 plus 8': satu kunjungan internasional dimanfaatkan untuk bertemu delapan pemimpin lain.
  • ·Usulan agar presiden lebih banyak menerima tamu di Indonesia daripada bepergian ke luar negeri.
Pihak Terdampak
Kementerian Luar Negeri (protokol dan anggaran perjalanan dinas)Maskapai pelat merah dan penyedia jasa perjalanan kenegaraanSektor perhotelan dan MICE di destinasi kunjungan luar negeriInvestor yang memantau sinyal efisiensi fiskal

Ringkasan Eksekutif

Dino Patti Djalal, mantan Wakil Menlu, menyoroti frekuensi perjalanan luar negeri Presiden Prabowo yang mencapai satu dari setiap enam hari masa jabatan dihabiskan di luar negeri. Ia mengusulkan penggantian pertemuan bilateral tatap muka dengan video call untuk menghemat biaya negara, dengan klaim satu perjalanan bisa menelan biaya puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Kritik ini muncul di tengah tekanan fiskal yang makin nyata: defisit APBN hingga Maret 2026 tercatat Rp240 triliun atau 0,93% PDB, dengan keseimbangan primer negatif Rp95,8 triliun — artinya utang baru digunakan membayar bunga utang lama. Ditambah kurs rupiah yang berada di level tertekan dan harga minyak global yang tinggi, ruang fiskal semakin sempit.

Dino mencontohkan Presiden Meksiko yang melakukan 17 kali panggilan telepon dengan Presiden AS tanpa pertemuan langsung, dan menyarankan pendekatan '1 plus 8' — satu kunjungan internasional digunakan untuk bertemu delapan pemimpin lain. Ia juga mendorong presiden lebih banyak menerima tamu di Indonesia. Kritik ini bukan sekadar soal etika atau citra, melainkan menyentuh jantung persoalan alokasi anggaran di saat prioritas belanja sedang ketat. Jika usulan ini direspons serius, potensi penghematan bisa signifikan dan dialihkan ke sektor produktif seperti pendidikan atau kesehatan. Namun, di sisi lain, diplomasi langsung seringkali tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh komunikasi virtual karena dimensi kepercayaan dan negosiasi informal.

Mengapa Ini Penting

Di tengah defisit yang membengkak dan tekanan pada rupiah, setiap pengeluaran negara — termasuk perjalanan presiden — menjadi sorotan. Isu ini menguji kredibilitas fiskal pemerintah di mata investor dan lembaga rating, serta membuka peluang efisiensi belanja yang bisa berdampak langsung pada alokasi anggaran sektor riil.

Dampak ke Bisnis

  • Jika pemerintah serius menekan biaya perjalanan kenegaraan, potensi penghematan puluhan hingga ratusan miliar per perjalanan bisa dialihkan ke belanja modal atau subsidi yang mendukung dunia usaha, terutama sektor infrastruktur dan UMKM.
  • Sentimen negatif dari kritik ini — jika tidak direspons — dapat memperkuat persepsi risiko fiskal, mendorong foreign outflow dari SBN, dan menekan yield obligasi korporasi, terutama di sektor yang bergantung pada belanja pemerintah.
  • Sektor perhotelan dan layanan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) yang biasa diuntungkan dari kunjungan kenegaraan — baik di dalam maupun luar negeri — bisa mengalami penurunan permintaan jika pola perjalanan dikurangi secara signifikan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pernyataan resmi dari Jubir Istana atau Mensesneg mengenai evaluasi biaya perjalanan presiden — apakah ada rencana penghematan atau justru pembelaan.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika isu ini berlarut tanpa tindakan nyata, bisa memicu penurunan kepercayaan investor terhadap komitmen fiskal, memperlebar spread CDS Indonesia.
  • Sinyal penting: RAPBN-P 2026 — lihat apakah ada pos penghematan perjalanan dinas atau peningkatan belanja modal sebagai kompensasi. Jika ada, ini positif bagi pasar.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.