27 JUN 2026
Harga Ayam Hidup Anjlok ke Rp13.000/Kg – Kementan Terbitkan Himbauan Serap Pasokan

Foto: Detik Finance — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / UMKM / Harga Ayam Hidup Anjlok ke Rp13.000/Kg – Kementan Terbitkan Himbauan Serap Pasokan
UMKM

Harga Ayam Hidup Anjlok ke Rp13.000/Kg – Kementan Terbitkan Himbauan Serap Pasokan

Tim Redaksi Feedberry ·27 Juni 2026 pukul 13.55 · Sinyal menengah · Sumber: Detik Finance ↗
7.7 Skor

Harga ayam di bawah biaya produksi mengancam kelangsungan usaha peternak dan berpotensi memicu kontraksi pasokan di masa depan, sementara kebijakan pemerintah baru sebatas himbauan tanpa daya paksa.

Urgensi
8
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Harga ayam hidup di tingkat peternak anjlok ke Rp13.000 per kilogram, berada di bawah biaya pokok produksi (HPP) sehingga peternak merugi. Kementerian Pertanian melalui Surat Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor B-200 dan B-203 tertanggal 9 Juni 2026 menghimbau pelaku usaha untuk menyerap livebird dan mengendalikan produksi DOC (day old chicken) final stock broiler.

Langkah ini diambil karena pasokan ayam lebih tinggi dari kemampuan serap pasar, menciptakan tekanan harga yang berkepanjangan. Yang tidak terlihat dari headline adalah bahwa pemerintah tidak memiliki instrumen intervensi harga langsung seperti harga acuan pembelian atau kuota impor pakan. Himbauan bersifat sukarela dan tidak mengikat, sehingga efektivitasnya sangat tergantung pada komitmen pedagang dan integrator. Dalam siklus komoditas ayam broiler yang pendek (35–40 hari), kelebihan pasokan bisa terjadi dalam hitungan minggu dan sulit dikoreksi cepat tanpa pemusnahan DOC atau pemotongan produksi yang justru merugikan peternak di hulu. Dampaknya langsung dirasakan peternak mandiri yang tidak terikat kontrak dengan integrator besar. Mereka tidak memiliki jaring pengaman harga atau offtaker tetap, sehingga kerugian bisa membuat mereka berhenti beternak.

Di sisi lain, konsumen diuntungkan sementara dengan harga daging ayam yang lebih murah di pasar ritel. Namun, jika peternak mengurangi produksi secara masif, dalam 2–3 bulan ke depan pasokan bisa menyusut dan harga akan melonjak tajam — siklus yang berulang setiap tahun. Ke depan, efektivitas kebijakan ini sangat terbatas tanpa langkah struktural seperti pengaturan kuota DOC nasional, insentif bagi integrator yang menyerap livebird di atas HPP, atau pembelian oleh BUMN pangan untuk buffer stock. Pelaku bisnis di sektor perunggasan perlu mencermati apakah pemerintah akan beralih dari himbauan ke regulasi yang lebih mengikat, atau membiarkan mekanisme pasar berjalan dengan risiko gagal panen peternak skala kecil.

Mengapa Ini Penting

Sektor perunggasan adalah barometer pangan hewani Indonesia dan melibatkan jutaan peternak skala mikro. Harga yang terus tertekan di bawah HPP tidak hanya mengancam pendapatan peternak, tetapi juga dapat memicu kontraksi produksi yang berujung pada lonjakan harga di masa depan — mengulang pola siklus yang merugikan konsumen dan peternak sekaligus.

Dampak ke Bisnis

  • Peternak mandiri (non-integrasi) menanggung kerugian langsung karena harga jual di bawah biaya produksi. Jika berlangsung lama, banyak yang akan berhenti beternak, mengurangi pasokan ayam nasional dalam 2–3 bulan ke depan.
  • Industri pakan ternak akan tertekan karena permintaan dari peternak menurun. Harga jagung dan bungkil kedelai yang impor juga terbebani pelemahan rupiah, memperburuk margin pabrik pakan.
  • Konsumen diuntungkan jangka pendek dengan harga daging ayam murah, tetapi jika pasokan menyusut maka harga bisa melonjak drastis — menambah tekanan inflasi pangan yang sudah rapuh akibat daya beli yang melambat.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: efektivitas himbauan penyerapan livebird dalam 1–2 minggu ke depan — apakah harga mulai merangkak naik mendekati HPP atau tetap tertekan.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika himbauan gagal, peternak mungkin akan memusnahkan DOC atau mengurangi produksi drastis, menyebabkan shortage pasokan dan lonjakan harga dalam 2–3 bulan.
  • Sinyal penting: apakah pemerintah akan menerbitkan regulasi lebih ketat seperti pengaturan kuota produksi DOC, insentif fiskal bagi integrator, atau pembelian livebird oleh BUMN pangan sebagai buffer stok.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.