20 JUL 2026
Jingye Tuntut Kompensasi atas Nasionalisasi British Steel — Ketegangan China-UK Kian Tinggi

Foto: BBC Business — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / Jingye Tuntut Kompensasi atas Nasionalisasi British Steel — Ketegangan China-UK Kian Tinggi
Korporasi

Jingye Tuntut Kompensasi atas Nasionalisasi British Steel — Ketegangan China-UK Kian Tinggi

Tim Redaksi Feedberry ·19 Juli 2026 pukul 10.59 · Sinyal tinggi · Sumber: BBC Business ↗
7 Skor

Nasionalisasi pabrik China oleh pemerintah Inggris menciptakan preseden berbahaya bagi investasi China di negara lain, berpotensi memengaruhi arus modal ke Indonesia dan memperkuat tren proteksionisme global.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Mantan pemilik British Steel, Jingye Group asal China, menyatakan akan menempuh jalur hukum hingga akhir untuk menuntut kompensasi penuh dari pemerintah Inggris atas nasionalisasi pabrik baja di Scunthorpe.

Langkah ini diambil setelah Inggris mengambil alih kendali penuh pabrik pada Kamis lalu, setelah setahun berada di bawah administrasi pemerintah. Jingye membeli pabrik tersebut pada 2020, tetapi pada Maret 2025 perusahaan meluncurkan konsultasi penutupan karena merugi £700.000 per hari—akibat tingginya biaya listrik dan membanjirnya baja murah China. Pemerintah Inggris mengambil alih operasional pada April 2025, namun status kepemilikan Jingye tetap menghambat kebijakan pemerintah hingga pekan ini. Dengan nasionalisasi penuh, pemerintah kini memiliki wewenang penuh atas masa depan pabrik yang mempekerjakan 2.700 orang dan menopang banyak industri di North Lincolnshire. Kementerian Perdagangan China bereaksi keras, menyatakan 'sangat tidak puas' dan menuding langkah Inggris 'secara serius melanggar hak dan kepentingan' Jingye, serta 'secara serius merusak kepercayaan perusahaan China yang berinvestasi di Inggris'.

Beijing berjanji mendukung perusahaan China melindungi hak mereka, meski tanpa merinci bentuk dukungan. Sementara itu, pemerintah Inggris berdalih negosiasi komersial dengan Jingye gagal mencapai kesepakatan yang 'memberikan nilai bagi pembayar pajak', dan akan merilis rancangan peraturan kompensasi pada musim gugur yang akan menetapkan proses ganti rugi melalui penilai independen. Dari sisi biaya, Badan Audit Nasional Inggris melaporkan pemerintah mengeluarkan sekitar £1,3 juta per hari untuk menjaga pabrik tetap beroperasi. Menteri Bisnis Peter Kyle menegaskan penutupan bukan opsi dan pemerintah akan terus menanggung biaya operasional 'dalam waktu dekat'. Dampak dari nasionalisasi ini tidak hanya terbatas pada hubungan bilateral Inggris-China.

Langkah ini memberikan sinyal kuat bahwa negara Barat bersedia menasionalisasi aset China jika dianggap penting untuk kepentingan nasional—sebuah preseden yang bisa menggentarkan investor China di negara lain, termasuk Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Nasionalisasi British Steel oleh Inggris menciptakan trauma baru bagi investor China di luar negeri, terutama di sektor sumber daya alam dan manufaktur. Indonesia yang menjadi salah satu tujuan utama investasi China—khususnya di nikel, batu bara, dan infrastruktur—bisa merasakan dampak lanjutan jika Beijing mulai lebih berhati-hati dalam menempatkan modalnya di negara-negara dengan risiko politik tinggi. Kasus ini juga menunjukkan bahwa tren proteksionisme global akan semakin menguat, dan Indonesia perlu menyiapkan kebijakan yang memberikan kepastian hukum agar tidak kehilangan arus investasi asing.

Dampak ke Bisnis

  • Investasi China di Indonesia yang selama ini menjadi andalan di sektor hilirisasi nikel dan infrastruktur bisa terhambat jika Beijing mulai menahan diri akibat risiko nasionalisasi di negara lain. Perusahaan China kemungkinan akan menuntut jaminan hukum yang lebih ketat sebelum menanamkan modal besar.
  • Pasar baja global menghadapi fragmentasi lebih lanjut. Kegagalan Jingye di Inggris membuktikan bahwa strategi menghindari tarif melalui akuisisi pabrik di negara ketiga tidak lagi efektif. Baja murah China kemungkinan akan dialihkan ke Asia Tenggara, menekan produsen baja lokal seperti Krakatau Steel dan jaringan distribusinya.
  • Ketegangan China-Inggris yang meningkat bisa menular ke hubungan dagang Indonesia-UK. Indonesia sebagai mitra dagang kedua negara perlu mencermati apakah akan terjadi pergeseran aliansi atau tekanan diplomatik yang memengaruhi akses pasar atau skema preferensi tarif.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: rilis rancangan peraturan kompensasi oleh pemerintah Inggris pada musim gugur 2026—besaran ganti rugi akan menjadi indikator seberapa serius Inggris mempertahankan hubungan bisnis dengan China.
  • Risiko yang perlu dicermati: kemungkinan China membalas lewat hambatan non-tarif terhadap produk Inggris atau investasi Inggris di China—bila eskalasi terjadi, sentimen risiko global akan memburuk dan berimbas ke arus modal ke Indonesia.
  • Sinyal penting: sikap Kementerian Investasi Indonesia terhadap investor China pasca kasus ini—jika mulai memperketat persyaratan atau justru memberikan insentif untuk mempertahankan arus masuk modal, itu akan menjadi indikator arah kebijakan.

Konteks Indonesia

Kasus ini relevan bagi Indonesia karena China adalah investor asing terbesar kedua di Indonesia setelah Singapura, dengan total investasi mencapai miliaran dolar di sektor nikel, batu bara, dan infrastruktur. Nasionalisasi aset China oleh pemerintah Inggris menciptakan preseden hukum yang dapat membuat investor China lebih berhati-hati dalam menempatkan modal di negara dengan risiko politik tinggi. Indonesia harus memastikan kepastian hukum dan perlindungan investasi yang kuat agar tidak kehilangan daya tarik di mata investor China. Di sisi lain, jika China mulai mengalihkan ekspor baja dari Inggris ke Asia Tenggara, produsen baja dalam negeri seperti PT Krakatau Steel dan industri turunannya akan menghadapi tekanan persaingan yang lebih ketat.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.