Foto: Detik Finance — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Harga ayam jauh di bawah HAP (Rp15.500-16.000 vs Rp25.000/kg) menyebabkan kerugian besar peternak rakyat, mengancam pasokan protein hewani nasional dan inflasi pangan.
Ringkasan Eksekutif
Harga ayam broiler di tingkat peternak terus terpuruk. Hingga pertengahan Juni 2026, harga masih berkisar Rp15.500-Rp16.000 per kilogram (kg), jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan Badan Pangan Nasional sebesar Rp25.000/kg. Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) melaporkan kerugian mencapai ratusan juta rupiah bagi peternak dengan populasi besar, dan puluhan juta bagi yang lebih kecil. Sebab utamanya adalah melonjaknya biaya produksi. Harga pakan ternak sepanjang 2026 naik ke Rp8.800-Rp9.400/kg, sementara harga day old chick (DOC) di final stock berada di Rp5.000-Rp6.000 per ekor. Akibatnya, Harga Pokok Produksi (HPP) broiler diperkirakan mencapai Rp21.000-Rp22.000/kg live bird. Artinya, setiap kilogram ayam yang terjual, peternak menanggung rugi Rp5.000-Rp7.000. Dalam satu ekor ayam berbobot 2 kg, kerugian mencapai Rp10.000-Rp14.000 per ekor.
Situasi ini menjadi alarm bagi seluruh rantai pasok protein hewani nasional. Jika peternak rakyat terus merugi, mereka akan mengurangi populasi atau berhenti berproduksi sama sekali. Akibatnya, pasokan ayam ke pasar dalam beberapa bulan ke depan bisa menyusut, berpotensi mendorong harga konsumen melonjak tajam. Hal ini akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat, terutama rumah tangga berpendapatan rendah yang mengandalkan ayam sebagai sumber protein murah. Di saat yang sama, pemerintah tengah menggalakkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan protein hewani dalam jumlah besar dan harga stabil. Harga ayam yang anjlok seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk menyerap kelebihan pasokan dan menstabilkan harga.
Namun, celah antara HPP dan harga pasar yang sangat lebar menunjukkan bahwa mekanisme pasar tidak berjalan efisien, dan intervensi struktural dari hulu ke hilir sangat mendesak. Peternak telah menyampaikan tujuh tuntutan konkret kepada pemerintah. Poin utamanya meliputi perluasan akses produk unggas di ritel modern, pembentukan program penyerapan ayam dan telur berkelanjutan melalui Bulog atau BUMN Pangan, integrasi produk unggas ke dalam program MBG dan bansos, serta penguatan distribusi antarwilayah dan antarpulau. Tanpa respons cepat, krisis ini bisa meluas dan mengancam target swasembada protein nasional.
Mengapa Ini Penting
Kasus ini menjadi ujian nyata bagi arsitektur ketahanan pangan Indonesia. Harga ayam yang terus di bawah HAP mengancam keberlangsungan peternak rakyat yang memasok mayoritas kebutuhan ayam broiler nasional. Jika mereka gulung tikar, ketergantungan pada impor daging ayam atau sumber protein lain akan meningkat di tengah tekanan APBN dan pelemahan rupiah. Ini juga menguji efektivitas program MBG yang membutuhkan pasokan protein hewani murah dan berkelanjutan.
Dampak ke Bisnis
- Peternak rakyat (skala kecil-menengah) menjadi pihak paling terpukul. Kerugian per ekor mencapai Rp10.000-Rp14.000 memaksa mereka mengurangi populasi atau berhenti beternak. Data Permindo menunjukkan kerugian hingga ratusan juta rupiah untuk peternak dengan populasi besar. Tanpa intervensi, banyak peternak bisa keluar dari bisnis, mengancam pasokan ayam nasional.
- Industri hilir seperti rumah potong ayam, distributor, dan ritel akan merasakan dampak pasokan berkurang dalam 2-3 bulan ke depan. Jika pasokan menyusut, harga di konsumen justru bisa melonjak, memicu inflasi pangan dan menekan daya beli rumah tangga.
- Pemerintah menghadapi dilema fiskal. Menyerap kelebihan ayam lewat Bulog atau BUMN Pangan membutuhkan anggaran di tengah defisit APBN yang sudah lebar (Rp240 triliun per Maret 2026). Sementara itu, mengabaikan peternak rakyat berisiko menyebabkan krisis produksi yang berujung pada lonjakan harga daging ayam di masa depan, memicu tekanan inflasi yang lebih besar.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: realisasi penyerapan ayam oleh Bulog atau BUMN Pangan. Jika pemerintah mengalokasikan anggaran untuk membeli ayam peternak di harga wajar, tekanan harga bisa segera mereda dan peternak bisa bertahan.
- Risiko yang perlu dicermati: kenaikan biaya pakan lebih lanjut akibat pelemahan rupiah dan harga jagung global. Jika hal itu terjadi, HPP akan semakin tinggi dan kerugian peternak membesar, mempercepat kontraksi produksi.
- Sinyal penting: integrasi produk unggas ke dalam program MBG. Jika Kementerian Sosial/BGN mulai memesan ayam dari peternak rakyat untuk program makan gratis, hal itu bisa menciptakan permintaan tetap yang membantu stabilisasi harga jangka panjang.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.