16 JUN 2026
Karhutla Meluas 8 Kali Lipat, BRIN Buka Opsi Pembakaran Terkendali — Beban Ekonomi Mengintai

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Karhutla Meluas 8 Kali Lipat, BRIN Buka Opsi Pembakaran Terkendali — Beban Ekonomi Mengintai
Kebijakan

Karhutla Meluas 8 Kali Lipat, BRIN Buka Opsi Pembakaran Terkendali — Beban Ekonomi Mengintai

Tim Redaksi Feedberry ·15 Juni 2026 pukul 13.31 · Sinyal menengah · Sumber: Katadata ↗
6.7 Skor

Luas karhutla 8x lipat dalam setahun mengindikasikan tekanan lingkungan yang memburuk cepat, berdampak langsung pada biaya perusahaan perkebunan, anggaran negara, dan risiko kesehatan masyarakat. Meski tidak segera sistemik, eskalasi ini membutuhkan respons kebijakan yang dapat mengubah lanskap regulasi lahan.

Urgensi
7
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia pada Januari–Mei 2026 meluas hampir delapan kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencapai 81 ribu hektare. Kepala Pusat Riset Ekologi BRIN, Asep Hidayat, menegaskan bahwa sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia, sementara faktor iklim hanya berperan sebagai penguat skala dan intensitas. Dalam diskusi bertajuk 'When Fire Can Heal', BRIN membuka opsi pembakaran terkendali sebagai strategi pengelolaan kebakaran yang lebih efektif—sebuah praktik yang sudah diterapkan puluhan tahun di Amerika Serikat, Australia, dan Kanada untuk mengurangi bahan bakar alami, mempercepat regenerasi hutan, dan mengendalikan spesies invasif. Namun, pakar kebakaran Israr Akbar mengingatkan bahwa implementasi di Indonesia masih terkendala dari aspek regulasi, kapasitas pengawasan, dan karakteristik ekosistem.

Celah hukum ada pada Pasal 69 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang masih mengizinkan masyarakat lokal membakar lahan maksimal dua hektare. Dari sisi sinyal, opsi pembakaran terkendali ini muncul di saat karhutla sudah mengancam sektor-sektor produktif. Perusahaan perkebunan—terutama kelapa sawit dan hutan tanaman industri—memiliki konsesi lahan yang rentan terbakar. Ketika api meluas, biaya pemadaman dan kerugian akibat kerusakan tanaman langsung membengkak. Sebaliknya, jika pembakaran terkendali diizinkan dengan pengawasan yang ketat, akumulasi bahan bakar alami seperti daun kering dan ranting dapat berkurang, sehingga potensi kebakaran besar justru mengecil. Ini bisa menekan biaya operasional jangka panjang bagi korporasi yang selama ini menganggarkan dana besar untuk pemadaman darurat setiap musim kemarau.

Dampak ekonomi juga merembet ke sektor lain. Kabut asap dari kebakaran skala besar kerap mengganggu transportasi udara—menutup bandara, membatalkan penerbangan—serta menurunkan produktivitas tenaga kerja akibat gangguan kesehatan. Sektor pariwisata dan perhotelan di wilayah terdampak akan mengalami penurunan kunjungan. Pemerintah pun harus mengalokasikan anggaran tambahan untuk bantuan kesehatan, pemadaman, dan restorasi, sehingga menambah tekanan pada APBN yang sudah defisit.

Di sisi lain, tekanan internasional terhadap keberlanjutan produk sawit Indonesia bisa meningkat jika karhutla dipersepsikan sebagai akibat dari praktik pembukaan lahan yang tidak bertanggung jawab. Dalam satu hingga empat minggu ke depan, sinyal kunci

Mengapa Ini Penting

Perdebatan soal pembakaran terkendali bukan sekadar isu lingkungan, melainkan memiliki implikasi langsung pada biaya operasional perusahaan perkebunan, beban fiskal negara, dan daya saing ekspor sawit Indonesia. Jika kebijakan ini diadopsi, aturan main pengelolaan lahan bisa berubah secara fundamental; jika ditolak, risiko karhutla besar tetap mengintai dan dapat memicu kerugian ekonomi yang lebih luas dari yang terlihat saat ini.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan perkebunan yang terdaftar di BEI (seperti AALI, SIMP, LSIP) menghadapi risiko langsung: biaya pemadaman yang membengkak jika karhutla terus meluas, serta potensi kerusakan tanaman yang menekan produksi CPO dan pulp. Sebaliknya, jika pembakaran terkendali diterapkan secara legal, mereka bisa menghemat biaya jangka panjang dengan pengelolaan lahan yang lebih terencana.
  • Bisnis transportasi udara dan pariwisata di daerah rawan karhutla (Sumatra, Kalimantan) akan terganggu oleh kabut asap, menyebabkan pembatalan penerbangan dan penurunan okupansi hotel. Maskapai harus menyiapkan biaya tambahan untuk pengalihan rute atau kompensasi penumpang.
  • Pemerintah pusat dan daerah harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk penanggulangan karhutla, memperbesar tekanan pada APBN yang sudah defisit. Dana yang seharusnya untuk infrastruktur atau pendidikan bisa teralihkan ke pemadaman dan pemulihan lahan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terhadap usulan BRIN—apakah akan menyusun aturan turunan untuk pembakaran terkendali, atau justru memperkuat penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal.
  • Risiko yang perlu dicermati: intensitas musim kemarau dan indikasi El Nino dari BMKG—semakin kering cuaca, semakin tinggi risiko kebakaran meluas dan tekanan pada sektor perkebunan serta logistik.
  • Sinyal penting: update data luas karhutla mingguan dari KLHK—jika tren penambahan luas tetap tinggi di atas 10 ribu hektare per bulan, tekanan publik dan ekonomi akan meningkat, memaksa pemerintah mengambil langkah lebih drastis.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.