13 JUN 2026
Gross Split Batal untuk Minerba — Industri Nikel Bernapas Lega di Tengah Tekanan Biaya
← Kembali
Beranda / Kebijakan / Gross Split Batal untuk Minerba — Industri Nikel Bernapas Lega di Tengah Tekanan Biaya
Kebijakan

Gross Split Batal untuk Minerba — Industri Nikel Bernapas Lega di Tengah Tekanan Biaya

Tim Redaksi Feedberry ·9 Juni 2026 pukul 09.51 · Sumber: Kontan ↗
8 Skor

Kepastian regulasi fiskal sangat krusial bagi kelangsungan investasi hilirisasi nikel yang sudah tertekan lonjakan biaya operasional dan tantangan global; dampak sistemik ke sektor hilir baterai EV dan penerimaan negara.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
9

Ringkasan Eksekutif

Pemerintah memastikan skema gross split hanya akan berlaku untuk sektor minyak dan gas bumi (migas), tidak untuk mineral dan batu bara (minerba). Kepastian ini disambut positif oleh Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), yang menilai langkah tersebut menjaga daya saing investasi dan keberlanjutan program hilirisasi di tengah tekanan biaya operasional yang terus meningkat dalam 18 bulan terakhir. Industri nikel saat ini menghadapi beban berlapis: kenaikan tarif royalti menjadi efektif 14% hingga 19%, peningkatan Harga Patokan Mineral (HPM), rencana penerapan Global Minimum Tax (GMT), perlambatan proses restitusi pajak yang mengganggu arus kas, serta lonjakan harga sulfur akibat konflik Iran dan gangguan di Selat Hormuz.

Harga sulfur melonjak dari sekitar US$400 per ton menjadi mendekati US$1.300 per ton, yang diperkirakan menambah biaya produksi HPAL sekitar US$4.000 per ton nickel equivalent. Lonjakan ini langsung menekan margin smelter yang menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), terutama di kawasan industri nikel Sulawesi dan Maluku. Rupiah yang melemah ke Rp18.136 per dolar AS (berdasarkan data pasar) semakin memperberat biaya impor bahan baku seperti sulfur dan peralatan pabrik. Ditambah dengan tekanan dari perkembangan teknologi baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang mengurangi intensitas permintaan nikel global, industri nikel Indonesia benar-benar membutuhkan stabilitas fiskal untuk tetap menarik bagi investor.

Jika gross split diterapkan di sektor nikel, Ketua FINI Arif Perdana Kusumah memperingatkan bahwa Internal Rate of Return (IRR) proyek bisa turun signifikan, membuat proyek baru dan rencana ekspansi menjadi tidak layak secara ekonomi. Keputusan pemerintah untuk tidak menerapkan gross split di minerba menjadi sinyal penting bahwa pemerintah memahami karakteristik unik industri pertambangan mineral yang berbeda dengan migas, dan berkomitmen menjaga iklim investasi hilirisasi yang sudah berjalan. Namun, tekanan biaya yang sudah ada tetap perlu diatasi agar daya saing Indonesia tidak tergerus oleh negara produsen nikel lain seperti Filipina atau Kaledonia Baru.

Mengapa Ini Penting

Kepastian ini adalah fondasi kelangsungan investasi hilirisasi nikel senilai puluhan miliar dolar di Indonesia. Tanpa kepastian fiskal, investor bisa menunda atau membatalkan ekspansi di saat industri sudah tertekan oleh biaya tinggi dan pergeseran teknologi baterai. Ini juga menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak akan mengubah rezim fiskal secara sepihak, yang penting untuk kredibilitas Indonesia sebagai tujuan investasi jangka panjang.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten nikel hilir (smelter HPAL) mendapat kejelasan regulasi yang memungkinkan perencanaan investasi jangka panjang tanpa risiko perubahan fiskal mendadak. Namun, tekanan biaya dari royalti, sulfur, dan kurs tetap menjadi beban yang harus dikelola.
  • Kontraktor tambang dan penyedia jasa pertambangan (seperti pemasok alat berat dan logistik) ikut diuntungkan karena proyek ekspansi smelter bisa berlanjut, menjaga permintaan jasa mereka di wilayah timur Indonesia.
  • Industri baterai global yang bergantung pada pasokan nikel Indonesia, seperti produsen baterai asal China dan Korea Selatan, mendapat sinyal positif bahwa rantai pasok mereka tidak akan terganggu oleh perubahan kebijakan fiskal yang tiba-tiba.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons investor asing dalam 1-2 bulan ke depan — apakah ada pengumuman investasi baru di sektor nikel setelah kepastian ini, misalnya dari CATL, LG, atau Hyundai.
  • Risiko yang perlu dicermati: perkembangan konflik Iran dan dampaknya ke harga sulfur — jika harga tetap di atas US$1.000 per ton, margin smelter HPAL akan terus tertekan, mengurangi efektivitas keuntungan dari pembatalan gross split.
  • Sinyal penting: arahan teknis Kementerian ESDM mengenai tarif royalti dan HPM untuk periode berikutnya — jika ada penurunan, akan menjadi katalis positif tambahan bagi industri nikel.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.