8 JUN 2026
Harga Telur Anjlok ke Rp21.000, Pemerintah Genjot Serapan MBG — Intervensi Pangan di Tengah Tekanan Fiskal

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Harga Telur Anjlok ke Rp21.000, Pemerintah Genjot Serapan MBG — Intervensi Pangan di Tengah Tekanan Fiskal
Kebijakan

Harga Telur Anjlok ke Rp21.000, Pemerintah Genjot Serapan MBG — Intervensi Pangan di Tengah Tekanan Fiskal

Tim Redaksi Feedberry ·8 Juni 2026 pukul 01.11 · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
6.7 Skor

Anjloknya harga telur mendorong intervensi pemerintah melalui program MBG, namun berpotensi menambah beban APBN di saat rupiah tertekan dan harga minyak tinggi.

Urgensi
7
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Harga telur ayam di tingkat konsumen anjlok hingga Rp21.000 per kilogram, sementara di tingkat peternak mencapai Rp20.600 — level yang jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) Rp26.500. Merespons tekanan ini, Kementerian Pertanian mengusulkan peningkatan penggunaan telur dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan telah menyurati Badan Gizi Nasional pada 8 Mei 2026. BGN menindaklanjuti dengan Surat Edaran yang mendorong Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah sentra produksi, seperti Jawa Timur, untuk memprioritaskan pembelian telur dari peternak lokal sesuai HAP. Pemerintah juga berkoordinasi dalam Rapat Koordinasi Terbatas di Kementerian Perdagangan untuk memperkuat penyerapan telur di daerah yang mengalami tekanan harga. Anjloknya harga telur dipicu oleh kombinasi peningkatan pasokan, perlambatan serapan pasar, dan distribusi yang belum optimal di sentra produksi.

Di Blitar, Jawa Timur, ratusan peternak rakyat menggelar aksi sebagai bentuk protes atas harga yang tak kunjung membaik. Langkah intervensi melalui MBG menjadi strategi cepat untuk menyerap kelebihan pasokan sekaligus menjaga pendapatan peternak. Namun, kebijakan ini memiliki implikasi fiskal: SPPG diwajibkan membeli telur sesuai HAP yang lebih tinggi dari harga pasar, sehingga pemerintah harus menanggung selisih biaya — baik melalui subsidi langsung maupun tambahan anggaran MBG.

Di sisi lain, stabilitas harga telur juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Data pasar per 5 Juni menunjukkan rupiah berada di level Rp18.035 per dolar AS dan harga minyak Brent di $95,89. Pelemahan rupiah menaikkan biaya impor pakan ternak (jagung, bungkil kedelai) yang merupakan komponen utama biaya produksi peternak. Namun di saat yang sama, permintaan domestik yang melambat — tercermin dari IHSG yang berada di level 5.399 — justru membuat harga jual telur tertekan. Kombinasi biaya produksi tinggi dan harga jual rendah menjepit margin peternak. Ke depan, efektivitas intervensi MBG akan sangat tergantung pada konsistensi pelaksanaan di lapangan dan ketersediaan anggaran. Jika serapan berjalan optimal, harga telur bisa kembali mendekati HAP dalam beberapa pekan.

Namun jika tekanan fiskal membatasi kemampuan pemerintah untuk menambah alokasi MBG, intervensi ini hanya akan menjadi solusi sementara — dan peternak rakyat tetap menghadapi risiko kerugian berkepanjangan. Sinyal peringatan bagi pemerintah adalah bahwa kelebihan pasokan ini bisa menjadi indikasi pelemahan daya beli masyarakat, bukan semata masalah distribusi.

Mengapa Ini Penting

Intervensi harga pangan melalui program MBG menunjukkan pemerintah masih memiliki alat untuk menstabilkan pasar, namun di tengah tekanan fiskal dan pelemahan rupiah, setiap tambahan belanja subsidi harus diimbangi dengan pengorbanan di pos lain. Anjloknya harga telur juga menjadi sinyal awal bahwa permintaan konsumen mungkin melambat — bukan hanya karena kelebihan pasokan tetapi juga karena daya beli yang menipis. Jika intervensi ini gagal menaikkan harga ke HAP, peternak rakyat bisa mengalami kerugian struktural yang memicu pengurangan populasi ayam petelur, dan dalam jangka menengah berbalik memicu lonjakan harga.

Dampak ke Bisnis

  • Peternak ayam petelur skala kecil dan menengah: harga jual di bawah HAP memangkas margin hingga titik impas atau rugi. Program MBG membantu serapan namun tidak menjamin seluruh produksi terserap, terutama di luar Jawa Timur. Peternak di daerah non-sentra mungkin masih mengalami tekanan.
  • Pemerintah (APBN dan APBD): kewajiban membeli telur sesuai HAP sebesar Rp26.500 sementara harga pasar Rp21.000 berarti pemerintah harus menanggung selisih Rp5.500 per kg. Jika serapan meningkat signifikan, tambahan belanja ini bisa membebani anggaran MBG yang sudah dialokasikan, apalagi di saat rupiah lemah dan harga minyak tinggi yang menaikkan biaya distribusi.
  • Konsumen rumah tangga: harga telur rendah memberi kelegaan sementara pada belanja pangan, namun jika produksi terus berlebih tanpa perbaikan permintaan, peternak bisa mengurangi populasi ayam petelur, yang berpotensi menyebabkan lonjakan harga dalam 3-6 bulan ke depan — pola siklus yang pernah terjadi sebelumnya.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi serapan telur oleh SPPG di sentra produksi seperti Blitar — apakah harga di peternak mulai naik mendekati HAP dalam 2-3 pekan ke depan? Jika tidak, intervensi perlu diperkuat.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika harga telur tetap rendah dan peternak mengurangi populasi ayam, pasokan bisa menyusut drastis dalam 2-3 bulan, memicu lonjakan harga balik yang justru lebih tajam. Siklus ini pernah terjadi pada 2023 dan 2024.
  • Sinyal penting: data inflasi pangan bulan Juni dari BPS — jika harga telur terus turun sementara komoditas lain stabil, inflasi pangan bisa melambat, yang merupakan sinyal pelemahan permintaan konsumen. Hal ini perlu diwaspadai oleh emiten ritel dan FMCG.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.