16 JUN 2026
Kompor Listrik Rp815 M 2027: Target Kurangi Impor LPG, Tantangan Infrastruktur

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Kompor Listrik Rp815 M 2027: Target Kurangi Impor LPG, Tantangan Infrastruktur
Kebijakan

Kompor Listrik Rp815 M 2027: Target Kurangi Impor LPG, Tantangan Infrastruktur

Tim Redaksi Feedberry ·15 Juni 2026 pukul 13.30 · Sumber: Katadata ↗
7.3 Skor

Anggaran besar untuk substitusi LPG, namun implementasi masih tahap awal; tekanan fiskal dan kasus korupsi sebelumnya menambah risiko; berdampak luas ke neraca perdagangan, industri, dan rumah tangga.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Kementerian ESDM mengalokasikan Rp815 miliar untuk program kompor listrik pada 2027, dengan dua kriteria utama wilayah sasaran: daerah berpasokan listrik stabil dan daerah surplus listrik. Prioritas diberikan pada Pulau Jawa karena infrastruktur grid yang paling andal, serta kawasan Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo yang mengalami kelebihan pasokan. Program ini masuk dalam kategori strategis ketahanan energi untuk mengurangi konsumsi LPG yang sebagian besar masih diimpor, sehingga diharapkan dapat menekan pengeluaran devisa dan subsidi negara. Meski pagu indikatif sudah disiapkan, pemerintah masih berdiskusi dengan Bappenas dan PLN untuk mematangkan desain, termasuk skema konversi, jumlah unit, dan wilayah spesifik.

Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi menegaskan bahwa program ini berbeda dari inisiatif serupa sebelumnya karena sekarang dikategorikan sebagai efisiensi energi di bawah Direktorat Jenderal EBTKE, bukan lagi di sektor ketenagalistrikan. Namun, pelaksanaan program menghadapi tantangan signifikan. Pertama, infrastruktur listrik di luar Jawa belum merata, sehingga perluasan ke daerah dengan surplus terbatas harus dipastikan tidak mengganggu pasokan rumah tangga dan industri. Kedua, daya beli masyarakat yang masih tertekan — tercermin dari rupiah yang melemah ke level Rp17.714 per dolar AS dan harga minyak Brent yang bertahan di atas $83 per barel — berpotensi menghambat adopsi jika biaya konversi atau penggunaan listrik harian tidak kompetitif dibandingkan LPG bersubsidi.

Ketiga, pengalaman dengan program motor listrik Badan Gizi Nasional yang tersandung kasus korupsi menjadi pengingat akan risiko tata kelola dalam pengadaan barang pemerintah, sehingga transparansi dan pengawasan menjadi krusial. Sektor-sektor yang akan terdampak langsung meliputi produsen kompor listrik dan komponen elektronik, perusahaan logistik distribusi, serta UMKM yang selama ini menggantungkan pendapatan dari penjualan LPG tabung. Di sisi makro, keberhasilan program dapat memperbaiki neraca perdagangan dengan mengurangi impor LPG, namun jika gagal, justru akan menambah beban fiskal dan memperpanjang ketergantungan energi. Dalam 1–4 minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Program kompor listrik bukan sekadar pengganti alat masak; ia merupakan instrumen kebijakan fiskal dan energi yang dapat memengaruhi alokasi subsidi, neraca pembayaran, serta struktur konsumsi rumah tangga dalam jangka menengah. Di tengah defisit APBN yang melebar dan rupiah yang terus tertekan, setiap pengurangan pengeluaran devisa menjadi kritis. Keberhasilan program ini akan memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi beban subsidi LPG yang membengkak, sementara kegagalan akan memperpanjang ketergantungan pada impor dan memperlemah posisi eksternal Indonesia.

Dampak ke Bisnis

  • Produsen kompor listrik dan komponen elektronik dalam negeri berpeluang mendapatkan kontrak pengadaan pemerintah dalam skala besar, namun harus bersaing dengan produk impor dan memenuhi standar TKDN. Risiko kepatuhan dan audit yang ketat pasca-kasus korupsi motor listrik akan memperlambat proses tender dan meningkatkan biaya administrasi.
  • Perusahaan logistik dan distribusi yang saat ini melayani rantai pasok LPG — mulai dari agen hingga pangkalan — akan mengalami penurunan volume bisnis jika adopsi kompor listrik masif. Sebaliknya, jaringan distribusi listrik PLN dan pemasok meteran pintar akan mendapat tambahan permintaan, meskipun investasi perluasan grid di luar Jawa masih membutuhkan modal besar.
  • UMKM yang bergerak di sektor kuliner dan warung makan sangat bergantung pada LPG tabung 3 kg bersubsidi. Konversi ke kompor listrik dapat mengubah struktur biaya operasional mereka, terutama jika tarif listrik lebih tinggi dari harga LPG bersubsidi. Pemerintah perlu mempertimbangkan kompensasi atau subsidi silang agar program tidak membebani pelaku usaha mikro.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil pembahasan DPR pada Agustus 2026 — apakah pagu Rp815 miliar disetujui dan kriteria wilayah diperjelas; jika ada pemangkasan, itu sinyal perlambatan komitmen fiskal.
  • Risiko yang perlu dicermati: dugaan korupsi serupa dengan program motor listrik BGN dapat muncul, mengingat nilai proyek besar dan melibatkan banyak pihak; setiap pengembangan investigasi Kejagung akan menekan sentimen pasar terhadap saham kontraktor pemerintah dan memperlambat realisasi proyek.
  • Sinyal penting: uji coba teknis kompor listrik di beberapa daerah yang diumumkan Kementerian ESDM — jika hasil efisiensi energi dan penghematan biaya terkonfirmasi, dapat mempercepat adopsi; sebaliknya, keluhan teknis akan memperkuat resistensi masyarakat dan menunda perluasan program.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.