14 JUN 2026
Jangan FOMO Adopsi AI — Data Terpisah & SDM Jadi Tantangan Utama

Foto: Detik Finance — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / Jangan FOMO Adopsi AI — Data Terpisah & SDM Jadi Tantangan Utama
Teknologi

Jangan FOMO Adopsi AI — Data Terpisah & SDM Jadi Tantangan Utama

Tim Redaksi Feedberry ·14 Juni 2026 pukul 01.35 · Sinyal menengah · Sumber: Detik Finance ↗
7.7 Skor

Peringatan dari BPJS Kesehatan dan BNI soal FOMO AI relevan bagi seluruh sektor bisnis Indonesia, dengan tantangan data terpisah dan kesiapan SDM sebagai bottleneck utama.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Dalam AI Leadership Exchange 2026 yang digelar IBM Indonesia dan CIO Insight Indonesia, para pemimpin teknologi menekankan bahwa perusahaan tidak boleh tergesa-gesa mengadopsi kecerdasan buatan (AI) hanya karena takut ketinggalan tren. General Manager IBM Asia Pacific Hans AT Dekkers memaparkan perbedaan fundamental antara perusahaan yang sekadar menggunakan AI sebagai alat bantu dan perusahaan yang menjadikan AI sebagai inti operasional bisnis. Kelompok pertama memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, sementara kelompok kedua membangun ulang proses bisnis, sistem pengambilan keputusan, dan model operasional dengan AI sebagai fondasi utama. Menurut Hans, dunia bergerak menuju era Agentic AI — agen digital yang mampu menjalankan tugas, mengambil keputusan, dan berkolaborasi aktif dengan manusia, berbeda dengan Generative AI yang hanya menghasilkan konten atau informasi.

Chief Technology Officer IBM Asia Pacific Jerry Zhu menambahkan bahwa pemenang di masa depan adalah perusahaan yang mengutamakan AI (AI-First), bukan sekadar perusahaan yang diaktifkan oleh AI (AI-enabled). Namun, para pelaku industri mengingatkan bahwa keberhasilan implementasi AI tidak hanya bergantung pada teknologi. Tantangan terbesar justru terletak pada kualitas dan integrasi data. Hans dan Jerry menilai banyak proyek AI gagal memberikan hasil maksimal karena data perusahaan masih tersebar di berbagai sistem yang tidak saling terhubung. Akibatnya, AI kesulitan memperoleh konteks yang diperlukan untuk menghasilkan keputusan yang akurat dan cepat. Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan Setiaji mengingatkan perusahaan agar tidak mengadopsi AI hanya karena FOMO, melainkan harus memiliki tujuan bisnis yang jelas agar investasi menghasilkan nilai tambah dan pengembalian yang terukur.

Sementara itu, Information Technology Director BNI Toto Prasetio menekankan bahwa transformasi AI tidak hanya berkaitan dengan teknologi. Perubahan budaya kerja dan kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor krusial dalam menentukan keberhasilan implementasi. Tanpa kesiapan SDM, teknologi secanggih apapun tidak akan optimal. Managing Director Strategic Technology Initiatives Danantara Ricardo Irwan Rei turut menyoroti pentingnya infrastruktur data dan keamanan siber dalam setiap langkah adopsi AI. Peringatan ini sangat relevan bagi Indonesia di tengah maraknya investasi AI di berbagai sektor, mulai dari perbankan, manufaktur, hingga layanan publik. Jika perusahaan terburu-buru tanpa kesiapan data dan SDM, maka risiko kegagalan proyek AI justru semakin besar.

Mengapa Ini Penting

Artikel ini tidak hanya membahas tren teknologi, tetapi menyentuh persoalan struktural di banyak perusahaan Indonesia: data yang tersebar, budaya kerja yang belum siap, dan investasi tanpa tujuan bisnis yang jelas. Jika perusahaan terus mengadopsi AI secara FOMO, risikonya bukan sekadar pemborosan dana, tetapi juga kegagalan transformasi digital yang justru bisa memperlemah daya saing di tengah tekanan efisiensi dan regulasi yang makin ketat — termasuk ancaman presiden menggunakan AI untuk mengawasi kepatuhan hukum pengusaha.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan yang terburu-buru mengadopsi AI tanpa integrasi data dan kesiapan SDM berpotensi mengalami pembengkakan biaya investasi TI tanpa peningkatan produktivitas yang signifikan, sehingga margin laba tergerus dalam jangka pendek.
  • Penyedia solusi AI dan konsultan transformasi digital diproyeksikan mendapat permintaan tinggi untuk membantu perusahaan membenahi data dan budaya kerja, bukan sekadar menjual software — segmen konsultasi integrasi data dan change management akan menjadi pasar baru.
  • Sektor perbankan dan keuangan, yang menjadi garda depan adopsi AI di Indonesia, akan menjadi barometer keberhasilan. Jika proyek AI di BUMN seperti BNI dan BPJS Kesehatan gagal mencapai ROI yang terukur, sentimen terhadap investasi AI di sektor lain ikut tertekan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: roadmap transformasi AI di BUMN dan bank besar — apakah mereka mengumumkan investasi data lake atau platform integrasi data dalam 1-2 kuartal mendatang.
  • Risiko yang perlu dicermati: munculnya regulasi AI dari pemerintah yang mensyaratkan audit data dan tata kelola AI, yang bisa memperlambat adopsi dan meningkatkan biaya kepatuhan bagi perusahaan yang sudah terlanjur berinvestasi.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari OJK atau Kominfo mengenai standar minimal adopsi AI di sektor jasa keuangan — jika ada kewajiban uji coba terbatas dan sertifikasi, maka perusahaan harus menyesuaikan strategi investasi mereka.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.