28 MEI 2026
Jefferies Proyeksi IPO Kripto Jadi Pasar $1 Triliun dalam 5 Tahun

Foto: CoinDesk — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Jefferies Proyeksi IPO Kripto Jadi Pasar $1 Triliun dalam 5 Tahun
Forex & Crypto

Jefferies Proyeksi IPO Kripto Jadi Pasar $1 Triliun dalam 5 Tahun

Tim Redaksi Feedberry ·27 Mei 2026 pukul 15.35 · Sinyal menengah · Sumber: CoinDesk ↗
5.7 Skor

Proyeksi jangka panjang dari investment bank global ini bisa mengubah lanskap aset digital secara struktural, tapi dampak langsung ke Indonesia masih tertahan oleh regulasi dan volatilitas rupiah.

Urgensi
4
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
6

Ringkasan Eksekutif

Jefferies, bank investasi Wall Street, memproyeksikan gelombang IPO perusahaan kripto dan blockchain dalam dua tahun ke depan dan memperkirakan sektor ini dapat menjadi pasar publik senilai $1 triliun dalam lima tahun. Proyeksi ini muncul setelah Jefferies menggelar konferensi investor aset digital pertama di New York, yang mempertemukan eksekutif dari 35 perusahaan digital asset dengan sekitar 150 investor institusional. Pesan kunci dari konferensi tersebut adalah pergeseran fokus investor dari spekulasi harga Bitcoin ke integrasi infrastruktur blockchain ke dalam sistem keuangan inti. Tokenisasi — representasi aset keuangan di jaringan blockchain — disebut sebagai salah satu pendorong utama, bersama dengan stablecoin dan sistem pembayaran terprogram yang menawarkan penyelesaian lebih cepat, efisiensi modal lebih tinggi, dan biaya lebih rendah.

Laporan ini juga mencatat bahwa pasar IPO kripto melambat tahun ini setelah momentum kuat di 2025, namun sejumlah perusahaan seperti Securitize dan Payward (induk Kraken) sedang memfinalisasi rencana IPO yang diperkirakan akan menghidupkan kembali gelombang penawaran saham perdana. Dimensi yang tidak jelas dari headline ini adalah narasi bahwa institusi keuangan tradisional tidak lagi melihat blockchain sebagai eksperimen, melainkan sebagai lapisan infrastruktur yang setara dengan sistem kliring atau penyelesaian konvensional. Jefferies menyebut klien mereka — bank, manajer aset, perusahaan fintech, dan jaringan pembayaran — semakin yakin bahwa teknologi blockchain telah melampaui tahap uji coba.

Dengan kata lain, pasar yang tadinya digerakkan oleh psikologi ritel dan siklus halving kini mulai ditopang oleh permintaan institusional yang fundamental: efisiensi biaya, kecepatan transaksi, dan transparansi lewat buku besar terdistribusi. Ini adalah lompatan dari aset spekulatif menjadi alat operasional, yang potensial mengubah valuasi seluruh ekosistem. Untuk Indonesia, dampaknya bersifat bertahap namun nyata. Pasar kripto Indonesia — yang hingga kini didominasi investor ritel dan diatur oleh Bappebti serta OJK — bisa terimbas melalui dua jalur. Pertama, sentimen risk-on global: jika IPO kripto besar sukses dan kapitalisasi pasar melonjak, apetite risiko investor global cenderung meningkat, yang secara tidak langsung mendorong aliran modal ke emerging market termasuk Indonesia.

Kedua, adopsi tokenisasi oleh institusi keuangan dalam negeri — seperti bank dan manajer investasi — bisa terakselerasi jika regulasi mulai mengakomodasi produk aset digital yang terdaftar dan diawasi. Namun, hambatan tetap ada: volatilitas rupiah yang tinggi (USD/IDR saat ini di 17.785), suku bunga AS yang masih 3,64%, dan yield US 10Y di 4,56% membuat lingkungan likuiditas global belum sepenuhnya mendukung pelarian modal ke aset berisiko tinggi seperti kripto.

Mengapa Ini Penting

Laporan Jefferies menandakan bahwa aset digital tidak lagi dipandang sebagai aset spekulatif pinggiran, melainkan sebagai infrastruktur keuangan masa depan yang diakui oleh pemodal institusional Wall Street. Jika proyeksi $1 triliun terwujud, hal itu akan menciptakan kelas aset baru yang bersaing langsung dengan saham dan obligasi tradisional — termasuk di Indonesia, di mana bursa kripto lokal dan produk tokenisasi bisa menjadi alternatif investasi yang semakin diminati oleh investor ritel dan institusi. Dampak strukturalnya adalah perubahan cara pandang regulator, perbankan, dan manajer aset terhadap blockchain: dari ancaman menjadi peluang integrasi.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten teknologi dan fintech di BEI — seperti emiten yang terafiliasi dengan blockchain atau penyedia infrastruktur digital — bisa mendapat sentimen positif dari gelombang IPO global, meski tanpa korelasi langsung. Valuasi sektor teknologi IHSG yang saat ini tertekan bisa terangkat jika investor global kembali risk-on ke aset digital.
  • Perusahaan fintech dan exchange kripto Indonesia (misalnya yang terdaftar di Bappebti) berpotensi menikmati peningkatan volume transaksi jika sentimen positif global mendorong investor ritel lokal kembali aktif. Namun, persaingan dengan platform global yang melakukan IPO dan memiliki likuiditas lebih besar bisa menggerus pangsa pasar mereka.
  • Bank dan manajer investasi domestik yang mulai menjajaki tokenisasi aset riil (seperti properti, sukuk, atau piutang) bisa mempercepat road map produk mereka jika regulasi OJK mengikuti tren global. Sebaliknya, jika regulator bersikap wait-and-see, Indonesia berisiko kehilangan momentum pertama dalam pengembangan pasar aset digital terkelola.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: finalisasi IPO Securitize dan Payward (Kraken) dalam 3-6 bulan ke depan — keberhasilan listing dengan valuasi di atas ekspektasi akan menjadi barometer minat institusional yang kuat.
  • Risiko yang perlu dicermati: sikap regulator AS (SEC/CFTC) dan EU (MiCA) terhadap produk tokenisasi dan stablecoin — regulasi ketak bisa menghambat pertumbuhan pasar yang diproyeksikan Jefferies.
  • Sinyal penting: pernyataan OJK dan Bappebti terkait kerangka regulasi untuk tokenisasi aset keuangan dan bursa kripto di Indonesia — jika ada pelonggaran, ini bisa memicu akselerasi adopsi domestik.

Konteks Indonesia

Pasar kripto Indonesia yang didominasi investor ritel dan diatur oleh Bappebti serta OJK berpotensi terpengaruh oleh tren global ini melalui dua jalur utama. Pertama, sentimen risk-on global: keberhasilan IPO kripto besar dapat meningkatkan apetite risiko investor global dan secara tidak langsung mendorong aliran modal ke emerging market termasuk Indonesia. Kedua, adopsi tokenisasi oleh institusi keuangan dalam negeri — seperti bank dan manajer investasi — bisa terakselerasi jika regulasi mulai mengakomodasi produk aset digital yang terdaftar dan diawasi. Namun, volatilitas rupiah yang tinggi (USD/IDR di 17.785) dan suku bunga AS yang masih elevated (Fed rate 3,64%, US 10Y 4,56%) membuat lingkungan likuiditas global belum sepenuhnya mendukung lonjakan aset berisiko tinggi. Regulator Indonesia cenderung wait-and-see, sehingga dampak langsung ke ekonomi riil masih terbatas dalam jangka pendek.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.