Foto: Tempo Bisnis — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Ekspor melonjak 64,7% ke US$9,1 miliar namun konsumsi domestik turun 27% — sinyal pergeseran dari konsumsi ke investasi emas batangan, tapi industri tetap tumbuh berkat orientasi ekspor.
- Komoditas
- Emas
- Faktor Demand
-
- ·Permintaan emas batangan dunia naik 16% YoY menjadi 1.402 ton pada 2025
- ·Konsumsi perhiasan emas di Indonesia turun 27% dari 22,8 ton (2024) menjadi 16,6 ton (2025)
- ·Ekspor
Ringkasan Eksekutif
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan optimisme terhadap industri emas perhiasan nasional meski terjadi peningkatan pembelian logam mulia. Data global menunjukkan permintaan emas batangan dunia naik 16% secara tahunan menjadi 1.402 ton pada 2025, sementara konsumsi perhiasan emas di Indonesia justru turun 27% dari 22,8 ton pada 2024 menjadi 16,6 ton pada 2025. Namun, ekspor kumulatif barang perhiasan dan barang berharga tumbuh 64,72% menjadi US$9,1 miliar pada 2025 dari sebelumnya US$5,5 miliar pada 2024. Industri ini menyerap 21.116 tenaga kerja melalui 539 unit usaha — mayoritas adalah industri kecil (411 unit).
Yang tidak terlihat dari headline adalah pergeseran struktural yang terjadi: konsumen domestik beralih dari perhiasan ke emas batangan akibat lonjakan harga emas pada akhir 2025, sementara produsen perhiasan Indonesia justru memanfaatkan permintaan global yang kuat. Ekspor didominasi produk logam mulia selain perak (83,96% dari total ekspor, senilai US$7,64 miliar). Keunggulan daya saing disebut terletak pada kreativitas desain dan identitas budaya lokal yang menjadi daya tarik di pasar global. Pelaku industri kecil dan menengah mayoritas tetap memilih fokus memproduksi perhiasan daripada beralih ke logam mulia, menunjukkan optimisme terhadap ceruk ekspor. Dampaknya terhadap perekonomian nasional cukup signifikan.
Sektor perhiasan emas yang berorientasi ekspor berkontribusi positif terhadap neraca perdagangan — nilai ekspor US$9,1 miliar setara sekitar 6,5% dari total ekspor non-migas Indonesia (angka perbandingan dari data umum, bukan sumber). Tekanan domestik akibat turunnya konsumsi memang nyata, terutama bagi perajin dan toko perhiasan lokal yang mengandalkan pasar dalam negeri. Namun, kemampuan industri untuk beralih ke pasar ekspor menjadi bantalan yang cukup kuat. Pemerintah melalui Kemenperin terus mendorong inovasi material dan desain untuk menjaga daya saing.
Mengapa Ini Penting
Berita ini menunjukkan bahwa industri manufaktur Indonesia masih bisa tumbuh melalui orientasi ekspor meskipun permintaan domestik melemah — sebuah sinyal bagi investor bahwa sektor berbasis ekspor komoditas olahan (value-added) seperti perhiasan emas menawarkan bantalan terhadap tekanan ekonomi domestik. Di sisi lain, penurunan konsumsi domestik sebesar 27% dalam satu tahun mencerminkan pergeseran preferensi konsumen yang bisa mengancam usaha kecil yang tidak mampu menjangkau pasar global.
Dampak ke Bisnis
- Eksportir perhiasan emas skala besar dan menengah memperoleh keuntungan langsung dari lonjakan permintaan global, terutama negara-negara dengan pertumbuhan kelas menengah dan budaya konsumsi perhiasan. Nilai ekspor yang meningkat signifikan memperbaiki arus kas dan margin mereka.
- Perajin dan pengecer perhiasan kecil yang bergantung pada pasar domestik menghadapi tekanan karena konsumen beralih ke emas batangan sebagai instrumen investasi yang lebih likuid. Mereka perlu beradaptasi dengan menawarkan produk yang lebih terjangkau atau mengembangkan saluran ekspor.
- Efek jangka menengah: sektor perhiasan emas menjadi semakin terintegrasi dengan rantai pasok global. Hal ini bisa menarik investasi asing di bidang desain dan pemrosesan logam mulia, tetapi juga membuat industri lebih sensitif terhadap fluktuasi harga emas dan kebijakan perdagangan internasional.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: data ekspor perhiasan bulanan dari BPS dan Kemenperin — apakah tren pertumbuhan 64,7% berlanjut atau mulai melambat karena efek basis dan tekanan ekonomi global.
- Risiko yang perlu dicermati: kenaikan suku bunga acuan global (AS) yang dapat memperkuat dolar AS dan menekan harga emas dalam dolar, berpotensi mengurangi daya beli konsumen global untuk perhiasan meskipun permintaan emas batangan investasi tetap kuat.
- Sinyal penting: pernyataan lanjutan dari Kemenperin tentang insentif atau program khusus untuk mendorong ekspor perhiasan — jika ada, bisa menjadi katalis positif bagi emiten atau pelaku industri terkait.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.