28 JUL 2026
IBC Garap Baterai Sodium-ion & Solid State — Nikel Tetap Jadi Andalan

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / IBC Garap Baterai Sodium-ion & Solid State — Nikel Tetap Jadi Andalan
Korporasi

IBC Garap Baterai Sodium-ion & Solid State — Nikel Tetap Jadi Andalan

Tim Redaksi Feedberry ·28 Juli 2026 pukul 07.57 · Sinyal menengah · Sumber: Katadata ↗
7 Skor

Langkah IBC mengejar teknologi baterai generasi baru relevan bagi masa depan hilirisasi nikel dan daya saing investasi EV Indonesia — dampak jangka panjang mulai terlihat dalam 1–2 tahun.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
ekspansi
Timeline
Pemetaan mitra sudah dilakukan; pabrik lithium-ion di Karawang akan diresmikan Agustus 2026; pengembangan baterai baru masih dalam tahap awal.
Alasan Strategis
Mengejar ketertinggalan teknologi baterai dengan mengembangkan baterai sodium-ion dan solid state, serta mengamankan kepemilikan IP bersama untuk memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok baterai global dan memanfaatkan cadangan nikel nasional.
Pihak Terlibat
PT Indonesia Battery Corporation (IBC)AntamInalumPertaminaPLNDanantaracalon mitra asing (belum disebut)

Ringkasan Eksekutif

PT Indonesia Battery Corporation (IBC) — konsorsium empat BUMN (Antam, Inalum, Pertamina, PLN) di bawah Danantara — membuka peluang pengembangan baterai sodium-ion dan solid state di Indonesia.

Langkah ini melengkapi produksi baterai lithium-ion jenis NMC dan LFP yang sudah berjalan. Direktur Utama IBC, Aditya F Arif, menyatakan pihaknya telah memetakan calon mitra asing, meskipun eksekusi masih menunggu persetujuan pemegang saham dan Danantara. Fokusnya adalah kepemilikan bersama atas kekayaan intelektual (join IP), bukan sekadar lisensi. Baterai sodium-ion menawarkan keunggulan biaya produksi lebih rendah dan rantai pasok berkelanjutan karena bahan bakunya melimpah, serta lebih tahan pada suhu rendah. Sementara itu, baterai solid state menggunakan elektrolit padat (keramik, polimer, sulfida) yang memberikan kepadatan energi lebih baik dan keamanan lebih tinggi. Kedua teknologi ini masih dalam tahap pengembangan global, sehingga pilihan material masih sangat beragam.

Aditya secara spesifik menyebut nikel sebagai salah satu kandidat material terbaik — ini menjadi kabar positif bagi industri nikel nasional, karena membuka peluang permintaan baru di luar baterai lithium-ion. Rencana ini juga menjawab kekhawatiran bahwa Indonesia tertinggal dalam teknologi baterai NMC yang sudah matang. Dengan ikut mengembangkan teknologi generasi baru, Indonesia berpeluang memiliki posisi tawar lebih kuat di rantai pasok baterai global. IBC saat ini sudah membentuk perusahaan patungan dengan CATL (China) dan membangun pabrik baterai lithium-ion di Karawang, Jawa Barat, yang akan diresmikan bulan depan bertepatan dengan HUT RI. Eksistensi pabrik tersebut menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi berikutnya. Bagi investor dan pelaku bisnis, langkah IBC ini memiliki implikasi jangka panjang.

Jika eksekusi berhasil, Indonesia bisa menjadi basis produksi baterai multi-teknologi, tidak hanya lithium-ion. Ini akan meningkatkan daya tarik investasi di sektor hilirisasi mineral, khususnya nikel. Namun, tantangan teknis, biaya riset, dan persaingan global masih besar.

Mengapa Ini Penting

Pengembangan baterai generasi baru oleh IBC secara langsung memengaruhi prospek hilirisasi nikel Indonesia. Jika baterai solid state dan sodium-ion berhasil dikomersialisasi dengan nikel sebagai material utama, permintaan nikel domestik bisa tetap terjaga meskipun tren global mulai beralih dari baterai NMC ke LFP. Sebaliknya, jika teknologi baru justru mengurangi intensitas nikel, maka investasi smelter yang sudah mengucur besar berisiko mengalami overkapasitas. Inilah dimensi strategis yang sering luput: bukan hanya soal mengejar teknologi, tapi juga melindungi nilai investasi yang sudah ada di hulu.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten nikel seperti Antam (ANTM) dan pemegang saham IBC (Inalum, Pertamina, PLN) akan menjadi pihak yang paling diuntungkan jika nikel terbukti menjadi material utama untuk baterai solid state dan sodium-ion. Prospek permintaan baru ini dapat mendukung harga nikel di tengah tekanan oversupply global.
  • Perusahaan patungan IBC-CATL (CATIB) dan pabrik lithium-ion di Karawang akan menjadi batu loncatan untuk transfer teknologi. Jika IBC berhasil mengamankan join IP, posisi tawar Indonesia dalam rantai pasok baterai global meningkat, menarik lebih banyak investasi asing di sektor hilirisasi.
  • Startup dan perusahaan teknologi dalam negeri yang bergerak di bidang energi terbarukan dan penyimpanan energi (baterai untuk solar PV) akan mendapatkan opsi pasokan yang lebih beragam dan berpotensi lebih murah jika sodium-ion berhasil diproduksi massal di Indonesia.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pengumuman mitra asing IBC untuk pengembangan baterai sodium-ion dan solid state — apakah akan ada nama perusahaan global seperti CATL, BYD, atau produsen baterai Korea/Jepang dalam 3–6 bulan ke depan.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika teknologi baterai solid state atau sodium-ion ternyata tidak membutuhkan nikel dalam jumlah signifikan, investasi smelter nikel yang sudah ada bisa menghadapi risiko kelebihan pasokan dan tekanan harga jangka panjang.
  • Sinyal penting: peresmian pabrik baterai IBC-CATL di Karawang pada Agustus 2026 — acara ini akan menjadi indikator keseriusan pemerintah dan dukungan Danantara terhadap visi hilirisasi baterai nasional.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.